Latest News

Showing posts with label Dunia Dosen. Show all posts
Showing posts with label Dunia Dosen. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

MANUSIA BERJUDUL DOSEN



Berkatalah seorang bijak pada suatu RUANG dan WAKTU yang lalu : "Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
 
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.

Seorang filsuf Inggris
JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.

jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa,
KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.

Mana yang akan anda pilih,sebuah buket kembang atau sebungkus benih? Mungkin kebanyakan diantara kita memilih buketnya. Tetapi jika anda seorang pendidik, anda menyadari keterbatasan keterbatasan dari bunga-bunga potongan, betapapun indahnya mereka, dan kemungkinan besar anda akan memilih meluangkan waktu untuk mengumpulkan, memilih dan menanam benih tersebut. Bisa saja seorang
Abraham Lincoln disambut dengan guyuran bunga andaikata ia menyerah pada tuntutan para colonial, tetapi ia memilih menanam biji kemerdekaan bagi tiap orang dan dengan demikian ia menjadi pemimpin terbesar sepanjang zaman.

Pada kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman, dan rangkuman pengalaman mengajar , dan kiat-kiat mengajar. Diperoleh hasil rumusan mengenai kriteria mental sosok seorang pengajar yang ideal diluar persyaratan gelar yang juga merupakan suatu keharusan , tetapi rumusan ini lebih condong pada kebutuhan pertimbangan etik .


  1. DOSEN YANG PANDAI MENGAJAR
    adalah ; manusia yang mempunyai keyakinan mengajar dan percaya penuh kepada kemampuannya untuk mendidik, (bukan ditentukan pintar atau tidaknya otak pikiran seseorang, karena pintar adalah kalimat penyataan relatif didunia ini), sedangkan Dosen yang tidak baik akan terlalu banyak membuat larangan untuk anak - didiknya.
  2. DOSEN YANG BIJAK
    adalah ; manusia dosen yang harus dapat menemukan perbedaan setiap insan mahasiswanya, karena setiap orang berbeda, sehingga perlu bagi dosen untuk peka dan menemukan perbedaan-perbedaan dan keunikan setiap pribadi, lalu memimpin mereka untuk menggali keistimewaan dan keunggulan masing-masing keunikan mereka.
    Kenapa...?

    Karena dosen yang bijak bukan hendak membangun perumahan perumahan BTN yang seragam, dosen adalah ARSITEK setiap individu yang membangun dengan cara dan disain yang berbeda-beda.
  3. DOSEN YANG AGUNG
    adalah; manusia yang tidak bisa mengubah pembawaan dan kecenderungan temperamen seorang mahasiswa, namun dosen harus peka untuk melihat arah, dengan demikian dosen akan berjalan didepan mahasiswanya sebagai penuntun jalan. Pepatah mengatakan "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari"
  4. DOSEN YANG MULIA
    adalah; Manusia yang yang dapat menciptakan 'kehausan' pada diri mahasiswanya, karena sifat dasar manusia adalah keingintahuan yang besar. Dan kala 'Kehausan' ini ada didalam jiwa mahasiswanya maka timbul ambisi untuk belajar dan inilah KEKUATAN PENDIDIKAN.
  5. DOSEN YANG TERPERCAYA
    adalah; Manusia yang melakukan kontak pribadi dengan pribadi, janganlah dosen hanya mengontak mahasiswa/i dengan hanya berpegang pada peraturan kampus atau dengan pengajaran dan kurikulum kampus, hendaklah dilakukan kontak jiwa kejiwa, hati kehati, pikiran ke pikiran dan emosi ke emosi, maka dosen akan tampil dengan pribadi yang dihormati dan dikagumi oleh mahasiswanya. Otomatis aktivitas pendidikan akan menjadi hidup dan tidak merupakan aktivitas statis.
Seorang sahabat pernah berkata;
"Keanekaragaman manusia dengan berbagai jenis disiplin ilmu membuat sudut pandang lebih objektif, dan sketsa 'kehidupan' ilmu pendidikan semakin bisa dicerna oleh setiap insan manusia.

