Latest News

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

Teori - Teori Belajar


1. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya

Bahwa jiwa manusia mempunyai daya-daya. Daya ini adalh kekuatan yang tersedi. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya di rasakan ketika di pergunakan u ntuk sesuatu hal, misalnya daya xmengenal, daya mengingat, daya berfikir, daya fantasi dan sebagainya.

2. Teori Tanggapan

Teori taggapan adalah suatu teori belajar yang menentang teori belajar yang di kemukakan yang di kemukakan oleh ilmu jiwa daya menurut Herbert teori yang di kedepankan oleh ilmu jiwa daya tidak ilmiyah, sebab psikologi daya tidak dapat menernghan kehidupan jiwa.

3. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt

Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian, sebab keberadaan bagian-bagian itu di dahului keseluruhan

4. Teori Belajar R. Gagne

Gagne memberikan dua defenisi sebagai berikut :
  • Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku.
  • Belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang di peroleh dari intruksi.
5. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi

Teori Asosiasi di sebut juga teori sarbond, Sarbond singkatan dari Timulus, Respons, dan bon. Stimulus berarti rangsangan,Respons berarti tanggapan, Bond berrarti di hubungkan. Rangsangan di ciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian di hubungkan antara keduanya sdan terjadilah asosiasi.

DAFTAR PUSTAKA

    Faktor Yang Mempengaruhi Proses Dan Hasil Belajar



    1. Faktor Lingkungan

    Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang di sebut Ekosistem. Dua lingkungan yang pengaruh cukup signifikan terhadap belajar anak didik di sekolah :

    a. Lingkungan Alami
    • Pencemaran lingkungan hidup merupakan mala petaka bagi anak didik yang hidup di dalamnya.

    b. Lingkungan Sosial Budaya
    • Lingkungan social budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem sendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas.
    2. Faktor Intrumental

    Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan di capai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan,. Agar dapat mencapai ke arah itu di perlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisny. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus di manfaatkan sebaik-baik agar berdaya guna dan berhasil guna bagi kemajuan belajar anak didik di sekolah:
    • Kurikulum
    • Program
    • Sarana dan fasilitas
    • Guru
    • Kondisi Psikologis
    3. Kondisi Fisikologis

    Kondisi psikologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segarjasmaninya, akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

    4. Kondisi psikologis

    Emua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhio belajar seseorang. Berarti belajar bukanklah berdiri sendiri, terlepas dari factor lain seperti factor luar dan factor dari dalam. Factor psikologis sdebagai factor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak.

    Minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah factor-faktor psikologisyang utama mempengaruhiproses dan hasil belajar anak didik.

    a. Minat
    • Menurut slameto (1991 : 182), adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendir dengan suatu di luar dir. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat.
    b. Kecerdasan
    • Raden cahaya prabu (1986) perna mengatakan dalam mottonya bahwa :� Didiklah anak sesuai taraf umurnya, Pendidikan yang berhasilkarena menyelami jiwa anak didikny�. Yang menarik dari ungkapan ini adalah tentang umur dan menyelami jiwa anak didik.
    c. Bakat
    • Bakat merupakan faktoryang besar pengruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada yang membantah , bahwa belajar pada bidang yang sesai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.
    d. Motivasi
    • Menurut Noehi Nasution (1993 : 8 ) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisisi psikologis yang mendorong seorang untuk belajar. Penemuan � penemuan penelitian menunjukan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah.
    e. Kemampuan Kognitif
    • Dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau atau berdasarkan kesempatan yang diperoleh di masa lampau.
    DAFTAR PUSTAKA
    Tags : Faktor Yang Mempengaruhi Proses Dan Hasil Belajar, Yang Mempengaruhi Proses Dan Hasil Belajar, Proses Dan Hasil Belajar, Hasil Belajar

      Pengertian, Contoh dan Macam Proses Belajar


      A. Pengertian Belajar

      Kata belajar suda akrab dengan semua lapisan masyarakat.
      • Menurut James O, Whittker,Merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku di timbulkan atau di ubah m,elalui latihan atau pengalaman.
      • Drs. Slameto merumuskan pengertian tentang belajar, menurutntya belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
      • Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat pundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.
      • Belajar Skiner, yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya educational psychology the teaching-learning process, belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya B.F Skimer percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce)
      Chaplin dalam dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam Rumusan. Rumusan pertama berbunyi belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.


      Hintzman dalam bukunya menyatakan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. With dalam bukunya menyatakan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.

      Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, biasanya sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif. Kedua belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperbuat.

