Latest News

Showing posts with label Pendidikan Usia Dini. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Usia Dini. Show all posts

Sunday, October 31, 2010

Mendidik Anak Ala Rasulullah SAW

Pakar-pakar pendidikan di Indonesia menilai bahwa salah satu sebab utama kegagalan pendidikan kita karena para pendidiknya yang gagal. Padahal, salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik. Nah, Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik, karenanya mari kita berkaca dari sepercik cara mendidik anak ala beliau. Memang salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik, yang sebelumnya perlu dididik pula. Sebenarnya kalau melihat ke sejarah Nabi, problema ini baru terselesaikan karena Allah Swt. turun tangan.

Anak didik dibentuk oleh empat faktor. Pertama, ayah yang berperan utama dalam membentuk kepribadian anak. Bahkan, dalam Al-Quran hampir semua ayat yang berbicara tentang pendidikan anak, yang berperan adalah ayah. Kedua, yang membentuk kepribadiannya juga adalah ibu; ketiga, apa yang dibacanya (ilmu); dan keempat, lingkungan. Kalau ini baik, anak bisa baik, juga sebaliknya. Begitu pula baik-buruk kadar pendidikan kita.

Empat faktor ini belum tentu semuanya terwujud. Ketika Allah Swt. menetapkan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, maka yang membentuk kepribadiannya adalah Allah Swt. Sebab, bila diserahkan kepada masyarakat atau keluarga, maka ia tidak akan sempurna, bisa jadi keliru. Dalam hal ini, Tuhan yang melakukan, sedangkan masyarakat atau keluarga diberi peranan yang sangat sedikit. Itu sebabnya bila telah selesai peranan ayah, maka dia diambil-Nya meninggal dunia. Ini karena Tuhan tidak mau beliau dididik bapaknya. 

Begitu lahir dibawa ke desa dan ketika usia remaja baru ketemu ibunya. Namun, ibunya pun kemudian diambil-Nya. Dalam hal ini, Allah Swt. ingin mendidik langsung beliau untuk menjadi pendidik, yakni figur yang diteladani bagaimana seharusnya mendidik. Itu sebabnya beliau bersabda, Addaban� Rabb� fa Ahsana Ta'd�bi ("Yang mendidik saya itu adalah Tuhan"). Juga, Bu'itstu Mu'alliman ("Saya diutus-Nya menjadi pengajar, pendidik").

Kita ambil beberapa inti dari kisah hidup Rasulullah Saw.Beliau bersabda, "Bila ingin anak yang membawa namamu itu tumbuh berkembang dengan baik, maka pilih-pilihlah tempat kamu meletakkan spermamu, karena gen itu menurun". Jadi, sebelum anak lahir kita harus memilih hal yang baik, karena gen ini mempengaruhi keturunan. Pakar pendidikan mengakui bahwa ada faktor genetik dan pendidikan. Walaupun mereka berbeda pendapat yang mana lebih dominan, namun yang jelas keduanya punya pengaruh. Lalu, apa yang perlu diperankan orang tua sekarang? .

Pertama, satu hal yang perlu digarisbawahi, begitu seorang anak lahir, Islam mengajarkan untuk diadzankan. Walaupun anak itu belum mendengar dan melihat, tapi ini memiliki makna psiko-keagamaan pada pertumbuhan jiwanya. Anak yang baru beberapa hari lahir, kalau ia ketawa, anda jangan menduga bahwa ia ketawa karena atau dengan ibunya, tapi karena ia merasakan kehadiran seseorang. Para pakar mengatakan demikian, karena ada orang yang lahir buta tetap tersenyum saat ibu mendekatinya. Jadi, seorang bayi memiliki rasa pada saat mendengar adzan, juga memiliki jiwa yang bisa berhubungan dengan sekelilingnya. Karena itu, adzan menjadi kalimat pertama yang diucapkan kepadanya. Dan, karena saat membacakan adzan seorang muadzin berhubungan dengan Tuhan, maka inilah yang memberikan dampak bagi perkembangan anak ke depan.

Kedua, sampai umur tujuh hari, kelahiran anak perlu disyukuri ('aqiqah). Kalau begitu, jangan sampai terbetik dalam pikiran ibu/bapak merasa tidak mau atau tidak membutuhkannya, karena saat itu sang anak sudah punya perasaan dan harus disambut dengan penuh syukur ('aqiqah). Misal, ada orang yang mengharapkan anak laki-laki, namun kemudian lahir anak perempuan, akhirnya ia kecewa serta tidak menerima dan menyukurinya. Semestinya perlu disyukuri, baik laki-laki maupun perempuan.

Ketiga, setelah 'aqiqah, sang anak baru diberi nama yang terbaik karena dalam hadis disebutkan, "Di hari kemudian nanti orang-orang itu akan dipanggil dengan namanya". Dalam hadis lain dijelaskan, "Nama itu adalah doa dan nama itu bisa membawa pada sifat anak kemudian". Jadi, jika anda memiliki anak pilihlah nama yang baik untuknya.

Nabi Saw. dipilihkan oleh Allah semua nama yang baik dan sesuai, karena ia adalah doa bagi yang menyandangnya. Misal, Nabi memiliki ibu bernama Aminah (yang memberi rasa aman) dan ayahnya Abdullah (hamba Allah). Yang membantu melahirkan Nabi namanya As-Syaffa (yang memberikan kesehatan dan kesempurnaan). Yang menyusuinya adalah Halimah (perempuan yang lapang dada), jadi Nabi dibesarkan oleh kelapangan dada. Anjuran untuk memilih nama yang mengandung doa juga dimaksudkan agar jangan sampai menimbulkan rasa rendah diri pada sang anak.

Keempat, hal yang paling pokok adalah mendidik anak bagi Nabi Saw. adalah menumbuhkembangkan kepribadian sang anak dengan memberikan kehormatan kepadanya, sehingga beliau sangat menghormati anak-cucunya. Bila memang sejak kecil ia sudah memiliki perasaan, maka jangan sampai ada perlakuan yang menjadikannya merasa terhina. Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Nabi Saw. pernah ditanya, "Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?", Nabi berkata: "Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya".