Sumber:
Manusia Berjudul Dosen

Tips Menjadi Mahasiswa Sukses



Anda mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta, tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo :) Apa salah jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan bisa bikin semangat bangkit.

1. Bangun tidur, berdiri di depan kaca, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kos-kosan ini (Ya soalnya anda sendirian sekarang :D ) Kalau anda merasa itu kurang, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kelas anda atau terganteng di kampus anda. Yakinilah bahwa anda adalah manusia pilihan, paling tidak terpilih sebagai wakil desa anda yang bisa kuliah di universitas ini. Atau kalau lebih pede lagi, bilang bahwa andalah makhluk terbaik di muka bumi, ya memang benar, paling tidak dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan :P

2. Mandi yang bersih, sisir dan rapikan rambut anda. Ambil handphone, bikin senyuman paling manis, foto wajah anda. Ulangi lagi kalau masih kurang enak dilihat. Kalau sampai 10 kali jepretan masih juga kurang enak di lihat, ambil secara acak saja. Mungkin wajah anda memang tidak terlalu enak dilihat :)

3. Nyalakan komputer, akses internet, nggak usah ke mana-mana, langsung saja buka http://wordpress.com. Buat account blog di sana.

4. Renungi hidup anda, ingat-ingat lagi perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang dan apa yang telah anda lakukan. Masuk ke menu administrasi http://wordpress.com, klik Write->Page. Buat tulisan dengan judul About Me, tuliskan resume, kisah hidup dan Curriculum Vitae (CV) anda. Tuliskan “apa saja” seluruh kegiatan anda di sana. Dari lahir, SD, SMP, SMA dan kuliah. Pernah jadi ketua OSIS, sekretaris, bendahara atau pesuruh OSIS? Atau pernah ikutan nyembelih kambing kurban, pernah jadi penjaga masjid, pernah bikin workshop komputer, pernah menang lomba balap karung, cerdas cermat atau lomba gambar di kampung. Tulis semuanya. Kerahkan seluruh ingatan anda, anggap saja nostalgia. Sekali lagi, tulis semua, apapun yang anda lalui di “Page” berjudul About Me tadi. Sudah puas? Klik “Publish“. Kalau ada yang kurang tambahi lagi, kalau merasa halaman itu nggak cukup dan harus tulis dalam OO Writer atau MS Word, copy and paste saja draft tadi. Jangan lupa convert ke PDF dan upload di halaman About Me. Perbaiki terus CV anda setiap ada kegiatan yang anda lakukan, sekecil apapun. Beri juga skrinsyuut kalau diperlukan. Oh ya, foto manis anda tadi jangan lupa dipasang di halaman About Me, kalau pingin contoh, termasuk gimana nempatan CV versi PDF cek di sini deh :)

5. Sekarang ayok berdiri, jalan ke meja belajar anda. Kenangi kehidupan kampus anda, senangnya ketika diterima di universitas ini, semangatnya ikutan ospek (atau apa ya namanya sekarang?), dosen-dosen anda yang baik dan menyenangkan, nilai mata kuliah anda yang naik turun (yang pasti lebih banyak turunnya ;) ), dan mungkin juga teman-teman mahasiswi anda yang sudah menolak cinta anda :) Kenang semua. Olala, ada kenangan manis disaat anda berjaya dengan satu mata kuliah yang anda senangi, dosennya juga maknyus kalau ngajar, dan anda akhirnya anda mendapatkan berkah nilai A diantara tumpukan nilai C, D dan E.

6. Mata kuliah apa itu ya, yang dulu anda senangi? Cari buku catatan anda, obrak abrik meja belajar untuk nyari buku textbook mata kuliah itu. Ketemu? Oalah anda ternyata jagoan Rekayasa Perangkat Lunak. Ok sekarang lihat lagi tulisan di buku catatan anda yang sudah lusuh. Cocokan dengan buku textbook. Sekarang tulis kenangan anda tentang mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu. Jangan tulis yang lain, konsentrasi saja ke satu mata kuliah itu. Tulisan apapun asal berhubungan dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Satu topik tulisan cukup 4-6 paragraf saja, jangan kepanjangan. Kalau belum puas, buat lagi topik lain, batasi juga 4-6 paragraf. Nulisnya di Write->Post lho ya, jangan lupa.

