Latest News

Showing posts with label Agamis. Show all posts
Showing posts with label Agamis. Show all posts

Friday, August 26, 2011

Merayakan Ulang Tahun Dalam Pandangan Islam

Apakah Anda termasuk orang yang suka merayakan ulang tahun atau suka menghadiri ulang tahun teman. Merayakan ulang tahun untuk memperingati hari kelahiran sekarang ini sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat terutama para remaja dan anak-anak. Berbagai acara di lakukan dari yang sederhana tiup lilin potong kue lalu makan bersama sampai acara yang besar sampai menghabiskan sejumlah dana pikiran dan tenaga. Ada pula yang merencanakan membuat acara heboh kepada temannya yang akan ulang tahun, misalnya menyiram dengan tepung, melempari telur dan berbagai macam kegiatan yang menurut mereka bisa bikin heboh, kesan?
Bagaimana pandangan Islam terhadap acara merayakan ulang tahun? Sebagai muslim kita berkwajiban mengetahuinya agar kita tidak latah mengikuti apa saja yang dilakukan orang lain tanpa mengetahhui dasanya. Sebagaiman kita juga pahami bahwa Islam itu adalah agama yang sudah sempurna ketika ditinggalkan oleh Rasululloh. Ini jelas dapat ditemukan dalam Al-Qur'an Surat Alamidah ayat 3, yang terjemahannya demikian: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni�mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.� (QS. Al Ma�idah [5] : 3)Kesempurnaan Islam tidak hanya mengatur urusan salat, puasa dan ibadah wajib lain, tetapi juga mencakup dalam semua aspek kehidupan manusia. Dan Rasululloh heruslah menjadi satu-satunya teladan bagi umat Islam. Dalam hal memperingati ulang tahun jika kembali kepada ajaran Isalam, Rasululloh tidak pernah mengajarkannya, dan dalam Islam hari yang dirayakan sebagaiman yang diajarkan nabi adalah Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, dan dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Alloh, mengumandangkan puji-pujian, berzikir, mengagungkan asma Alloh Subhanhu Wata'ala. Karena itu para ulama banyak yang tidak setuju dengan perayaan ulang tahun, dengan alasan sbb;
1. Ulang tahun bila sampai menjadi keharusan untuk dirayakan dianggap sebuah bid�ah.
Sebab Rasulullah SAW belum pernah memerintahkannya, bahkan meski sekedar mengisyaratkannya pun tidak pernah. Sehingga bila seorang muslim sampai merasa bahwa perayaan hari ulang tahun itu sebagai sebuah kewajiban, masuklah dia dalam kategori pembuat bid�ah.
2. Ulang tahun adalah produk non muslim
Selain itu, kita tahu persis bahwa perayaan uang tahun itu diimpor begitu saja dari barat yang nota bene non muslim. Sedangkan sebagai muslim, sebenarnya kita punya kedudukan yang jauh lebih tinggi. Bukan pada tempatnya sebagai bangsa muslim, malah mengekor Barat dalam masalah tata kehidupan.
3. Apakah Manfaat Merayakan Ulang Tahun? Selain itu perlu juga kita renungkan sebagai muslim, apakah tujuan dan manfaat sebenarnya bisa kitadapat dari perayaan ini? Adakah nilai-nilai positif di dalamnya? Ataukah sekedar meneruskan sebuah tradisi yang tidak ada landasannya? Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang? Pertanyaan berikutnya,adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu atau amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertanyaan berikutnya dan ini akan menjadi sangat penting, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar? Yang terkahir namun tetap penting, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini �harus� dilakukan?
Nah itulah teman-teman sedikit renungan yang perlu kita lakaukan menyikapi semakin maraknya pesta ulang tahun di tengah-tengah masyarakat yang notabene juga saudara-saudara kita muslim.

Saturday, November 20, 2010

Menyikapi Musibah Bencana Alam

Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan bahkan merasakan semakin sering terjadinya bencana alam dan fenomena alam yang kacau. Mulai dari puting beliung, banjir, semburan gas, gunung meletus, gempa bumi, stunami, curah hujan yang tidak menentu. Bencana demi bencana seolah tiada henti datang silih berganti mendera bangsa ini. Kejadian dan fenomena ini mendatangkan kepanikan, karena bukan saja telah menimbulkan kehancuran dan kerugian material-finansial yang luar biasa, tetapi juga menelan korban jiwa ratusan ribu dan mengancam keselamatan umat manusia.
Berbagai tanda tanya dan kemungkinan muncul dari masyarakat awam; mungkin bumi sudah tua dan mendekati kehancuran, mungkin kiamat sudah dekat, mungkin juga peringatan kepada manusia yang sudah melupakan sang pencipta.
Dari kaca mata para pakar, fenomena alam yang kacau ini disebabkan terus meningkatnya pemanasan global dan perubahan iklim. Pemanasan global merupakan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat dari menipis dan rusaknya lapisan ozon di atmosfir bumi. Pemanasan global menyebabkan mencairnya salju di kutub dan memicu naiknya permukaan air laut, sehingga lambat laun sebagian daratan akan tergenang air laut. Perubahan pola iklim dunia mengakibatkan suatu daerah mengalami pemanasan tetapi di daerah lain mengalami pendinginan yang tidak wajar. Akibat kacaunya arus panas dan dingin mengakibatkan fenomena perubahan cuaca yang tidak menentu, arah angin yang berubah drastis sehingga sering menimbulkan puting beliung.
Dipandang dari sisi agama, musibah bencana yang seolah tanpa jeda ditambah musibah kecelakaan transportasi yang juga sangat sering terjadi bukan fenoma alam semata yang menjadi penyebabnya, tetapi lebih disebabkan prilaku manusia sendiri. Manusia telah melakukan kerusakan di muka bumi, bukan hanya merusak fisik bumi dengan eksploitas berlebihan tetapi juga telah rusak moral-kepribadiannya. Demi mencapai kepuasan, manusia tidak lagi mengindahkan nilai dan norma agama, dekadensi moral melanda semua lapisan masyarakat, dari rakyat sampai pejabat. Keserakahan dan kerakusan manusia semakin menjadi jadi ketika kesejahteraannya makin membaik. Karena itulah Tuhan memberi peringatan keras kepada manusia dengan menurunkan bencana demi bencana agar manusia sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Mungkin Tuhan mulai enggan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai bosan bersahabat dengan kita, demikian Ebiet G Ade dalam sebuah tembang lawasnya, rasanya lagu itu sangat cocok untuk mengingatkan kita semua.
Jadi bencana demi bencana yang terjadi tentu bukan sekadar karena fenoma alam semata tetapi juga mengandung hikmah di dalamnya, mungkin merupakan peringatan bahkan mungkin juga hukuman karena manusia telah mengingkari nikmat yang telah Allah berikan, kita perlu menggunakan kerangka berfikir rasional dan renungan sesuai informasi yang dengan tegas disebutkan dalam Al-Quran:
"Dan Allah telah membuat suatuperumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat".
Semoga Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 112 tersebut menjadi renungan kita dalam menyikapi berbagai musibah bencana yang datang silih berganti menerpa bangsa ini.