Ada cerita yang sangat berharga yang pernah penulis baca tentang kehidupan rumah tangga Imam Syahid Hasan Al-Banna, beliau memiliki 6 orang anak dan Allah menakdirkan ke enam anaknya memiliki pribadi sukses juga berhasil di kehidupan duniawinya. Ternyata ketika mengintip cara mendidik yang diterapkan Hasan Al Banna beliau sangat menerapkan pola pengajaran yang diajarkan Rasulullah, hampir bisa dikatakan jarang sekali menghardik, memarahi anak, apalagi murka. Yang lebih dominan adalah menghargai si anak, memberi perhatian yang lebih, dan memberi energi positif, cinta yang tulus. Memarahi anak adaah dengan cara yang ahsan (baik) dan itupun untuk tujuan mendidik, juga seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, "Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan". Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata "Jangan, biarkan ia kencing". Dari hal ini, muncul ketentuan, bila anak laki-laki kencing cukup dibasuh, sedangkan bila anak perempuan dicuci dengan sabun. Riwayat ini memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.

Namun di sisi lain, ada satu hal di mana Nabi sangat hati-hati dalam persoalan anak. Ketika Nabi lagi di masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, "Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?" Sampai akhirnya, dipanggilnya Sayidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.

Berikut panduan / cara Rasulullah Mendidik Anak 
  • Panduan dasar untuk orangtua dan pendidik.
Banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu pemimpin umat. Hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada dibalik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Akan tetapi, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibak sedikit demi sedikit melalui pendidikan. Namun, tidak semua pendidikan berhasil kecuali dengan strategi matang dan berkelanjutan. ( Syaikh Muhammad Al Khidr Husein )
1.Keteladanan
Rasulullah bersabda � Barangsiapa berkata kepada anaknya, � kemarilah! (nanti kuberi)� kemudian tidak diberi maka ia adalah pembohong � ( HR. Ahmad dari Abu Hurairah )
2.Memilih waktu yang tepat untuk menasehati.
Ada 3 pilihan waktu yang dicontohkan Rasul ; saat berjalan-jalan di atas kendaraan, waktu makan dan waktu anak sakit.
3.Bersikap adil dan tidak pilih kasih
4.Memenuhi hak-hak anak
5.Menghargai nasehat dan kebenaran meskipun dari anak kecil.
6.Mendo�akan anak.
7.Membelikan permainan
8.Membantu anak agar berbakti dan taat.
9.Tidak banyak mencela dan memaki.

Membangun dan membina Aqidah anak.
1.Mentalqinkan kalimat Tauhid pada anak.
2.Cinta kepada Allah, merasa diawasi dan beriman kepada Qodho� & Qodar
3.Mencintai Rasulullah, keluarga dan sahabatnya.
4.Mengajarkan Al-Qur�an kepada anak.
5.Mendidik keteguhan aqidahnya.

Membentuk intelektualitas pada anak
1.Menanamkan kecintaan mencari ilmu dan adabnya.
2.Membimbing anak untuk menghafal Al-Qur�an dan hadits.
3.Memilihkan anak, guru yang shalih.
4.Mendidik anak tera,pil bahasa asing.
5.Mengarahkan sesuai dengan bakat dan kecenderungannya.
6.Membuat perpustakaan di rumah.

Sifat-sifat Pendidik Sukses
a.Penyabar dan tidak pemarah
b.Lemah lembut dan menghindari kekerasan
c.Hatinya penuh dengan kasih sayang
d.Memilih yang termudah di antara dua perkara
e.Fleksibel
f.Tidak emosional
g.Bersikap moderat dan seimbang
h.Ada senjang waktu dalam memberi nasehat.

Maraji : 
Tahapan Mendidik Anak ( Jamal Abdur Rahman) .
Cinta di rumah Hasan Al-Banna (M. Lili Nur Aulia)
Mendidik anak cara Rasulullah, M. Quraish Shihab (http://www.psq.or.id)

14 cara nabi Muhammad Mendidika Anak

Seperti apakah ketika nabi muhammad mendidik anak-anaknya kala itu? Praktik pendidikan Nabi Muhammad SAW pada anak-anak dapat di gambarkan di bawah ini:

1. Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, � Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).�merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.

2. Ketika ja�far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut�ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja�far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, �Suruh kemarilah anak-anak ja�far. Ketika mereka dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.

3. �Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja�far dan kawan-kawanya?� Beliau menjawab, �Ya benar, mereka hari di timpa musibah.� Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, �janganlah kalian melupakan keluarga ja�far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja�far.�

4. Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut�ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.

5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, �Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.� Rasulullah bersabda, �Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.�

6. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, �jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.�
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.

7. Ummu Kholid binti kho;id bin sa�ad Al-Amawiyah berkata, �Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku, maka beliau berkata, �Biarkanlah dia.� Kemudian beliau pun berkata kepadaku, �bermainlah sepuas hatimu, Nak!

8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, �Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).�

9. Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .

10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,� Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, �Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesah-gesah sampai dia puas.� Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma

11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, �Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.� Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, �Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.�

13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.

14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, �mengapa kau menangis, Nak .� Anak itu hanya menjawab, �biarkanlah aku sendiri.� Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. �Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,� lanjut anak itu. �Lalu ibuku kawih lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.l�
 
Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, �Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?� Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, �mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?� kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.
 
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, �Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?� jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.� Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.� Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.

Sumber : http://radensomad.com 

Saturday, October 23, 2010

Anak Secerdas Eistein Bukan Impian !

�Orang tuanya saja pintar, tidak heran anaknya juga pintar !� puji Lina saat melihat Rico (2 tahun) anak Santi, rekan sekantornya yang menunjukkan kepandaian berhitung. �Jenius itu tergantung bibitnya sih ya ? buah kan jatuh gak jauh dari pohonya� tambahnya.


