Latest News

Showing posts with label Pendidikan politik. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan politik. Show all posts

Wednesday, November 17, 2010

"Seandainya Obama...bagi Indonesia dan dunia?"

Bukankah  Jakarta tanpa Obama juga macet, boss!�, ungkapku sambil tersenyum mengejek temanku yang terlehat lelah matanya karena terlalu banyak kampus tempat dia mengajar�.�Bukan Obama hebat banget  bisa mempengaruhi pekerjaan kita seharian ini..he..he dan secara ekonomi-pun entah apa yang diuntungkan dengan kehadiran presiden kulit hitam pertama Amerika�

Seandainya Kemitraan sejajar dengan Indonesia?

Kehadiran obama heboh sampai temanku sehabis ngajar berpendapat :� be�sok gila,  ada obama, gua sulit keluar  untuk ngajar ke Uhamka, macrret Jakarta..!!!

Itulah obrolan kecil seiring dengan hari pahlawan  jangan-jangan selain memberi bintang kehormatan kepada Ibunda Obama ini berlanjut memberikan gelar pahlawan dan menyematkannya menjadi jalan dimana keluarga Obma pernah tinggal.  Padahal Pak Harto-pun sedikitpun tidak ada jasanya bagi yang pernah kecewa kepada Orde Baru, padahal orang Indonesia ini terkenal pemaaf seperti kita memaafkan para imperialisme Belanda, Jepang, Spanyol, dll  dan neo-imperialisme AS, atau melupakan dukungannya terhadap zionisme Israel. Jangan �jangan bangsa ini sedang mengalami krisis harga diri dengan bersimpuh dibawah bayang-bayang hegemoni negeri yang punya rencana konspirasi  menancapkan kekuatannya di Asia, kata para analisis media.

Jangan-jangan "Bang Berry" sendiri sedikitpun tidak bermaksud ke jakarta begitu hanya sekedar bernostalgia saja ke jakarta dan ketempat kelahirannya yang juga tidak masuk agenda kunjungannya ke Asia yang batal terus dan civitas akademika UI akan dikunjungi hari ini untuk kuliah umum Obama yang didampigi PM Australia. Bahkan sekedar berkunjung ke SD-nya dulu pernah belajar.

�Barry, singgahlah meski cuma sekejap.� Itulah harapan ratusan murid SDSN Menteng 01 Jakpus dimana Presiden AS Barack Obama pernah bersekolah. Meski hingga kini belum ada pemberitahuan kemungkinan Obama mampir, pihak sekolah tetap melakukan persiapan. Gudangnya para aktivis-pun diam seribu basa mengikuti dunia yang terbungkam oleh pesona Obama yang ingin mencerahkan para calon menteri dan birokrasi Indonesia, bahkan para Rector-pun diundang dan hanya orang tertentu yang bisa hadir dengan orasi ilmiah sang hero dunia ini.

BUKTINYA : Persingkat kunjungannya
Para ahli mengatakan, abu vulkanik dapat mengakibatkan malapetaka pada mesin pesawat jet seperti Air Force One.
 Maka Para pejabat Pemerintah AS, Selasa malam, mengatakan, kunjungan singkat Obama yang tidak sampai 24 jam itu akan dipersingkat lagi dua jam. Acara Obama di Indonesia
  1. Acara peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, terpaksa akan dibatalkan.
  2. Ceramah umum di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, juga akan dimulai sedikit lebih awal.
  3. Berdasarkan rencana semula, agenda Obama pada hari kedua ini adalah berkunjung ke Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara, lalu ke Kampus UI dan TMP Kalibata.
  4. Dari Kalibata, Obama langsung ke Bandara Halim PerdanakKusuma untuk kemudian meninggalkan Indonesia menuju Korea Selatan menghadiri KTT G-20. Kunjungan 10 hari Obama ke Asia yang dimulai di India pada 6 Sempter lalu akan berakhir di Jepang pada 14 November mendatang.
BIASA : Pro kontra
Kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama ke Tanah Air menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Bahkan sejumlah mahasiswa dan organisasi massa berbasis agama dijadwalkan akan menyambut orang nomor satu Negeri Adidaya ini dengan aksi unjuk rasa.Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani  (detiknews.com, 10/11/2010)  menganggap wajar ada sejumlah kelompok masyarakat yang menolak kedatangan Obama, tentu semua beralasan. "Pro kontra terjadi karena simbolisasi Presiden Amerika yang menimbulkan konflik di Afganistan, Irak, Palestina. Hal ini yang menjadi Amerika ditolak," beber Muzani.