      Dalam definisi ini terdapat empat macam Istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar, antara lain :
      1. Relatively permanent, yang secara umum menetap
      2. Response potentiality, kemampuan bereaksi
      3. Reinforce,yang diperkuat
      4. Practice, Praktek atau latihan
      Biggs dalam Pendahuluan teaching for learning mendefinisikan belajar dalam 3 macam Rumusan, yaitu Rumusan kuantitatif, Rumusan institusional, Rumusan kualitatif.

      B. Contoh Belajar

      Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba memainkan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku �memutar� dan �meletakan� tersebut merupakan respon atau reaksi atas rangsangan yang timbul pada mainan itu.

      Pada tahap permulaan, respon anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan sempurna.

      Sehubungan dengan contoh itu belajar dapat dipahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.


      Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahantingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, efektif, dan psikomotor.

      C. Proses Belajar

      Dalam proses belajar aktivitas tertentu ataupun aktivitasnya adalah sebagai berikut:
      Proses dari bahasa latin �processus" yang berarti �berjalan ke depan� menurut Chaplin (1972) proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

      Dalam psikologi belajar proses berarti cara-cara/langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hail-hasil tertentu (Reber, 1988). Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa

      Fase - Fase dalam Proses Belajar

      Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang teori S.R Bond dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase, antara lain :
      • Fase informasi (tahap penerimaan materi)
      • Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
      • Fase evaluasi (tahap penilaian materi)
      Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan, antara lain :
      • Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi)
      • Storage (tahap penyimpanan informasi)
      • Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)
      1. Mendengarkan
      • adalah salah satu aktivitas belajar, setiap orang belajar di sesekolah pasti ada aktivitas mendengarkan. Ketika seorang guru menggunakan metode cerama, maka setiap siswa atau mahasiswa di haruskan m,endengarkan apa yang guru (dosen) sampaikan.
      2. Memandang
      • yang di magsud di sinio adalah mengarahkan suatu penglihatan ke suatu objek. Di kelas, seorang pelajar memandang papan tumlis yang berisikan tulisan yang baru saja di guru tulis, tulisan yang pelajar pandang itu menimbulkan kesan dan selamnjutnyatersimpan dalam otak.
      3. Meraba, Membau, dan Mencicipi / Mencecap
      • Adalah indra manusia yang dapat di jadikan sebagai alat untuk kepentingan belajr, artinya aktivitas meraba, membau. Dan mencecap dapat memberikan kesempatan bagi orang untuik belajar. Tentu saja aktivitasnya harus di sadari oleh suatu tujuan.
      4. Menulis atau mencatat
      • Catatan sangat berguna untuk menampung sejumlah informasi, yang tidahanya bersifat fakta-fakta, melainkan juga terdiri atas materi hasil dari bahan bacaan.
      5. Membaca
      • Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak di mlakukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Kalau belajar adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka membaca salah jalan menuju pintu ilmu pengetahuan, maka membaca adalah jalan menuju pinti ilmu pengetahuan ini berarti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak ada cara lain yang harus di lakukan kecuali memperbanyak membaca. Kalau begitu membaca identik dengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas dan mengabaikan berarti kebodohan.
      6. Mencari ikhtisar atau ringkasan dan menggaris bawahi