Anggapan seperti itu tentu sudah biasa kita dengar dan di masyarakat masih banyak yang setuju dengan �logika� tersebut, padahal menurut penelitian para ahli, laju tumbuh kembang dan tingkat intelegensia seorang anak dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
  1. faktor genetik. Faktor ini tidak bisa kita ubah, namun hanya berperan sekitar 30 � 40%.
  2. factor lingkungan. Anak dengan IQ tinggi harus tetap diasah keterampilan, kerajinan dan kemampuan berpikirnya oleh orang tua. hal senada diutarakan oleh Bruce A. Epstein, M.D., ahli saraf anak dari Amerika Serikat mengungkapkan bahwa orang tua harus selalu mengasah atau merangsang berbagai kemampuan yang tersimpan di dalam otak anak, secara terus menerus, karena kemampuan atau potensi yang tidak dirangsang lama-kelamaan akan menghilang.
  3. Faktor Gizi. Pemenuhan nutrisi yang cukup merupakan syarat utama dalam perkembangan anak, termasuk perkembangan otaknya. 
Tumbuh kembang Otak
Menurut Lise Elliot, Ph.D, dalam bukunya What�s Going on in There ? How The Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life, Proses pembentukan otak bersamaan dengan proses pembentukan seluruh organ tubuh, yaitu beberapa saat setelah terjadinya konsepsi yaitu proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma yang menghasilkan cikal bakal janin berupa sekumpulan sel berbentuk menyerupai bola yang disebut zigot.

Seiring bertambahnya waktu, bola zigot yang merupakan embrio itu, terus bertambah besar, karena setiap sel melakukan proses pembelahan berantai sehingga menghasilkan puluhan, ratusan dan ribuan sel. Pembentukan sel-sel baru yang terus berlangsung menghasilkan 3 lapisan dinding �bola� embrio yang disebut ectoderm (lapisan luar), mesoderm (lapisan tengah) dan endoderm (lapisan dalam). Lapisan ectoderm itulah yang dari hari ke hari kemudian akan berkembang menjadi otak beserta seluruh sistem saraf pusat.

Periode proses tumbuh kembang otak (brain growth spurt) terus berlangsung hingga mencapi fungsinya yang sempurna. Periode emas pertama dimulai saat usia kehamilan trimester 3 kehamilan. periode emas kedua setelah si kecil lahir hingga ia berusia 2 tahun setelah kelahiran (postnatal).

Bagaimana Saraf Otak Tumbuh dan Berkembang ?
Perkembangan Central Nervous System atau Susunan Saraf  Pusat (SSP) dimulai dari terbentuknya lempeng saraf pada hari ke-16, yang kemudian menggulung membentuk tabung saraf pada hari ke-28 setelah konsepsi. Pada masa janin, terjadi pertumbuhan cepat dan penyempurnaan organ dan jaringan yang telah terbentuk pada masa embrio. Pada minggu ke-5 terlihat bakal otak besar di ujung tabung saraf yang terus membesar. Sampai minggu ke-25 permukaan otak masih licin, kemudian terbentuk lekukan-lekukan otak. Proses pertumbuhan sel otak (neuron) terjadi pada minggu ke-20 hingga ke-36.

Neil Martin dalam bukunya Human Neuropsychology, mengatakan setiap satu dari 100 miliar sel otak (neuron) aktif mampu menyimpan informasi pada ribuan dendritnya, laiknya cabang-cabang sebatang pohon. Dendrite adalah salah satu komponen sel otak (neuron) yang berfungsi meneruskan informasi ke sel-sel otak dan bagian-bagian tubuh yang lain.

Komponen lain neuron adalah akson yang berfungsi membantu dendrit menjalankan informasi ke bagian lain. Disekujur akson inilah ada sebuah zat yang menyelubungi akson yang disebut mielin (myelin). Semakin banyak myelin menyelubungi akson, proses transmisi pesan atau penjalaran informasi akan semakin efisien

Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat Sinaps, yaitu tempat terjadinya hubungan antara sel saraf. 

Menurut Carla shartz, neurobiology, universitas California Berkley Amerika. Aktifitas komunikasi sel ini memungkinkan otak si kecil berkembang secara sinkron.

Sel-sel saraf (neuron) yang merupakan sel panjang dan berfungsi sebagai perantaa komunikasi tersebut akan mengirimkan pesan-pesan elektronik berupa sinyalsecara beraturan sehingga menghasilkan suara yang juga beraturan. �Letupan listrik� yang terjadi di saraf otak ini akan membentuksuara yang jelas, berupa gelombang-gelombang yang terkoordinasi. Inilah bagianpenting yang akan membentuk otak yang sedang berkembang.

�aktifitas listrik� sel-sel otak yang mampu mengubah struktur fisik otak memang sangat luar biasa. Dalam perkembangan otak, �letupan listrik� neuron yagn teratur tidak lagi diasumsikan sebagai hasil dari pembentukan otak, namun lebih pada proses pembentukannya. �Aktifits� ini telah dimulai jauh sebelum bayi lahir.

Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.

Hal senada juga ditegaskan dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), bahwa makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.

Ketika lahir berat otak telah mencapai 350 � 400 gram, sesuai dengan lingkar kepala 34-36 cm. Jelaslah bahwa masa embrio dan masa janin merupakan masa terpenting bagi perkembangan sel-sel saraf, dan merupakan masa yang paling rentang terhadap gangguan lingkungan

Selanjutnya terjadi perkembangan sel-sel SSP, yang makin lama makin bertambah banyak, disebut proliferasi sel. Jenis sel juga berubah yang disebut sebagai proliferasi sel. Jenis sel juga berubah yang disebut sebagai diferensiasi, sebagian menjadi sel saraf yang merupakan sel pengatur semua kehidupan kita, sedangkan sebagian menjadi sel penunjang. Sel-sel ini juga berpindah tempat disebut sebagai migrasi ke tempat yang seharusnya sel tersebut berada, kemudian membentuk jalinan saraf satu sama lain (Sinaps). Penambahan jumlah sel saraf (neuron) telah selesai pada saat kelahiran dan tidak bertambah lagi. Setelah lahir hanya terjadi pematangan fungsi sel saraf dan masih berkembangnya selubung saraf atau mielin yang disebut sebagai mielinisasi.

Pentingnya Mielinisasi

Mielinisasi berfungsi sebagai penghantar impuls. Berkurangnya mielinisasi berdampak pada berkurngnya IQ dan kemampuan pengenalan bentuk geometik, juga rendahnya kemampuan berkonsentrasi.

Dimulai sejak usia kehamilan 12 � 14 minggu, proses mielin akan berlanjut terus di serabut saraf kotek serebri sampai dengan dekade ketiga dari kehidupan manusia. Walaupun demikian mielinisasi yang paling aktif terjadi pada trimester kedua kehamilan sampai dengan akhir usia 2 tahun.