Dengan entengnya,  Duta Besar Amerika Serikat William P Turchrello mengaku bahwa tak mempermasalahkan banjirnya demonstrasi saat kedatangan Barack Obama di Indonesia. "Ini poin demokrasi, sekarang di Indonesia ada demokrasi, beberapa orang suka, beberapa orang tidak suka, tidak apa-apa (Okezone, (8/11/2010) . Mengenai pembakaran Bendera Amerika yang kerap terjadi di Tanah Air, dia juga mengatakan hal tersebut tidak masalah, begitu pula saat ditanya mengenai ancaman aksi terorisme.
"Sekarang Indonesia sudah aman, tidak apa-apa," imbuhnya. Seperti diketahui, Presiden Obama dipastikan akan tiba di Indonesia hari ini, setelah dua kali rencana kunjungannya batal. Obama direncanakan akan berada di Indonesia selama dua hari.
Yang demo, Sehari jelang kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia, Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (FAM UI), menggelar demo di depan Stasiun KA Universitas Indonesia, kemarin. Rencananya Obama akan memberikan kuliah umum di kampus ini tepatnya hari ini. Sekitar 50-an mahasiswa terlibat dalam demo  yang diwarnai dengan  aksi menginjak-injak bendera AS dan membakar foto Presiden AS. �Tolak kedatangan Obama ke Indonesia,� teriak Kevin Dian, salah satu demonstran.

Berdasarkan pantauan, penjagaan oleh TNI dan Polri di kampus UI seluas 300 an hektar itu sudah dimulai sejak kemarin. Aparat menutup 16 titik pintu masuk ke UI. Sejumlah senjata berat juga tampak di sudut kampus termasuk di lapangan bola. Kemungkinan Obama akan datang ke kampus ini menggunakan helikopter dan mendarat di lapangan bola. Meski demikian kegiatan belajar mengajar di kampus ini tetap berlangsung.

Sementara HTI dengan Ribuan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi damai menolak kedatangan Presiden Barack Obama, Minggu (7/11/2010). Lokasi demo dari sekitaran Bundaran HI mengarah ke Kedubes AS di Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Sedari awal telah menolak segala bentuk penjajahan ..untuk mengigatkan silahkan dicek di UUD. Maka untuk seorang obama yang jelas jelas penjajah negeri muslim untuk apa kita menerimanya. Demo ini adalah wujud kesadaran bahwa setiap muslim bersaudara maka kepedulian itu nyata terlihat dari penolakan kedatangan seseorang yang jelas jelas memusuhi umat Islam. Lagi pula HTI dalam aksi damainya tadi siang juga melakukan penggalangan dana untuk saudara saudara di merapi, mentawai inilah bukti bahwa HTI tidak lupa terhadap saudara yg saat ini terkena musibah...Mari beranilah untuk membuka mata dan pikiran , menerima kebenaran lihatlah jangan pura-pura tidak tahu fakta pada kenyataannya amerika telah mengambil banyak kekayaan negeri ini,cepu, blok natuna, freeprot. Kerjasama yang terbentuk hanya merugikan indonesia. jika anda mengaku peduli terhadap negeri ini maka tolak , tolak, tolak obama. Beranilah menerima kebenaran..karena saat kau mnerima kebenaran dirimu bukanlah pengecut tetapi pemberani.

 Lain mahasiswa dan HTI, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta agar kaum muslimin Indonesia tidak menolak kedatangan Presiden AS Barack Obama. Penolakan ini bertentangan dengan etika Islam juga etika diplomasi internasional.