7. Kurang bahan? Dulu kayaknya pernah pinjem buku bagus tentang Rekayasa Perangkat Lunak di perpustakaan? Ok, kebetulan dah masuk waktu dhuhur dan makan siang. Jangan lupa mampir dulu untuk sholat dhuhur di masjid samping kos-kosan, dan makan siang di warteg andalan. Ok, genjot sepeda ke kampus, langsung ke perpus. Cari buku kenangan anda tadi. Juga cari banyak berita dan tulisan populer tentang software dan metode pengembangan. Kalau perpus ada internet, balik lagi ke http://wordpress.com anda. Lanjutkan tulisan-tulisan anda.

8. Ops nggak terasa sampai maghrib di perpus. Sholat, makan malam dan pulang. Ingat-ingat deh dulu kayaknya pernah ngerjain Tugas Mandiri berhubungan dengan software? Ok kumpulin file-filenya yuk. Dari mata kuliah apa saja lah, bisa Rekayasa Perangkat Lunak, Dasar Pemrograman, Pemrograman berorientasi Obyek, atau apapun. Kalau ada program yang dulu dibuat juga kumpulin. Dibahas saja program yang pernah dibuat, sekaligus dibagi gratis tuh codenya. Walah bisa jadi satu kategori baru tuh di blog :)

9. Sebelum tidur, baca bismillah, dan ucapkan syukur hari ini anda sudah melakukan kegiatan yang sangat baik dan produktif, kegiatan yang bisa membanggakan orang tua, teman, tetangga, dan dosen anda. Dan Insya Allah bisa menjadi bekal kontribusi anda ke republik tercinta ini.

10. Bangun pagi, nggak usah kebanyakan tidur, anda bukan bayi lagi :) Sholat shubuh dan lanjutkan petualangan hidup anda.

11. Sebelum masuk kuliah baca-baca buku dulu deh, hari ini pak dosen mau ngajari apa, siapa tahu bisa jadi bahan tulisan. Kalau ada waktu pagi bikin resume atau rangkuman bab yang pak dosen akan ajar. Insya Allah saya jamin anda akan masuk ke kelas dengan suasana yang berbeda. Anda tidak lagi tidur. Horeeee! Lho kok bisa, ya soalnya anda jadi pingin konfirmasi ke pak dosen, yang anda pahami dari rangkuman tadi bener nggak. Dan anda akan nyimak karena anda berharap bisa jadi bahan tulisan. Ada kemungkinan anda akan lebih pinter dari pak dosen, karena kadang saking sibuknya ngerjain proyek, pak dosen kadang lupa belajar … hihihi. Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab pak dosen, anda angkat tangan saja, bilang bahwa pernah mengupas tuntas masalah itu, sebutkan URL blog anda. Bantu dosen anda jawablah, siapa tahu malah nanti diminta bantu dosen ngerjain proyek atau malah jadi asisten dosen. Cuman jangan galak-galak sama adik kelas yah, jaman dosen bangga karena nggak ngelulusin mahasiswa sudah kuno. Yang trend sekarang dosen gaul, kayak si broer sang dosen flamboyan (ngajar di semua kampus di jakarta bo) dan mbah IMW dari gundar :)

12. Lanjutkan perdjoeangan. Mudah-mudahan semester ini tumpukan nilai A anda semakin banyak. Dan Insya Allah saya jamin, anda tidak akan kesulitan ngerjain skripsi atau TA di semester akhir. Kok bisa? Ya, anda sudah terbiasa banyak baca dan nulis, ini modal penting bikin skripsi. Logikanya kalau anda banyak nulis, pasti banyak baca tho :) Jangan lupa untuk submit artikel-artikel anda di IlmuKomputer.Com, prosedurnya ada di sini nih. Ini penting karena kabarnya numpang nampang di IlmuKomputer.Com bisa bawa hoki, bisa dapat jodoh, pekerjaan, project atau ketularan gemuk dari foundernya. Yang pasti bisa bantu ningkatin traffic blog anda :)