      7. Mengamati table-table, diagram- diagram dan bagan-bagan

      8. Menyusun paper atau kertas kerja

      9. Mengingat

      10. Berfikir

      DAFTAR ISI Informasi Dunia Pendidikan


      1. Masa scholastik akhir
      2. Masa scholastik keemasan
      3. Masa scholastik awal
      4. Permulaan masa patristik
      5. Zaman keemasan patristik Yunani
      6. Pengertian contoh dan macam proses belajar
      7. Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
      8. Teori-teori belajar
      9. Tujuan mempelajari psikologi
      10. Sejarah singkat perkembangan psikologi
      11. Ruang lingkup psikologi
      12. Pola asuh orangtua terhadap anak menurut psikologi
      13. Pemikiran Islam modern
      14. Pengertian psikologi pendidikan
      15. Konsep psikososial
      16. Dasar dan faktor pendidikan Islam
      17. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi status sosial anak
      18. Pendekatan dan bentuk konseling keluarga
      19. Defenisi dan konsep filsafat dalam Islam
      20. Fungsi kurikulum
      21. Macam-macam gangguan kepribadian
      22. Peranan pengembangan kurikulum
      23. Konsep pendidikan berbasis masyarakat
      24. Perkembangan psiklogi anak dalam kehidupan sosial
      25. Kendala dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis masyarakat
      26. Aliran dalam psikologi dan pandangan tentang karakter manusia
      27. Akhlak menurut pandangan Islam
      28. Pengertian dan kegunaan psikologi perkembangan
      29. Profil konselor
      30. Peranan konselor
      31. Pengertian tekhnologi pendidikan
      32. Sejarah teknologi pendidikan dan peningkatan profesi guru
      33. Kriteria kepribadian bagi seorang pembimbing
      34. Posisi dan fungsi profesi teknologi pendidikan
      35. Dasar pemikiran teknologi pendidikan
      36. Biografi Al-Ghazali
      37. Ajaran tasawuf Al-Ghazali
      38. Biografi Al-Qusyiairi
      39. Ajaran tasawuf A-Qusyiairi
      40. Tasawuf Al-Muhasibi
      41. Makalah hakekat pendidikan Islam
      42. Hakekat pendidikan Islam
      43. Karakteristik pendidik
      44. Biografi Harun Yahya
      45. Tugas dan kewajiban peserta didik
      46. Kurikulum pendidikan Islam
      47. Metode pendidikan Islam
      48. Materi pendidikan Islam menurut para ulama
      49. Evaluasi pendidikan
      50. Perbandingan tujuan pendidikan Islam di MI/SD
      51. Biografi Muhammad Abduh
      52. Jenis layanan bimbingan konseling
      53. Pendidikan menurut Muhammad Abduh
      54. Induksi dan deduksi
      55. Iluminasi
      56. Bimbingan konseling pada pendidikan formal
      57. Sekilas tentang mazhab-mazhab
      58. Mazhab Hanafi
      59. Mazhab Maliki
      60. Mazhab Syafi'i
      61. Mazhab Hambali
      62. Biografi Jamaludin Al-Afghani
      63. Jurnal perlawanan Jamaludin Al-Afghani
      64. Makalah pemetaan dan diskursus pemikiran Islam di Timur Tengah era modern 
      65. Tarekat Naqhsabandiyah
      66. Kriteria orang yang matang dan belum matang dalam beragama
      67. Tipologi pemikiran Islam di timur tengah
      68. Dampak kemajuan iptek terhadap pendidikan Islam
      69. Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu
      70. Pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah
      71. Pembentukan kepribadian muslim sebagai khalifah
      72. Cabang-cabang ilmu fiqh
      73. Sistem kelembagaan dalam pengelolaan zakat
      74. Dasar-dasar ilmu pendidikan
      75. Dasar-dasar filsafat ilmu pendidikan
      76. Konsep link and match dalam pendidikan
      77. Pengertian dan konsep sistem nilai
      78. Pendidikan dalam praktek memerlukan teori
      79. Landasan sosial dan individual pendidikan
      80. Teori pendidikan memadu jalinan antara ilmu dan seni
      81. Pengertian nilai dalam Islam
      82. Macam-macam nilai dalam Islam
      83. Pentingnya akhlak dalam kehidupan
      84. Biografi Jean Piaget
      85. Psikologi Lansia
      86. Pengertian psikologi menurut beberapa orang ahli
      87. Biografi Abdul Karim Soroush



      Thursday, November 10, 2011

      Kesibukan Baru Para Guru Profesional

      Kesibukan baru guru profesional Tugas dan peran guru sekarang ini menjadi semakin berat dan banyak. Di era semua guru harus bersertifikat profesi maka kesibukannya pun bertambah. Sesuai tuntutan guru profesional maka semua kegiatan dalam pembelajaran harus terncana, dan dikelola dengan baik. Sehingga pembelajaran dapat mencapai hasil yang diharapkan berupa mutu pendidikan yang berkualitas. Sebenarnya tugas guru memang tidak semata-mata mentransfer ilmu didepan kelas, melainkan kompleks dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi, tindak lanjut, bimbingan, juga menangani berbagai permasalahan kesiswaan yang makin kompleks.
      Namun di balik kompleksnya tugas dan pekerjaan guru tersebut sejak bergulirnya program pemberian tunjangan profesi guru, guru mendapat tambahan kesibukan baru yang terkait erat dengan pencairan tunjangan sertifikasi tersebut. Tiap tiga bulan sekali para guru harus menyerahkan berkas2 dari berbagai SK sampai ke daftar gaji, ke kantor dinas pendidikan kabupaten. Dalam pikiran sederhana Bapak/Ibu guru akan selalu muncul pertanyaan untuk apa berkas2 itu dikumpulkan tiap tiga bulan, toh bahannya juga sama? Apa bukan kerja yang sia-sia saja, apakah efektif? Yang makin membuat para guru bertanya-tanya dan setengah jengkel adalah sejak adanya sertifikasi guru, sudah beberapa kali harus mengganti buku rekening bank, sebagai persyaratan pencairan tunjangan sertifikasi. Dari Kantor Pos, ganti rekening BRITAMA, ganti lagi rekening BPD dan sekarang harus ganti lagi ke Rekening BRI yang ini ga boleh Britama tapi Simpedes, jadi Britamanya tidak terpakai.Hal ini dirasakan oleh para guru sangat janggal dan seolah jadi bahan permainan. Belum lagi tunjangan sertifikasi yang sering datang terlambat, antar kabupaten tidak serempak, wah wah ....bapak ibu guru merasa dipermainkan.
      Tugas guru yang seharusnya fokus mendidik para siswanya harus terbagi dengan kesibukan lain yang dianggap guru tidak perlu. Dibalik kesibukan-kesibukan tersebut terbetik informasi akan dikembalikannya status guru sebagai pegawai pemda menjadi pegawai pusat, dan ini merupakan angin segar bagi para guru. Harapan besar nasib para guru dapat menjadi lebih baik. Apapun kebijakan pemerintah, yang jelas para guru hendaknya tetap eksis menjalankan tugas-tugasnya sebagai guru profesional dan tetap menjunjung tinggi Kode Etik Guru. Karena di tangan gurulah harapan besar kemajuan bangsa diletakkan. Semoga kesejahteraan guru semakin membaik, tunjangan semakin lancar, dan profesi guru makin dihargai.