"Saya berharap, jangan ada kaum muslimin Indonesia yang menolak kedatangan Obama di Indonesia. Selain bertentangan dengan etika Islam juga bertentangan dengan etika diplomasi internasional," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi (http://www.detiknews.com/, 15/3/2010). lebih lanjut, Menurut Hasyim, tidak ada aturan dalam Islam untuk menolak tamu, apalagi  dalam kapasitas diplomasi internasional. Rasulullah SAW mengajarkan 'berhubungan diplomatik' dengan agama lain termasuk Yahudi.Lanjut Hasyim, Obama telah menunjukkan kemauan baik dalam memperbaiki hubungan AS dengan dunia Islam, sekalipun hasilnya belum maksimal. Sementara, Hasyim juga mengeritik upaya pemberantasan teroris jika hanya untuk menyenangkan AS. Pemberantasan teroris seharusnya dilakukan untuk kepentingan nasional dan kemanusiaan.

Hasyim menambahkan, belakangan terdengar suara-suara yang mau meminta hadiah dari pemberantasan terorisme. Menurutnya pemberantasan terorisme harus berdasarkan proses hukum, bukan karena iming-iming. "Sungguh merendahkan martabat bangsa, dan dugaan saya Amerika pun akan mencibir kita. Sungguh, sifat cari muka serta sifat inlander harus segera kita tinggalkan demi martabat bangsa," tegasnya.

MIMPI KALI : "Seandainya Obama"
Seandainya kedatangan obama bisa memperbaiki persepsi tentang pengelolaan Freeport yang hanya 9% disumbangkan kenegeri pemiknya, seandainya keberadaan Freeport lebih meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi bumi Papua, bukan tujuan kehadirannya  lain yang ingin merubah ekspor dari AS menjadi no 1 kita ketahui Amerika Serikat hanya mengekspor barang seharga 6 miliar dolar AS (antaranews.com) ke Indonesia setiap tahun, sehingga menjadikannya pasar terbesar ke-37 bagi Amerika, demikian keterangan dari Kamar Dagang AS.

Banyak seandainya Obama yang katanya  mau singgah ke Al-Azhar mengucapkan dua kalimah syahadat seperti Agama ayahandanya  dan seandainya dukungan ke Israel dicabut sebagai bukti ingin memperbaiki hubungan baik dengan kaum muslimin dunia, Obama masih mendapat dukungan kuat di Indonesia, sekalipun kepercayaan pada dia telah merosot di negara Muslim lain sejak ia berpidato di Kairo, Mesir, Juni 2009.

Perang yang lama dilancarkan AS di negara Muslim --Afghanistan dan Irak-- telah telah membuat dia kehilangan dukungan di kalangan umat Muslim, dan tak ada kemajuan dalam perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina, yang juga menggerogoti dukungan buat dia Presiden AS Barack Obama dalam kunjungannya  kembali memberikan nuansa berbeda dan menyejukan umat Islam dengan mengucapkan Assalamualaikum dalam jumpa pers di Istana Merdeka. ketika menjawab CNN tentang bagaimana cara Amerika Serikat merangkul masyarakat muslim. Ditegaskannya, langkah AS tidak akan fokus terhadap masalah keamanan. Namun, kata Obama, untuk merangkul masyarakat muslim adalah lewat tukar-menukar tenaga pengajar dengan negara muslim. Nantinya, lanjut dia, masyarakat AS dan Barat dapat memahami budaya muslim secara lebih komprehensif.

Tentu saja seandainya para petinggi negeri ini tidak mengap-mengap memohon kehadiran �My hero Obama� untuk pencitraan kalau Indonesia mendunia dalam Konferensi Pers antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dimulai. Bahkan  konfrensi pers kemarin bapak SBY menyebut Rakyat Indonesia menanti kedatangan Obama."Kita kedatangan tamu dari Presiden Obama yang saya undang. Kedatangan Presiden Obama sangat dinantikan rakyat Indonesia," kata SBY dalam pidatonya di Istana Merdeka kemarin, Jakarta, Selasa (9/11). Dalam sambutannya SBY juga menyebut kedatangan Obama yang pertama kali ini merupakan kehormatan bagi rakyat Indonesia. Seperti diketahui, Obama sudah tiga kali merencanakan datang ke Indonesia. Yang ketiga kali inilah akhirnya Obama datang ke Indonesia.