Mielin berperan penting sebagai penyekat material, proteksi sel neuron dan memudahkan terjadinya transmisi impuls. Di SSP, mielin dibentuk dari membran sel oligodendroglial (yaitu jenis sel neuroglia yang berperan dalam pembuatan myelin) yang tumbuh di sekitar akson. Analisa dari mielin ternyata mengandung 80% lemak (serebrosid, serebrosid sulphate atau sulphatide) dan ini kira-kira 50% dari total lemak otak. Diperkirakan jumlah myelin kira-kira 25% dari berat otak. Oleh karena itu otak kaya akan lemak dan kira-kira jumlahnya 2 kali lipat selama fase pacu tumbuh otak: dimana terjadi juga proses pembentukan sel saraf, glia dan mielin. Tipe sel utama dalam otak yaitu neuron dan neuroglia (astrosit dan oligodendrosit) dapat dibedakan dari kandungan asam lemak fosfolipidnya. Sebagian besar neuron di otak terbentuk selama periode 10 � 18 minggu postmenstruasi. Sel glia mulai dibentuk sekitar minggu ke 15 postmenstruasi, kemudian kecepatannya  menurun sampai kira-kira usia 2 tahun postnatal.

Dalam proses belajar seorang bayi, Cynthia Sort, dalam bukunya Dendrites are Forever, mengatakan Zat mielin ini akan muncul secara luar biasa apabila seorang anak mengulang-ulang apa yang dipelajarinya.

Lalu apa dampak �mielinisasi� atau penyarungan atau pengulangan itu terhadap sebuah proses pembelajaran ? kata sebuah penelitian, �mielinisasi� akan membuat proses penyimpanan hal-hal baru itu lebih efektif. Ini berarti ingatan seorang pembelajar dalam menerimahal-hal baru akibat pembelajarannya akan tidak mudah dilupakan.

Setiap proses pembelajaran tentulah menawarkan hal-hal baru. Hal-hal baru tersebut akan masuk ke dalam benak dan kemudian menumbuhkan sel-sel otak (neuron) baru.
Neuron-neuron itu akan tumbuh subur dengan kecepatan luar biasa apabila seluruh tubuh ikut bergerak saat terjadi proses pembelajaran. Dan menurut Dr. C. Edward Coffey dari henry Ford Health System,. Sebuah pembelajaran yang seperti itu dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan-perubahan yang terjadi pada otak.

Peran Sphingomyelin pada Tumbuh Perkembangan Otak
Spingomielin merupakan salahsatu bentuk dari spingolipid, yaitu suatu kompleks lipid kandungan lemak didalam otak. Beberapa penulis sering mengelompokannya ke dalam fosfolipid.

Menurut  M Nazir HZ, dalam makalahnya yang membahas Sphingomyelin, Spingolipid berperan sebagai kerangka penyusun membran sel juga berperan dalam mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel serta berbagai fungsi lain seperti interaksi berbagai substrat dan tranduksi sinyal instra sel.Spingomielin dan beberapa metabolit spingolipid lainnya, seperti serebrosida dan sulfatida juga banyak ditemukan diotak dan malahan lebih banyak bila dibandingkan di membran sel. Spingolipid ini menarik perhatian ketika beberapa peneliti menemukan adanya hubungan antara peningkatan kandungan serebrosida di otak dengan periode mielinisasi / pembentukan myelin di susun  saraf pusat. Bila masukan makanan berkurang seperti anak malnutrisi, maka kandungan spingomielin dalam otaknya akan menjadi rendah. Penelitian peneliti Jepang, Oshida, pada tikus menunjukkan bahwa proses mielinisasi tersebut diatas memang membutuhkan spingomielin. Pada keadaan aktifitas enzim serine palmitoyltransferase (SPT) rendah, suatu enzim yang berperanan dalam sintesis precursor spingomielin, berat dan ketebalan mielin serta kandungan  serebrosida dalam otak akan berkurang. Keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan diet yang mengandung spingomielin.Spingomielin ditemukan juga dalam makanan terutama yang berasal dari hewan dan ASI, walaupun jumlahnya relatif sedikit.  

Kebutuhan tubuh akan spingiomelin dipenuhi dari makanan yang dimakan sehari-hari serta dari hasil sintesis spingomielin dalam tubuh. Kandungan spingolipid dalam bahan makanan sangat bervariasi, mulai dari hanya beberapa mikromol per kilogram seperti didalam buah-buahan an sayur-sayuran sampai dengan 2 mmol/kg (1-2 g/kg) dalam produk olahan susu, telur dan kacang kedelei. Berbeda dengan spingolipid lainnya, spingomielin hanya terdapat pada memberan sel hewan sedangkan sayur dn buah-buahan lebih banyak mengandung glikolipid.

0,1 � 1,0% dari total lemak susu sapi mengandung posfolipid, 30% diantaranya terdiri dari spingomielin. Kandungan spingomielin dalam susu sapi ini tidak menetap tergantung kepada musim dan masa laktasi dari sapi tersebut.

kandungan spingomielin dalam ASI bervariasi antara satu peneliti dengan peneliti lain. Bouhors mendapatkan kadar spingomielin dalam ASI 110 umol/L, sedangkan zeisel mendapat 100 � 200 umol/L. perbedaan ini karena pemeriksaan yang berbeda.

Spingomielin dalam ASI tersebut terdapat dalam membran globul lemak ASI yang berasal dari membrane sel kelenjar mammae. Seperti halnya pada susu sapi, kandungan spingomielin dalam ASI juga tidak selalu sama setiap periode menyusui. Konsentrasi spingomielin akanmeningkat sampai 20 % pada ASI hindmilk dibandingkanASI midmilk dan formilk. Keadaan seperti ini akan menetap sampai dengan 90 hari masa laktasi.

Selain spingomielin ASI juga mengandung posfolipid, merupakan sumber posforilkolin dalam sintesis spingomielin.

Peran spingomielin adalah penting dalam unsure proses pembentukan sarung myelin sususnan saraf pusat yang berperan dalam menyampaikan transmisi impuls saraf dengan kecepatan tinggi.