       

      Tuesday, November 8, 2011

      Meningkatkan Disiplin Siswa

      Meningkatkan disiplin siswa  memang penting untuk dilakukan. Karena sekolah merupakan tempat bagi generasi calon pemimpin bangsa menimba ilmu pengetahuan dan berinteraksi dalam dunia keilmuan. Disadari atau tidak oleh siswa, sekolah menjadi salah satu tempat pendadaran bagi mereka untuk belajar tentang banyak hal agar kelak menjadi orang yang eksis dan sukses. Disiplin menjadi salah satu faktor yang dapat membantu seseorang meraih sukses, tidak terkecuali disiplin pada siswa.
      Menurut Johar Permana, Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Sedangkan menurut Wikipedia (1993:119) tujuan disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman terutama di kelas.
      Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. Sebutan orang yang memiliki disiplin biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat menaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat, pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu, misalnya sekolah. Maman Rachman (1999:83) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.
      Membicarakan disiplin siswa, tidak terlepas dari persoalan prilaku negatif pada diri siswa, yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan. Berbagai tindak negatif dilakukan para pelajar di sekolah dari nyontek, bolos, memeras, sampai pelanggaran diluar sekolah seperti buat geng, berkelahi (tawuran) penyalahgunaan narkoba, sex bebas, mencuri sampai pada pelanggaran-pelanggaran  yang lebih membahayakan/merugikan diri sendiri dan orang lain.
      Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah. Semua bentuk ketidak disiplinan siswa di sekolah tentunya memerlukan upaya penanggulangan dan pencegahan.
      Beberapa usaha yang dapat dilakukan sekolah adalah;
      1. Guru hendaknya bisa menjadi contoh dalam berdisiplin, misalnya tepat waktu. Siswa tidak akan memiliki disiplin manakala melihat gurunya sendiri juga tidak disiplin. Guru harus menghindari kebiasaan masuk menggunakan jam karet, molor dan selalu terlambat masuk kelas.
      2. Memberlakukan peraturan tata tertib yang jelas dan tegas, sehingga mudah untuk diikuti dan mampu  menciptakan suasana kondusif untuk belajar
      3. Secara konsisten para guru terus mensosialisasikan kepada siswa tentang pentingnya disiplin dalam belajar untuk dapat mencapai hasil optimal,  melalui pembinaan dan yang  lebih penting lagi melalui keteladanan.