13. Kalau kebiasaan 1-12 anda lakukan sampai anda lulus, Insya Allah anda tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Justru pekerjaan yang akan mencari anda. Tulisan-tulisan anda di blog sudah di-indeks oleh banyak mesin mencari. Bahkan mungkin kalau orang googling dengan keyword “Rekayasa Perangkat Lunak Indonesia“, yang muncul nomor satu adalah blog anda. Anda nggak perlu bawa CV ke mana-mana karena anda sudah tulis di blog anda. Tentu anda akan semakin surprise kalau ada penerbit yang nawarin membukukan tulisan-tulisan Rekayasa Perangkat Lunak yang anda telateni selama ini. Kesempatan jadi dosen bukan mimpi lagi, lha wong yang nulis bukunya anda je. Wajar tho sekalian ngajar ;) Malah anda mungkin sudah ditokohkan oleh masyarakat Indonesia di bidang Rekayasa Perangkat Lunak? Amiiin. Cuman jangan sombong, sombong itu temannya setan :)

14. Akhirnya, alhamdulillah anda telah sukses melewati kehidupan mahasiswa anda dengan baik. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena perdjoeangan anda sendiri, karena tangan anda sendiri, dan tentu saja pertolongan dari yang DIATAS. Jangan lupa, tetap lanjutkan perdjoeangan di kehidupan baru.

Source :
http://romisatriawahono.net/2008/01/29/tips-menjadi-mahasiswa-sukses/

Friday, November 11, 2011

Para guru butuh "mimpi"

Besar sukses Anda ditentukan oleh seberapa kuat keinginan Anda; ditentukan oleh seberapa besar mimpi Anda; dan ditentukan oleh kecakapan Anda dalam mengatasi kekecewaan yang Anda alami
(Robert T. Kiyosaki)
Jika Anda memiliki cita-cita lebih besar daripada keadaan Anda saat ini, Anda akan heran dengan kekuatan Anda yang sebenarnya
(Barack Obama)

TENTU saja mimpi yang dimaksud di sini bukan sebagai �bunga tidur�, melainkan mimpi yang kita miliki ketika kita terbangun, alias cita-cita. Ir Soekarno, presiden pertama republik ini pernah berkata, �gantungkan cita-citamu setinggi langit�. Ya�, Presiden Soekarno, menyeru pada bangsanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi serta semangat heroik perjuangan yang tinggi untuk merengkuhnya.
Semua orang sukses pasti pada awalnya adalah mereka yang memiliki mimpi. Kekuatan mimpi inilah yang akhirnya menuntun para tokoh besar untuk meraih sukses, demikian pula saya kira amat menentukan kesuksesan seorang guru.

Mimpi yang punya kekuatan
Mimpi bagaimana yang memiliki kekuatan dahsyat, yang sudah seyogyanya dimiliki oleh para guru?
Pertama, Berorientasi Perubahan. Salah satu kriteria mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat adalah mimpi yang berorientasi pada perubahan, tentu saja perubahan positif. Misalnya: ibu Teresa, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan juga tokoh nasional kita Ibu Kartini. Tokoh-tokoh hebat ini ternyata memiliki mimpi yang sangat berorientasi pada perubahan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi terutama bagi banyak orang. Mimpi seperti ini mendorong banyak orang juga untuk membantu para tokoh tersebut mewujudkan perubahan yang ingin mereka ciptakan.
Kedua, Fokus ke masa depan. Mimpi tentang masa lalu tidak termasuk dalam mimpi yang memiliki kekuatan untuk meraih sukses. Sebaliknya, mimpi yang berorientasi ke masa depanlah yang memiliki kekuatan menuntun seorang guru meraih sukses.
Ketiga, Jelas. Satu lagi kriteria utama yang harus dimiliki sebuah mimpi agar mampu mempunyai kekuatan dahsyat adalah kejelasan. Artinya, semakin jelas dan terperinci mimpi yang dimiliki, semakin mudah bagi seorang guru untuk mengatur rencana dan strategi untuk mewujudkannya.