Gizi selama Hamil dan Menyusui

Meskipun massa otak janin hanya 16 % dari tubuhnya, namun dibandingkan dengan organ tubuh lain, otak paling banyak memerlukan energi (lebih dari 70 %) untuk proses tumbuh kembangnya. Energi itu terutama berasal dari deposit zat gizi dan asam lemak esensial tubuh ibunya.

Cepatnya pertumbuhan sel otak manusia pada usia bayi dan balita hingga mencapai taraf kesempurnaannya pada usia empat hingga lima tahun membuat factor pemenuhan gizi sebagai factor yang sangat vital. Bila asupan gizi tidak diperhatikan bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah, misalnya terjadi ketidaksempurnaan pertumbuhan sel otak yang tentunya hal ini tidak akan bisa diperbaiki pada usia berikutnya.

Karenanya, untuk tumbuh kembang otak bayi dibutuhkan makanan yang cukup serta baik kualitas maupun kuantitasnya. Komponen utama pembentuk otak adalah lemak dan bahan baku untuk membentuk sel-sel saraf baru di dalam otak adalah protein

Beberapa vitamin dan mineral berperan dalam kelancaran proses tumbuhkembang otak si kecil. Misalnya Vit B12 berperan dalam membentuk cikal bakal tulang belakang dan sistem saraf pusat yang harus di penuhi ibu dalam masa awal kehamilan.

AA dan DHA untuk Otak yang lebih optimal

ASI sebagai makanan bayi yang utama kaya akan asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda atau long chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA).
Ada dua jenis LCPUFA yang berpengaruh dalam perkembangan otak dan kecerdasan, yaitu asam arakidonat atau arachidonic acid (AA) dan asam dokosaheksanoat atau docosahexanoic acid (DHA). AA dan DHA sendiri merupakan komponen penting sel otak. Kedua komponen ini dibutuhkan dalam jumlah besar pada saat tumbuh kembang otak bayi.

Di dalam tubuh sebenarnya bayi mampu membuat AA dan DHA sendiri yang berasal dari bahan dasar asam linoleat (LA) dan asam alfa linolenat (ALA). Namun, karena kebutuhan DHA bayi diperkirakan sebesar 20 mg/hari, bayi belum mampu membuat DHA sebanyak itu karena belum matangnya aktifitas enzim-enzim desaturase sehingga harus diberi tambahan dari makanan. Pada keadaan normal, tambahan ini dapat diperoleh dari ASI. Tetapi ternyata kadar kedua komponen ini dalam ASI juga tergantung pada cadangan dalam tubuh ibu.

LCPUFA juga berperan penting untuk perkembangan kognitif, ketajaman penglihatan dan pertumbuhan otak bayi. Sebelum lahir, bayi mendapat asam lemak esensial ini secara langsung melalui plasenta. Setelah lahir, bayi memperolehnya dari ASI dan dari sintesis precursor asam lemak esensial secara endogen. Ketika bayi mulai mendapat makanan padat, LCPUFA diperoleh dari ikan, telur dan daging.

DHA berperan untuk jaringan pembungkus saraf atau mielin, yang nantinya akan melancarkan pengantaran perintah saraf. Dengan kata lain, zat itu membuat jaringan saraf  mampu mengantarkan rangsangan saraf ke otak dengan lebih baik. Untuk itu, asupan DHA yang termasuk asam lemak yag tidak bisa disintesis dalam tubuh ini harus dalam jumlah yang cukup.
Sekitar 25 dari 60 persen lemak, yang merupakan komponen utama struktur otak adalah DHA. Asam lemak ini diperlukan sejak bayi masih dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa. DHA juga penting bagi struktur sistem penglihatan.

Namun demikian, ada kalanya sang ibu tidak dapat menyusui sendiri bayinya, karena berbagai factor dan salah satunya karena ASI tidak keluar. Untuk itu diperlukan susu formula yang tentunya harus dipilih yang mempunyai kecukupan kalori..
Disamping pemenuhan kebutuhan gizi yang lengkap bagi ibu hamil dan menyusui agar menunjang perkembangan dan pertumbuhan tubuh dan otak bayi, peran orang tua dan lingkungan keluarga yang hangat harus tetap dominan dalam merangsang berbagai potensi yang di dalam otaknya.  Dengan begitu memiliki anak yang berotak secerdas Einstein bukan sekedar impian

Tips Agar Tumbuh Kembang Otak Janin Kian Optimal

Proses tumbuh kembang otak anak yang dimulai sejak janin memungkinkan anda untuk mengoptimalkannya sejak awal kehamilan. Bagaimana caranya ?

Selain itu, tumbuh kembang janin dipengaruhi oleh kurangnya hormon tiroid serta gangguan metabolisme (ketidakmampuan tubuh ibu dalam menyerap dan mengirimkan zat-zat makanan yang masuk ke plasenta). Kalau ini yang terjadi, maka perkembangan otak si kecil juga ikut terganggu. Hanya saja, bentuk gangguan yang dialaminya tergantung pada usia janin ketika mengalami kekurangan gizi. Misalnya, pada minggu ke-12, sebagian besar otak mulai terbentuk sesuai dengan bagiannya masing-masing. Bila si kecil kekurangan iodium, misalnya, maka dia berisiko tinggi untuk mengalami gangguan pembentukan bagian otak tersebut.

Merangsang dengan Musik
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan hidupnya dalam rahim, kemampuan janin untuk merespons lingkungannya juga semakin berkembang. Misalnya saja, pada minggu ke-24, janin sudah mampu mendengarkan denyut jantung ibunya. Pada minggu ke-25, system vistibula (saluran pendengarannya) sudah lebih matang, sehingga janin mulai bisa bergerak sesuai irama begitu mendengar suara musik.

Beberapa percobaan dengan menggunakan rangsangan musik pernah dilakukan di Jerman pada ibu hamil trimester ke-2 dan ke-3 kehamilan.

Hasilnya, terbukti bayi yang sejak dalam kandungan diputarkan musik klasik, setelah lahir ia akan bereaksi terhadap musik yang sudah dikenalnya tersebut.