      Sunday, November 6, 2011

      Mencontoh Pola Pendidikan Nabi Ibrahim a.s

      Hingga saat ini pendidikan masih sering mendapat sorotan dari berbagai pihak. Hal ini boleh jadi disebabkan kegamangan masyarakat melihat fenomena para pelajar yang justru sering muncul dalam berita2 kriminal, tindak kekerasan, keributan, tawuran sesamanya, narkoba bahkan sex bebas. Mengapa para pelajar seolah kehilangan jati diri sebagai orang terdidik, terpelajar yang seharusnya dapat memilih dan memilah dengan cerdas yang baik dan benar? Apa yang salah dalam pendidikan kita? gurukah, anak didikkah, kurikulum kah atau apa dan siapa?tidak bijak kiranya jika kita menuding satu pihak yang bersalah dan membenarkan pihak yang lain. Yang jelas kita tidak boleh menutup mata atas terjadinya dekadensi moral anak didik kita dewasa ini.
      Terkait dengan makin merosotnya moral para pelajar, ada baiknya kita melihat dan belajar dari pola pendidikan Nabi Ibrahim a.s yang telah terbukti melahirkan generasi berpredikat nabi, yaitu Ismail a.s, bahkan kisah perjalanannya menjadi napak tilas pelaksanaan ibadah haji. Pola pendidikan yang dijalankan Nabi Ibrahim a.s dapat dijelaskan:
      1. Visi Pendidikan : visi pendidikan Ibrahim adalah mencetak generasi saleh, yang hanya menyembah Allah SWT. Visi ini diterpakan dengan konsisten sehingga benar-benar menjadi pedoman jangka panjang yang mantap. Generasi yang saleh, taat menjalankan perintah Allah SWT akan mampu menjadi kuat, tangguh terhadap godaan duniawi yang cenderung menyesatkan.
      2. Misi Pendidikan: mengantarkan anak-anaknya mengikuti ajaran Islam secara total (kaffah) Dengan menjalankan Islam secara total dimaksudkan untuk memproteksi diri dari kontaminasi budaya, sifat, dan prilaku buruk, serta dapat berlaku santun penuh cinta kasih pada sesama, karena Islam dalah rahmatan lil alamin.
      3. Muatan Pendidikan: muatan pendidikan yang diajarkan Ibrahim sudah lengkap, terdiri dari tilawah untuk pencerdasan intelektual, tazkiyah untuk penguatan spiritual, taklim untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan hikmah sebagai panduan operasional dalam amal kebajikan.
      4. Lingkungan Pendidikan; bersih dari virus aqidah dan akhlak. Agar anak berhasil dalam menempuh pendidikan memang selayaknya dijauhkan dari lingkungan yang buruk, karena lingkungan mempunyai andil besar dalam pembentukan sikap dan prilaku anak.
      Menilik empat unsur dalam pola pendidikan Nabi Ibrahim bukan berarti kita sama sekali tidak mengerti atau tidak peduli, namun masalah pendidikan memang sangat komplek. Namun kompleksitas masalah pendidikan itu tidak boleh membuat kita tutup mata. Kemerosotan moral anak-anak menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat untuk menghentikannya.
      Kiranya tidak salah bila usaha tersebut dimulai dari tiap keluarga, dengan menciptakan susana yang kondusif bagi berkembangnya nilai-nilai agama, kasih sayang, tanggung jawab, kerja keras dan disiplin pada seluruh anggota keluarga. Orang tua harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.
      Masyarakat hendaknya juga mengambil peran aktif, peduli terhadap kondisi pendidikan dengan ikut menciptakan dan menjaga  efektifitas norma-norma yang berlaku sehingga mampu menetralisir efek buruk yang berkembang dilingkungannya.
      Para pendidik (guru) dalam menjalankan tugas hendaknya bukan sekedar transfer ilmu, tetapi benar-benar mampu menjadi orang yang bisa digugu dan ditiru oleh anak didiknya. Guru adalah teladan bagi siswanya. Untuk itu diperlukan guru profesional, yang bukan semata-mata mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing dan memberi contoh bagi anak didiknya. Sekolah hendaknya bukan sekedar tempat untuk belajar secara verbal, tempat hafalan berbagai teori, tetapi yang lebih penting justru menjadi  tempat belajar memperdalam nilai-nilai luhur dan pembentukan kepribadian. Sekolah hendaknya mampu mendidik para siswa taat terhadap ajaran agamanya, memiliki kepribadian luhur, menjunjung tinggi nilai kasih sayang, disiplin dan tekun.