Seandainya penyambutan my hero ini tidak berlebihan sehingga teap harga diri bangsa ini terjaga dan pak SBY-pun masih kebanggaanku karena akupun memilihnya dan aku konsisten dengan pilihanku ini yang terbaik dan tidak mengecewakanku, baik buruk dan mengap-mengap sekalipun tetap pak SBY my heroku, bukan sang Barak. Sekali lagi terlalu berlebihan dibanding menerima presiden atau kepala negara lain saat berkunjung ke Indonesia. Seharusnya, pemerintah Indonesia tidak perlu melakukan hal semacam itu, "Karena semua presiden atau kepala negara itu sama. Pemerintah harus mengoreksi diri," sebagaimana yang dilansir wakil ketua komisi I tubagus Hasanuddin (http://www.primaironline.com/) Perlakuan istimewa oleh pemerintah Indonesia terlihat dari penyambutan Presiden George W Bush tahun 2006. Penyambutan tersebut dilakukan secara berlebihan dan dilakukan di Istana Bogor. Juga pasukan yang dikerahkan untuk berjaga-jaga hampir tiga perempat kekuatan yang dimiliki Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya.

Juga kedatangan Obama di Indonesia hari ini, semua persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Di Bandara Halim Perdanakusuma, pasukan pengamanan dan kendaraan tempur disiagakan.Dari sisi peliputan oleh media massa, juga terlihat hal yang mencolok. Wartawan dari berbagai media cetak, elektronik dan televisi dibagi-bagi atau dikelompokkan menjadi beberapa bagian, tidak seperti kedatangan Perdana Menteri Australia Julia Gillard Lalu bagaimana dengan kedatangan Presiden Austria yang dijadwalkan hari ini berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden SBY.

Pemerintah Indonesia tidak seolah tidak peduli dengan segala tetek bengek untuk melakukan penyambutan, pengamanan, peliputan dan sebagainya terhadap kedatangan Presiden Austria tersebut, padahal sama-sama seorang presiden. Apakah Amerika Serikat negara besar, berpengaruh sehingga ada perlakuan khusus atau istimewa dari Indonesia?

Seandainya temanku yang mau mengajar di Uhamka tidak kena macet dan jakarta seperti biasa saja menyambutnya, saya yakin Indonesia teap indonesia siapapun tidak boleh ada yang macam-macam dan tidak lebay dibuatnya. � siapa yang lebay kata temanku ?�tanya temanku terheran-heran. �Tahu, ah..gelap�

Sumber :
www.detiknews.com/.
http://www.poskota.co.id/
http://www.antaranews.com/
www.okezone.com
http://www.primaironline.com/

Friday, October 22, 2010

Politik dan Pendidikan Islam

Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir

Oleh: Nuim Hidayat
�Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu, kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.� [Khalifah Abdul Malik bin Marwan]

Tahun 60-an ada perbincangan yang menarik antara Prof Deliar Noer dengan Kiai Zarkasyi. �Cuma ada pesan saya... kan pak Natsir tidak boleh berpolitik,� kata Kiai Zarkasyi kepada Deliar Noer. �Sekurang-kurangnya walau tak resmi, namun langkahnya dalam berpolitik terlambat. Saya ada pesan,� lanjutnya, dan minta agar disampaikannya ke Pak Natsir. �Saya ingat Ki Hajar Dewantoro,� kata Kiai Zarkasyi. �Setelah ia kembali dari Belanda dan tidak boleh bergerak aktif dalam bidang politik, ia membatasi dirinya bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa, dan ia berhasil dengan usahanya ini. Saya berpikir apakah setidaknya Pak Natsir tidak berbuat hal yang seperti ini,� kata Kiai Zarkasyi. �Ia seorang pemimpin: bisa di bidang politik dan sosial. Tetapi asalnya juga dari bidang pendidikan.�

Dan, Kiai Zarkasyi menyebut-nyebut kegiatan Natsir di zaman Belanda dengan sekolah-sekolah Pendis-nya (Pendidikan Islam) di Bandung, terdiri dari TK, HIS, MULO dan HIK. Menurut Kiai Zarkasyi, Pendis ini sedikit banyak berhasil. �Kalau tidak Jepang masuk,� tambahnya,�tentu sekolahan tersebut akan berkembang.�

�Dan kini dalam bidang politik, Pak Natsir mendapat hambatan,� sambung pendiri Gontor ini. �Alihkan perhatian penuh ke bidang yang agaknya lebih perlu dikelola,� katanya tegas. �Dan saya harap,� sambungnya, �Saudara menyampaikan ini kepada beliau.�

Ia menambahkan bahwa orang seperti Pak Natsir, dana pun akan tiba. Dan dengan pendidikan, usahanya akan lebih nyata, kebebasan juga akan lebih terpelihara... Begitu saya kembali dari Gontor, permulaan tahun 1970-an itu, pesan Kiai Zarkasyi sempat saya sampaikan kepada Pak Natsir. (Prof. Dr. Deliar Noer dalam KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, Gontor Press, 1996, 643-644).