Mengajak bicara janin
Pada usia 26 minggu, janin sudah dapat membedakan sikap dan perasaan ibu. Bukan Cuma itu. Ia juga akan bereaksi terhadap kedua hal ini. Misalnya, ketika anda bersuara �keras� atau merasa kesal, si kecil akan bereaksi dengan membuka dan menutup kelopak matanya. Bahkan, ia dapat saja menggerak-gerakkan beberapa angota tubuhnya.

Selain itu, janin juga sudah bisa diajak berkomunikasi. Caranya ? anda dapat mengajaknya berbicara. Jadi, bukan saja perkembangan kemampuan otak si kecil yang anda rangsang, melainkan juga anda mulai manjalin ikatan dengan si kecil.

Menghindari stres
Lingkungan yang baik dan nyaman penting bagi optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak janin. Makanya, gangguan psikis ketika hamil akan meningkatkan risiko janin untuk mengalami gangguan sistem kardiovaskuler (sistem peredaran darah), gangguan metabolisme, serta hambatan kognitif di kemudian hari.

Selain itu, stres yang berhubungan dengan proses afektif dan rangsangan yang berhubungan dengan bagian otak janin, duduga dapat mempengaruhi perkembangan emosi anak di kemudian hari. Bahkan, stress terus-menerus yang terjadi selama masa kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir bayi yang rendah, serta meningkatkan resiko si kecil mengalami gangguan emosi dan hambatan kognitif kelak.

Peningkatan hormon glukokortikoid, yakni hormon yang membantu metabolisme karbohidrat dalam tubuh, yang timbul bila ibu stress, di duga berpengaruh dalam pembentukan system saraf pusat janin. Yakni, meningkatkan resiko terjadinya disfungsi perkembangan system saraf pusat di kemudian hari.

Stress juga diduga akan menghambat aliran oksigen ke janin. Padahal kurangnya asupan oksigen dapat mengganggu perkembangan otak. Untuk mengatasi stress, olah raga merupakan pilihan yang tepat, apalagi, bila anda berolahraga, maka aliran darah ke seluruh tubuh dan juga aliran oksigen menjadi semakin lancar. Di samping itu, penyebab stress juga perlu dilacak serta dicarikan jalan keluarnya.  

Sumber  Majalah ayahBunda


Friday, October 22, 2010

Kiat Pendidikan Islami Sejak Dini pada Anak

Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak.




Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula anak-anak kita kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung dengan bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang cukup Islami.

Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang hubungannya dengan Sang Pencipta? Nasehat apa yang akan kita berikan pada anak-anak ketika kita menjelang ajal, sehingga ketika kita dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt tentang anak-anak kita, kita mampu menjawab, "Ya Allah, aku membesarkan anak-anakku dengan ihsan (sempurna) semampu yang saya bisa, agar taat dan tunduk pada ajaran-Mu."

Di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini. Tugas mendidik, menjaga dan melindungi anak dari pengaruh buruk arus globalisasi dan modernisasi, bukan perkara yang ringan. Bekal pendidikan dari sekolah berkualitas, menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin serta moral tidak cukup, jika tidak diimbangi dengan bekal pendidikan agama yang baik.

Bekal pendidikan rohani yang harus para ibu tanamkan sejak dini adalah membangun keyakinan yang kuat dalam hati mereka tentang ke-esa-an Allah Swt, mengajarkan rasa cinta yang besar pada Nabi Muhammad Saw dan mengajarkan mereka nilai-nilai serta ketrampilan yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka saat dewasa nanti.

Sejak dini, tanamkan pada diri anak-anak tentang konsep Tiada tuhan Selain Allah. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa Allah Mahatahu apa yang ada di bumi dan di langit, agar anak-anak selalu menjaga ucapan dan tindakannya. Beritahukan pada anak-anak, apa sesungguhnya tujuan hidup ini dan arahkan mereka agar tetap fokus dan memiliki visi yang jelas tentang konsep hidup.

Itulah tantangan bagi para ibu untuk menghasilkan generas-generasi muslim yang hebat dan bermanfaat bagi umat. Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi sosial, emosi dan spiritual. Tentu saja untuk melakukan itu semua, para ibu harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak. Tips-tips berikut bisa menjadi acuan bagi para ibu dalam menerapkan pola asuh dan pendidikan bagi anak-anak di rumah, agar menjadi generasi yang Islami:

1. Setiap anak itu unik
Kita harus memahami bahwa setiap anak terlahir unik. Pahami bahwa setiap anak lahir sebagai individu yang mewirisi kualitas kepribadian yang berada di luar kendali orang tua. Itulah sebabnya, orang tua harus mampu mengidentifikasi karakteristik yang unik dan perilaku anak-anak kita, tanpa harus mencetak dan mendorong anak-anak ke arah yang orang tua sukai. Jika kita memahami hal ini, kita akan memberikan pengasuhan, bimbingan dan dukungan yang anak-anak butuhkan untuk melengkapi potensi yang telah Allah berikan pada mereka.

2. Membangun dan menanamkan tentang kasih sayang Allah Swt pada anak-anak
Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (Surat At-Tahrim;6). Tanamkan pada anak-anak bahwa tentang kecintaan dan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi adalah atas kehendak Allah. Ajarkan mereka selalu mengucapkan "La illaha illah Allah; jika anak meminta sesuatu, katakan pada mereka untuk berdoa, meminta pada Allah karena Allah yang memiliki segala sesuatu. Ajarkan kecintaan pada Allah saat santai dan berbincang-bincang dengan anak, agar mereka mudah memahami mengapa manusia beribadah, harus taat dan melaksanakan ajaran-Nya.

3. Salat
Rasulullah Saw berkata, "Ajarilah anak-anakmu salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan ketika mereka berusia sepuluh tahun, hukumlah jika mereka melalaikan salat.". Orang tua harus membiasakan mengajak anak salat tepat waktu. Jadikah salat berjamaah sebagai kebiasaan dalam keluarga, bahkan jika anak masih di bawah umur, tak ada salahnya selalu mengajak mereka salat. Jika kewajiban salat sudah melekat kuat dalam diri anak, maka anak-anak akan terlatih untuk salat dengan khusyuk.