      Tuesday, November 9, 2010

      Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Akademik Siswa

      Muara dari kegiatan belajar mengajar pada hakikatnya adalah prestasi. Prestasi berarti hasil akhir dari satu satuan kegiatan belajar yang telah ditetapkan. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, upaya tersebut tidak akan banyak membuahkan hasil jika tidak memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
      Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan eksternal (Gage,Berliner, 1992;Winkel, 1997).
      Faktor Internal
      a. Intelegensi
      Taraf intelegensi seseorang tercermin pada prestasi semua matapelajaran di sekolah. Siswa dengan taraf intelegensi yang tinggi dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik, dibandingkan siswa yang taraf intelegensinya lebih rendah. Namun intelegensi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan siswa meraih prestasi.
      b. Motivasi
      Motivasi merupakan daya penggerak yang menjadi aktif pada saat benar-benar ingin mencapai suatu tujuan. Menurut Sukadji (2000) motivasi merupakan tenaga dorong selama tahapan proses belajar yang berfungsi untuk:
      1. Mencari dan menemukan informasi mengenai hal-hal yang dipelajari
      2. Menyerap informasi dan mengolahnya
      3. Mengubah informasi yang didapat menjadi suatu hasil misalnya menjadi pengetahuan, prilaku, keterampilan, sikap, dan kreatifitas
      Secara umum, motivasi dibedakan menjadi motivasi internal dan eksternal.Motivasi internal bersumber pada diri sendiri misalnya kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tau. Sedangkan motivasi eksternal berasal dari luar. Siswa yang mengandalkan motivasi ekternal akan membutuhkan adanya pemberian pujian, hadiah atau nilai atas preastasi atau keberhasilan yang diraihnya. Bagi siswa motivasi yang paling penting adalah motivasi berpreastasi sehingga akan cenderung berjuang untuk mencapai sukses.
      c. Kepribadian
      Kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri seseorang yang menentukan bagaimana seseorang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kepribadian dapat berubah dan muncul dalam bentuk tingkah laku, yang sangat dipengaruhi sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan, emosi dan keinginan.
      Faktor Eksternal
      a. Lingkungan rumah
      Lingkungan rumah terutama orang tua memegang peran penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua berperan sebagai pengasuh, pendidik dan membantu anak dalam proses sosialisasi. Dengan demikian kemapuan orang tua juga berpengaruh pada preastasi anak, termasuk kemampuan orang tua menyedaiakan fasilitas belajar bagi anak di rumah.
      b. Lingkungan sekolah
      Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman, sehingga anak terdorong untuk belajar dan berprestasi. Beberapa karakteristik sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar yaitu:
      1. Sekolah mempunyai komitmen mendukung usaha siswa agar sukses
      2. Adanya kepercayaan dan perhatian siswa serta orang tua terhadap sekolah
      3. Adanya ketulusan dan keadilan bagi semua siswa dalam proses pembelajaran
      4. Adanya kebijakan dan peraturan sekolah yang jelas, dan konsisten
      5. Terdapat mekanisme yang jelas dalam kehidupan berdemokrasi di sekolah
      6.Membangun kerjasama dengan keluarga dan masyarakat
      7.Mempunyai tujuan untuk meningkatkan prilaku pro sosial seperti berbagi informasi, saling membantu dan bekerja sama
      8. Mengadakan kegiatan untuk mendiskusikan isu-isu menarik dan spesial yang berkaitan dengan siswa
      9. Guru memiliki sikap sebagai fasilitator, motivator yang dekat dengan siswa dan siap membantu memecahkan kesulitan siswa
      10. Ruang kelas lapang, dengan tata ruang yang menarik
      Semua itu akan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga siswa dapat berprestasi. Persoalannya mampukah semua unsur di sekolah menciptakan sekolah yang nyaman?Jawabnya tergantung pada kemauan dan kemapuan masing-masing sekolah, ya kan?

      Wednesday, October 27, 2010

      Hakikat Profesionalisme Guru

      Dalam dunia pendidikan, peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi guru itu sendiri.
      Filsofis sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia, telah menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda bahkan multi fungsi. Mereka dituntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan knowledge, values, dan skill, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru dianggap sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global.
      Dalam era reformasi pendidikan, dimana salah satu isu utamanya adalah peningkatan profesionalisme guru, hal itu merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mencapai pendidikan yang lebih berkualitas.
      Selain itu, pendidikan sebagai sebuah proses selalu berdampak pada sebuah upaya untuk senantiasa memperbaiki agar hasil tersebut menjadi baik. Untuk memperbaiki hasil pendidikan kita, tentu kita perlu tahu tentang kondisi pendidikan kita.
      Kita sadari bahwa profesionalisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Diperlukan orang-orang yang memang benar benar-benar ahli dibidangnya, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya agar setiap orang dapat berperan secara maksimal, termasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri. Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan jaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas
      Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.Mereka harus (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya
      Salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah melalui sertifikasi sebagai sebuah proses ilmiah yang memerlukan pertanggung jawaban moral dan akademis. Dalam isu sertifikasi tercermin adanya suatu uji kelayakan dan kepatutan yang harus dijalani seseorang, terhadap kriteria-kriteria yang secara ideal telah ditetapkan.
      Sertifikasi bagi para Guru merupakan amanah dari UU Sistem Pendidikan Nasional kita (pasal 42) yang mewajibkan setiap tenaga pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar yang dimilikinya. Singkatnya adalah, sertifikasi dibutuhkan untuk mempertegas standar kompetensi yang harus dimiliki para guru sesui dengan bidang ke ilmuannya masing-masing.
      Faktor lain yang harus dilakukan dalam mencapai profesionalisme guru adalah, perlunya perubahan paradigma dalam proses belajar menajar. Anak didik tidak lagi ditempatkan sekedar sebagai obyek pembelajaran tetapi harus berperan dan diperankan sebagai subyek. Sang guru tidak lagi sebagai instruktur yang harus memposisikan dirinya lebih tinggi dari anak didik, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator atau konsultator yang bersifat saling melengkapi. Dalam konteks ini, guru dituntut untuk mampu melaksanakan proses pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif secara dinamis dalam suasana yang demokratis. Dengan demikian proses belajar mengajar akan dilihat sebagai proses pembebasan dan pemberdayaan, sehingga tidak terpaku pada aspek-aspek yang bersifat formal, ideal maupun verbal. Penyelesaian masalah yang aktual berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah harus menjadi orientasi dalam proses belajar mengajar.
      Salah satu faktor yang dapat merangsang profesionalisme guru adalah, jenjang karir yang jelas. Dengan adanya jenjang karir yang jelas akan melahirkan kompetisi yang sehat, terukur dan terbuka, sehingga memacu setiap individu untuk berkarya dan berbuat lebih baik.
      Kesejahteraan merupakan isu yang utama dalam konteks peran dan fungsi guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Paradigma professional tidak akan tercapai apabila individu yang bersangkutan, tidak pernah dapat memfokuskan diri pada satu hal yang menjadi tanggungjawab dan tugas pokoknya. Oleh sebab itu, untuk mencapai profesionalisme, jaminan kesejahteraan bagi para guru merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan dan dipisahkan.