Politik

Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir. Dalam pemilihan ketua partai (kecuali sebagian kecil), bupati, gubernur, bahkan presiden, uang menjadi faktor utama penentu keberhasilan. Bukan ilmu, kapabilitas calon, dan adab atau akhlak yang baik yang dimiliki sang calon.

Padahal ilmu dan adab pemimpin politik itu menjadi syarat utama dalam memimpin masyarakat. Ulama Melayu terkemuka, Syekh Ahmad al Fathani mencirikan sifat-sifat yang mesti dimiliki pemimpin politik. Di antaranya: sempurna anggota (indera), baik budi pekerti, baik kefahaman, cerdik/bijaksana, faham terhadap sekalian ilmu, terutama ilmu berhitung dan ilmu tarikh, benar dalam perkataan dan menjauhkan kebohongan, elok perlakuan muamalat, berkelakuan yang lembut, dalam perjumpaan selalu memberikan kelapangan, tidak tamak pada makanan, minuman dan perkawinan, menjauhi bermain-main dalam segala urusan, mempunyai ketinggian himmah (cita-cita), bersungguh-sungguh pada membangun kerajaan, mencintai keadilan, benci kezaliman, mempunyai hati yang tabah dan berani, dan mengetahui sekalian muslihat.�

Pentingnya ilmu politik ini, dikemukakannya pada kitab Hadiqatul Azhar: �Muhimmah, pada bicara ilmu siasat (politik). Yaitu ilmu memperbaiki rakyat dengan menunjukkan mereka itu kepada jalan yang melepaskan mereka itu daripada tiap-tiap kekeruhan pada dunia dan akherat... maka hukumnya ilmu itu wajib kifayah.� (Wan Mohd Saghir: 1992, 103).

Masalahnya, dalam ilmu politik sekuler saat ini, masalah akhirat tidak dimasukkan sebagai urusan negara. Akhirat tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan politik dan inilah awal malapetaka politik di Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya. Sehingga suap, ingkar janji, kebohongan, hasad, tamak, dan riya� menjadi tontotan politik sehari-hari.

Padahal dahulu bila para ulama memberikan nasehat kepada raja atau sultan, selalu diawali dengan nasehat agar para pemimpin itu mula-mula bertakwa kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya, dan seterusnya. Dulu, dalam sejarah Islam, Jendral Abdullah bin Husain, ketika menasihati anaknya, maka dia menulis agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin, dan sebagainya. Apakah ada jenderal sekarang ini yang menasihati anaknya demikian? Juga ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib menasihati kepada gubernurnya. Ia menasihatkan tentang pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, perhatian kepada orang miskin, jangan terpengaruh godaan dunia, dan lain-lain. Apakah ada sekarang ulama atau pejabat yang menasihatkan seperti itu?

Politik dan Pendidikan Islam

Dalam era kehidupan politik yang sekuler saat ini, juga ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang. Pemimpin-pemimpin ini hanya mampu mengulang-ulangi praktek pendidikan yang yang datang atau dipengaruhi sepenuhnya oleh Barat. Intelektual terkemuka Melayu, Syed Muhammad Naquib al Attas mengemukakan dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin: �Saluran yang melancarkan penyelundupan faham-faham asasi yang asing itu adalah sistem pembelajaran dan pendidikan yang dikuatkuasakan oleh kuasa-kuasa politik serta gejala-gejala pentadbirannya, dan seterusnya, dibantu oleh golongan para guru dan pensharah dan golongan penulis yang menyamarkan faham-faham itu sebagai hasil sastera. Dan betapakah lagi kacaunya andaikata orang-orang yang mewakili kuasa-kuasa tersebut, dan guru dan pensharah dan penulis itu tiada pula memahami serta mengenali dan mengetahui benar-benar sifat serta hakikat kandungan faham-faham yang dikuatkuasakan dan dianjurkannya itu!