4. Kegiatan Sosial
Ajaklah anak-anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sosial, berjalan-jalan ke taman, berkunjung ke kebun binatang atau museum, belajar berenang, bertaman, mengamati matahari tenggelam, dan kegiatan lainnya. Sebisa mungkin, jauhkan anak dari kebiasaan nonton tv dan isi waktu luang mereka dengan aktivitas fisik, misalnya melakukan olahraga yang mereka sukai.

5. Berkumpul dengan Keluarga
Biasakan berkumpul dengan seluruh keluarga, mendiskusikan berbagai isu yang merangsang semua anggota keluarga mengemukakan pendapatnya. Kebiasaan ini melatih rasa percaya diri anak dan kemampuannya bicara di muka umum dan akan mengakrabkan sesama anggota keluarga. Kebiasaan berkumpul ini juga bisa dilakukan dengan cara memainkan permainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga atau memanfaatkan waktu makan, dengan membiasakan makan bersama.

6. Membangun kesadaran pada anak-anak akan pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan hidup
Kesadaran ini harus dimulai dari rumah sendiri, dengan melibatkan anak-anak dalam urusan pekerjaan rumah. Mintalah anak memilih pekerjaan rumah apa yang bisa ia lakukan, apakah menyapu, mengepel, mencuci piring, untuk membantu meringankan tugas ibu di rumah.

7 Komunikasi
Komunikasi adalah ketrampilan yang paling penting yang akan dipelajari anak-anak. Bicaralah pada anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Rasulullah Saw mencontohkan, saat bicara dengan anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas sehingga anak-anak mau mendengarkan dan bisa memahami apa yang disampaikan.

8. Disiplin
Kita tahu bahwa disiplin dan pengendalian diri merupakan karakter utama seorang muslim. Kita belajar dan melatih diri tentang kedisiplinan dan pengendalian diri melalui ibadah puasa dan perintah Allah itu menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dalam Islam. Orang tua harus menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak, dan apa konsekuensinya jika hal itu dilanggar. Tentu saja larangan itu dalam batas-batas yang wajar. Misalnya, orang tua tidak melarang anak nonton tv sama sekali, tapi memberi batasan berapa lama anak boleh nonton televisi, misalnya cuma 30 menit. Orang tua juga harus menepati janji jika menjajikan sesuatu pada anak, karena jika tidak, anak akan menganggap orang tuanya tidak bisa dipercaya.

9. Rutin
Membiasakan anak-anak melakukan tugas-tugasnya dengan rutin, misalnya salat tepat waktu, membaca dan menghapal Al-Quran, membaca hadis, membiasakan membaca doa-doa Rasulullah sebelum tidur, beramal meski cuma dengan senyum, dan kebiasaan lainnya yang akan menjadi kegiatan rutin bagi anak kelak.

10. Memberikan Teladan yang baik
Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik bagi kaum Muslimin. Bacakanlah kisah-kisah tentang Rasulullah Saw, pada anak-anak agar anak-anak mengikuti Sunah-Sunahnya dengan rasa cinta. Bacakan pula kisah-kisah tentang para nabi, sahabat-sahabat Nabi, dan pahlawan-pahlawan dalam sejarah Islam sehingga tumbuh rasa cinta anak pada Islam.

11. Melakukan perjalanan yang menyenangkan
Perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus selalu mengunjungi tempat-tempat wisata, tapi bisa juga mengunjugi masjid-masjid lokal. Kunjungan ke masjid sekaligus mengajarkan anak tentang bagaimana etika berada di dalam masjid dan menumbuhkan rasa cinta pada masjid, terutama bagi anak lelaki. Selain masjid, ajaklah mereka berkunjung ke tempat-tempat bersejarah Islam agar mereka tahu warisan-warisan budaya dan sejarah Islam.

Tips-tips di atas cuma menjadi acuan bagi para orang tua, khususnya para ibu untuk menanamkan pendidikan yang Islami sejak usia dini. Tentu saja ikhtiar ini harus didukung oleh doa orang tua yang tak putus-putus untuk anak-anak mereka, agar harapan akan anak-anak yang bertakwa pada Allah Swt terkabul. (ln/Khafayah Abdulsalam-ProdMuslim)

Delapan Kunci �Menjaga� Anak

Selain delapan �kunci�, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya

Hidayatullah.com--Anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta�ala. Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut.

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana dunia dan akhirat.

Bukan satu dua kali kita dikejutkan dengan pemberitaan akibat ulah anak-anak kita. Seorang siswa yang sopan, tiba-tiba bisa bunuh diri. Seorang mahasiswa yang ketika di rumah kalem, tiba-tiba bisa menjadi perampok bahkan memperkosa atau membunuh teman dekatnya. Yang tak kalah mengejutkan, berita terbaru dari Jawa Timur, seorang gadis belia, sudah mampu menjadi bos mucikari dan agen pelacuran. Sungguh mengagetkan.

Ada apa yang salah dengan kita, para orangtua? Bukankah kita semua ini, adalah para sarjana dan orang-orang terdidik?

Akidah yang Benar


Sesungguhnya, agama kita (Islam) telah menetapkan banyak hal, termasuk masalah pendidikan pada anak. Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya melenceng.

Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda, �Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.� (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Memohon Pahala


Rasulullah bersabda, �Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.� (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas�ud)

Diingatkan Shalat

Shalat merupakan kewajiban paling utama seorang hamba terhadap Allah. Rasulullah menegaskan, �Perintahkan anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.� (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

Menuntun Berakhlak Baik dan Memperbaiki Kesalahan

Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu �anhu saat masih kecil dalam asuhan Rasulullah, tangannya ke sana ke mari di atas makanan. Dia bersabda, �Wahai anak, bacalah �Bismillah�, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu.� (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah)

Memisahkan Tempat Tidur

Memasuki usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya. Anak-anak pada usia ini sudah terhitung dewasa dan mendekati masa baligh (puber), gairahnya mulai muncul. Maka memisahkan tidur mereka akan mencegah petaka yang tidak diinginkan. Rasulullah bersabda, ��pisahkanlah tempat tidur mereka.� (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

Berlaku Adil

Tidak bijak bila membeda-bedakan anak dalam berinteraksi dan menafkahi. Perlakuan pilih kasih kerap membawa permusuhan di antara saudara. Hal itu merupakan bentuk kezhaliman terhadap anak.