      Saturday, October 23, 2010

      Sulitnya Meningkatkan Mutu Pendidikan

      Kemajuan suatu bangsa diyakini berawal dari bidang pendidikan, karena dengan pendidikan manusia belajar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat dan sarana mencapai kemajuan. Menyadari akan hal itu, sudah selayaknya pendidikan mendapat perhatian utama semua pihak; orang tua, masyarakat, tenaga kependidikan dan pemerintah, agar dari waktu ke waktu mutunya makin meningkat.
      Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Nah pada kesempatan ini saya akan mengetengahkan tulisan sederhana tentang berbagai faktor yang menghambat tercapainya peningkatan mutu peserta didik.
      Mutu pendidikan konkritnya mutu hasil belajar peserta didik yang memadai agaknya masih menjadi sesuatu yang sulit dicapai, yang disebabkan beberapa hal; faktor siswa, guru, sarana dan prasana serta faktor politik.

      1. Siswa.

      Peserta didik merupakan objek dan subjek dalam pendidikan, sasaran akhir dalam peningkatan mutu pada dasarnya adalah prestasi hasil belajar siswa. Motivasi belajar yang rendah, teknik belajar yang salah, kurangnya perhatian orang tua dan bimbingan guru yang minim dapat mengakibatkan kegagalan siswa dalam mencapai standar nilai (mutu) yang ditetapkan. Siswa sekarang umumnya lebih termotivasi pada hiburan dan tayangan TV swasta.

      2. Guru

      Guru merupakan ujung tombak pendidikan, karena itu tiap masalah pendidikan selalu dikaitkan dengan guru. Demikian pula upaya meningkatkan mutu pendidikan jelas tidak terlepas dari profesionalisme guru. Namun menyalahkan guru saja atas maslah masih rendahnya mutu pendidikan tentu bukan hal yang bijak, karena masalah pendidikan sebenarnya multidimensi.
      Usaha pemerintah melaksanakan sertifikasi guru untuk meningkatkan profesionalisme dan penghasilan guru disambut antusias. Apakah antusiame guru mengikuti sertifikasi memang ingin menjadi guru profesional ataukah karena ingin meningkatkan penghasilan semata? Hasil penelitian Prof.Dr. Baedhowi, MSi yang disampaikan pada pengukuhan guru besar Manajemen SDM FKIP UNS menunjukkan bahwa motivasi guru mengikuti sertifikasi yang paling menonjol adalah motivasi finansial. Karena itu dengan adanya sertifikasi guru tidak dengan serta merta meningkatkan mutu pendidikan.
      Dewasa ini masih banyak guru yang tetap menggunakan gaya lama dalam pembelajaran, enggan menggunakan inovasi pembelajaran, enggan mengenal teknologi sehingga "gaptek" gagap teknologi dan tertinggal dari siswanya. Para siswa sudah dapat membuat email, facebookan, browsing internet, mengenal berbagai istilah internet, bapak- ibu gurunya malah tidak mengerti. Bagaimana guru bisa membimbing siswanya untuk maju kalau gurunya justru ketinggalan zaman.

      3.Pemerintah

      Pemerintah merupakan pemegang regulasi baik di tingkat pusat maupun di daerah. Ketepatan aturan dan kebijakan pemerintah bidang pendidikan sangat berpengaruh pada keberhasilan pencapaian mutu pendidikan. Program "sekolah gratis" yang dicanangkan dan di promosikan besar2an beberapa waktu lalu yang dipahami masyarakat sebagai sekolah dengan biaya nol rupiah, oleh para pelaksana pendidikan dirasakan justru menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan. Dengan logika sederhana yang bermutu tentu akan lebih mahal dibandingkan yang murah apalagi gratis. Di era otonomi daerah dewasa ini persoalan peningkatan mutu kadang-kadang juga berhadapan dengan kepentingan politik sesaat yang sulit dihindari pihak-pihak terkait.