Kaum Muslimin harus insaf bahwa sebahagian besar mereka yang memainkan peranan dalam menyebarkan kekeliruan dan kepalsuan ini �baik pun secara disadari maupun tiada disadari�merupakan orang-orang yang bukan saja tiada memahami serta mengenali dan mengetahui benar ilmu kebudayaan Barat, bahkan jua yang tiada mempunyai ilmu keislaman, dan yang pengetahuan serta amalan Islamnya sangat-sangatlah menyedihkan sebab sekadar yang bertaraf kebudak-budakan belaka. Padahal golongan-golongan ini dibiarkan �malah diberi amanah�oleh kaum Muslimin untuk memimpinnya dalam pelbagai lapangan kehidupan!�

Lebih lanjut Prof al Attas menasehatkan: �Janganlah hendaknya kau fikir �wahai saudaraku Muslimin�bahwa sekarang ini kononnya dengan tersingkirnya ciri-ciri zahiriah kolonialisme kebudayaan Barat, pemimpin-pemimpin kita yang Islam yang telah kita amanahkan untuk menjalankan tugas membimbing masyarakat kita itu, memang benar-benar menunaikan tugas mereka dengan secara yang tiada berlawanan dengan Islam. Kau harus insaf bahwa kebanyakan mereka itu mewarisi ilmu serta cara berfikir kolonial yang jahil terhadap Islam. Mereka belum lagi berhasil menunaikan syarat-syarat serta pencapaian ilmu yang fardhu ain di sisi Islam, dan boleh dikatakan langsung sunyi daripada ilmu pengetahuan Islam yang harus dianggap sebagai fardhu kifayah yang terutama bagi mereka, maka betapakah dapat mereka itu menghindarkan diri dan masyarakatnya terpesong (terperosok) ke jalan yang sesat!�

Dalam bidang ilmu pengetahuan yang merujuk kepada pendidikan dan pelajaran, kata al Attas, pemimpin-pemimpin kita yang bertanggungjawab mengenainya tiada sadar bahwa banyak yang diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajian tinggi itu bukanlah ilmu pengetahuan, akan tetapi ilmu yang batil yang berselaputkan dugaan yang mensia-siakan masa dan mengelirukan fikiran dan diri penuntutnya.

Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA UKM Malaysia, menjelaskan lebih jauh, bahwa perubahan yang terpenting dalam pendidikan adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi. S3, S2 dan S1. �Ini bukan bersifat elitis yang negatif, tapi elitis yang stratejik. Pendidikan mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Semua anbiya� diturunkan untuk mengajar kepada orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof Al-Attas ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya universitas. Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai kantor juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas.�

Sejarah Islam

Dalam zaman Umawiyah tampak sekali bahwa tujuan pendidikan selain untuk kepentingan agama juga untuk kepentingan sosial. Umpamanya Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya, �Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.� Orang mengetahui bahwa pada waktu itu banyak ulama mengajar anak-anak khalifah dan orang-orang dari kelompok atas, syair, sejarah, juga sejarah orang-orang Arab, nenek moyang mereka, dan tindakan-tindakan mereka yang hebat-hebat.

Adapun dalam zaman Abasiyah, maka kedudukan ulama adalah tinggi sekali. Para khalifah menghormati para ulama dan ditempatkan pada tempat yang tinggi sesuai dengan ilmunya. Inilah sebabnya mengapa orang giat belajar supaya mereka memperoleh kedudukan yang baik. Perlu diketahui bahwa para ulama itu pada umumnya dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat biasa. Lalu mereka meningkat karena ilmunya kepada tingkatan yang tinggi.

Ahli syair Abul Itahiyah asalnya adalah tukang batu, Abu Tamam asalnya adalah penjual air di masjid Amr. Ayah Bashar adalah orang yang membikin alat dari tanah, al Jahiz penjual roti dan ikan, az Zajjaz tukang menulis di kaca, dan bapak al Ghazali penenun bulu. (KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, hal. 928).

*)Penulis sedang melanjutkan studi pada program doctor di UKM, Malaysia