Rasulullah bersabda, �Aku tidak akan bersaksi atas suatu kejahatan, takutlah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu.� (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu�man bin Basyir)

Lemah Lembut, Bermain, dan Mencium

Rasulullah tidak segan mengajak anak-anak untuk bermain, berlaku lemah lembut, serta mendekati dan mencium mereka. Simaklah bagaimana cara Rasulullah memanggil mereka, �Wahai anakku.�

Tegas Saat Diperlukan

Anak yang tidak pernah mendapat hukuman (saat diperlukan) akan mempunyai tabiat yang kurang bagus. Hendaklah orangtua bisa menunjukkan kepada anak-anak dan keluarganya bahwa dia adalah orang yang tegas dan keras saat kondisi mengharuskan itu.

Rasulullah pernah bersabda, ��pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun.� (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Juga, �Gantunglah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluargamu, karena hal itu akan menjadi sebuah pelajaran.� (Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)

Selain yang terurai di atas, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak).
 
Sumber :  hidayatullah.com
 

Saturday, September 18, 2010

"Epilog Ayah dengan Putrinya"

Mentari baru saja terbenam ketika kami menutup silaturahmi di apartemen seorang sahabat. Silaturahmi yang berbentuk pengajian berbonus acara makan-makan alias 'proyek perbaikan gizi mahasiswa' memang kebutuhan yang tak terhindarkan bagi warga Delft.
Sejalan dengan waktu, satu persatu rekan yang tempat tinggalnya jauh mulai berpamitan. Sementara, saya dan beberapa teman masih enggan beranjak dari tempat duduk. Kami terkesima mengamati seorang bapak, salah seorang sahabat kami, yang sedang mengasuh putrinya yang masih kanak-kanak. Bapak itu tengah bermain dan bercanda dengan buah hati kesayangannya.

Sang putri terlihat begitu asyik dan teramat menikmati guyonan dan bulir-bulir kebijaksanaan yang keluar dari lisan ayahandanya. Sedangkan sang ayah pun kelihatan sangat memaknai perannya saat itu. Sesekali sang putri kecil mendelik tajam ke arah ayahnya, pertanda tak setuju. Terkadang wajahnya memberenggut manja, menunjukkan sewotnya saat sang ayah melarangnya. Namun sesaat kemudian rona bahagia kembali terpancar di wajah riangnya.

Hubungan ayah dengan anak perempuannya memang khas. Apabila pada anak laki-laki dibebankan berjuta harapan, kebanggaan serta idealisme. Maka hubungan ayah dan puterinya lebih mengarah pada keakraban sentimentil-psikologis yang sangat ekslusif dan sulit dideskripsikan. Begitu unik namun halus hingga sering luput dari pengamatan.

Hubungan kasih sayang yang sepertinya hanya dipahami oleh sang ayah dan putrinya itu sendiri. Ayah dan anak perempuannya seolah memiliki bahasa dan dunia tersendiri bagi arena cinta mereka. Bahkan ada pendapat yang latah mengatakan, "seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya".

Tarikan kasih sayang yang begitu kuat ditemukan pada hubungan antara Nabi Shallahu 'Alaihi Wasallam dan Fatimah Az-Zahra ra putrinya. Rasulullah menyimpan cinta yang mendalam kepada salah seorang wanita terbaik sepanjang masa ini.

Jika Fatimah datang menemui Nabi, Ayahnya itu menyambutnya, dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk.

Kedekatan Ayah dan putrinya ini membuat Rasul sangat memahami Fatimah. Kegembiraan Fatimah adalah kegembiraan Rasulullah. Demikian pula sebaliknya, kesedihan dan kerisauan Fatimah adalah kesedihan bagi Rasul. Pembelaan Rasul menjadi haknya. "Fatimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku" (HR. Muslim).

Dalam hadist yang serupa, "Fatimah adalah bagian dari diriku; apa yang meresahkan dia, akan meresahkan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya, akan menyakiti hatiku juga"

.Bahkan, melihat keakraban Rasulullah dengan Fatimah, Aisyah ra pun acapkali dibuat cemburu.

Fatimah diriwayatkan mewarisi banyak kemuliaan ayahnya. Sebagaimana suaminya Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhahu, Fatimah tumbuh dalam didikan Rasulullah. Disitulah transfer kemuliaan dan keshalihan dari laki-laki terbaik kepada perempuan utama itu berlangsung.

Rasul juga sangat memuji keshalihan dan keutamaan puterinya itu, "Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim" (HR. Ahmad).

Secara historis, kedekatan Ayah dan putrinya ini sudah sepatutnya karena Fatimah tumbuh dewasa dalam kasih sayang dan didikan ayahnya. Ibunya, Khadijah ra meninggal dunia ketika Fatimah masih kanak-kanak. Kedekatan hubungan ayah dan anak ini seperti tak dapat dipisahkan dunia. Tak lama setelah Rasul wafat, Fatimah adalah kerabatnya yang pertama menyusul meninggal dunia.

Selain kemuliaan dan kemiripan fisik, Fatimah juga dikisahkan memiliki kebersahajaan hidup yang menjadi identitas Rasul. Pengabdian Fatimah kepada ayahnya pun luar biasa hingga Rasul menggelarinya Ummu Abiha; ibu dari ayahnya. Ungkapan sayang, pembelaan dan bangga Rasul memang pantas menjadi milik putrinya itu. (Muraza)

Ayah, Ibu, jangan murtadkan anakmu !!

"Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal," ujar seorang ibu muda dalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukup mewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi oleh sumbangan alunan suara merdu anaknya. "Kalo' aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal," timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasil obrolan ibu-ibu yang ikut mengiring anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauh dari seputar obsesi para ibu kalangan elit itu terhadap anak-anak mereka.

Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti pada orangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya.

Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak "jauh panggang dari api" alias berbanding terbalik.

Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah 'Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah.

Al Qur'an menegaskan hal itu. "Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab; "Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini." (Surat Al A'raf 172).

Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah 'Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya?

Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, "Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani." (hadits shahih).

Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.

Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya." (Ar Ruum : 30) .

Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaan kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya.

Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.

Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya.

Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na'udzubillah min dzalik.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: "Ayah, ibu, jangan murtadkan anakmu!" Wallahu a'lam. (sulthoni)