      4. Sarana dan Prasarana

      Umumnya sekolah-sekolah di daerah masih minnim sarana dan prasarana baik pokok maupun penunjang. Di sinilah dirasakan adanya kejanggalan antara sarana dan prasana yang serba kurang di satu sisi, dengan keinginan mencapai mutu yang baik dan sekolah yang gratis di sisi lain. Mungkinkah??? Padahal pemerintah belum mapu membiayai 100% anggaran belanja sekolah. Alhasil sekolah berjalan apa adanya, yang penting jalan, soal mutu nanti dulu.

      5. Peran Orang Tua dan Masyarakat

      Peran orang tua dan masyarakat dalam mengiring pendidikan sangat penting dan karenanya perlu terus ditingkatkan. Parennya dapat berupa pendukung, penyumbang dana (donatur) maupun kontrol sosial. Dengan begitu ada kerja sama dan tanggung jawab bersama atas kemajuan sekolah khususnya dan pendidikan pada umumnya.

      Saturday, October 16, 2010

      Bagaimana Belajar yang Baik?

      Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah.Tidak sedikit pelajar yang melalaikan kwajiban belajar, dan tidak sedikit pula pelajar yang belum tau cara belajar yang baik. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu menjelang ulangan tiba memiliki dampak yang tidak baik.

      Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga bagi para pelajar dalam mempersiapkan diri menghadapi ulangan atau ujian :

      1. Belajar Kelompok
      Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar lebih menyenangkan karena bersama teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Anggota kelompok belajar hendaknya tidak terlalu banyak agar efektif. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar, agar yang tidak pandai dapat belajar dari mereka. Kegiatan dalam belajar kelompok sebaiknya membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru. Sharing /berbagi, baik pengalaman, informasi maupun pengetahuan merupakan kunci sukses belajar kelompok.

      2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
      Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan diri sendiri.

      3. Membuat Perencanaan Yang Baik
      Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

      4. Disiplin Dalam Belajar
      Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

      5. Aktif Bertanya dan Ditanya
      Jika ada hal yang belum jelas, tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman.

      6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
      Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan pahami. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

      7. Hindari Belajar Berlebihan
      Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

      8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
      Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

      Silahkan melaksanakan tips dan triks tersebut, semoga Anda berhasil

      Membangkitkan Semangat Belajar pada Anak

      Setiap orang tua pasti mengharapakan anaknya mencapai prestasi belajar yang baik. Prestasi itu tentu dapat diraih bila si anak memiliki kemauan dan semangat untuk belajar. Berikut beberapa hal yang bisa di lakukan orang Tua untuk meningkatkan semangat belajar pada anak.

      1. Memberikan motivasi. Semakin kuat motivasinya semakin senang anak untuk belajar. Dengan memberi motivasi secara terus menerus diharapkan motivasi belajar pada akhirnya tumbuh dari diri anak sendiri.
      2. Menjelaskan tujauan belajar. Tujuan dapat memberi arah yang jelas bagi anak dalam belajar. Dengan tujuan belajar yang di pahaminya, anak akan lebih tekun dalam belajar.
      3. Menjelaskan manfaat belajar. Menjelaskan manfaat belajar dapat dilakukan dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari- hari di sekitar anak. Misalnya, si Anu yang tadinya pernah tidak naik kelas, akhirnya bisa lulus dengan nilai terbaik di sekolah.
      4. Memberi kesempatan belajar. Memberi kesempatan berarti juga tidak mengganggu anak pada saat sedang tekun belajar. orang tua bisa pula mengajak anak berkunjung ke tempat- tempat yang memberi suasana belajar, misalnya Perpustakaan, Kebun binatang.
      5. Menciptakan suasana bersaing. Persaingan bisa dilakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Contohnya, orang tua mendorong anak berlomba mengejar prestasi di sini tidak melulu berupa angka yang baik, tetapi juga peningkatan- peningkatan yang di capai.
      6. Mencukupi sarana belajar. Dalam memenuhi sarana belajar hendaknya sesuai dengan tingkat kebutuhan anak, karena kebutuhan mereka berbeda.
      7. Memberikan contoh. Anak akan lebih bergairah dalam belajar bila melihat orang tuanya juga selalu beljar.
      8. Memberi hadiah. Anak yang menunjukan prestasi baik dari hasil belajarnya layak mendapat hadiah. Bentuknya bisa materi, kasih sayang, perhatian, pujian dan bentuk lain sesuai dengan kondisi anak.