Fungsi Mimpi Bagi Seorang Guru
Setelah kita mengetahui kriteria dari mimpi yang memiliki kekuatan dahsyat di atas, selanjutnya tentu kita ingin mengetahui apa saja kekuatan mimpi yang bisa para guru manfaatkan untuk meraih sukses sebagai seorang guru?
Pertama, Kekuatan Motivasi. Mimpi seorang guru idealnya mampu memberikannya motivasi untuk berencana, bertindak, dan mengatur strategi dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan memiliki mimpi juga seorang guru terpacu berusaha memulai langkah pertama menuju sukses yang ia impikan sebagai seorang guru. Tentu saja, guru yang punya semangat (karena mimpi-mimpi yang ia punya), punya peran positif dalam tumbuh kembang anak-anak didiknya.
Kedua, Kekuatan Arah. Selain mampu memberikan motivasi yang kuat untuk bertindak, mimpi yang terperinci juga mampu memberikan arah yang jelas bagi seorang guru ke mana ia harus melangkah, mengambil solusi yang tepat sehubungan dengan persoalan-persoalan pendidikan di sekolah. 
Ketiga, Kekuatan Menggulirkan Perubahan. Kekuatan yang juga sangat penting adalah kekuatan menggulirkan perubahan. Tanpa mimpi tak akan ada perubahan. Mimpilah yang membuka jendela ke perubahan positif di masa depan. Melalui mimpi kita bisa melihat masa depan yang bagaimana yang ingin kita ukir. Gambaran perubahan positif di masa depan inilah yang akhirnya mendorong kita mewujudkan perubahan tersebut. Hal ini juga yang dialami misalnya, Ibu Kartini, yang ingin mengubah derajat para wanita, dan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui pendidikan. Ia pun lalu terdorong mendirikan sekolah bagi para remaja putri dan wanita. Ia yakin bahwa pendidikan dapat mendongkrak derajat para wanita ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, ia juga �mempromosikan� mimpinya tersebut kepada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya mampu membantunya mewujudkan mimpi tersebut. Hal ini dilakukannya dengan menuliskannya pada surat-surat yang dikirimkannya pada teman dan sahabat. Kejelasan mimpi ini telah memberi kekuatan yang dahsyat kepada Ibu Kartini dan juga tokoh lain untuk mewujudkan mimpi mereka.
 
Seorang guru tidak akan pernah mencapai sukses sebagai seorang guru, jika dia tidak bermimpi kemudian bekerja keras siang malam untuk mewujudkan impiannya tersebut, menemukan terobosan-terobosan bagus untuk masa depan anak didiknya. Kerja keras seorang guru memang perlu. Namun hanya kerja keras tidaklah cukup untuk membangun sukses yang besar. Masih dibutuhkan mimpi dan cita-cita seorang guru, kerja cerdas, serta kreativitas seorang guru untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan ide-ide besarnya.
 
Maka para guru, gantunglah cita-citamu setinggi-tingginya jika ia berupa langit. Maka, selamlah cita-citamu sedalamnya lautan jika ia berupa samudera. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah takut pada rintangan. Jangan pernah takut pada ketinggian. Dan jangan pernah menyurut nyali pada kedalaman. Jadi, para guru marilah bermimpi untuk kesuksesan pendidikan kita, pendidikan bangsa ini ke depan!.***

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Saturday, October 15, 2011

CERITA DI BALIK STUDI LANJUT

 Oleh : Ibrahim*
 
Pasca Sarjana (bukan paska) berarti setelah sarjana. Dalam dunia akademik, pasca merujuk pada dua level: S2 (Magister) dan S3 (Doktor). Seperti piramida, kondisi pendidikan kita di negeri ini memang masih menempatkan sarjana di lapis bawah, magister di lapis kedua, dan doktor di lapis yang mengerucut paling atas dengan jumlah yang terbatas.

Namun perlahan-lahan, tampaknya piramida itu akan mulai tidak membentuk siku-siku karena saat ini trend untuk mengambil S2 dan S3 sedang mendera negeri ini. Apalagi Undang-Undang Sisdiknas mengatur bahwa seorang dosen minimal bergelar S2. Ternyata bukan hanya kalangan dosen saja yang mulai mengikuti kecenderungan itu, gelar magister dan doktor nyatanya kini menjadi semacam gengsi, banyak politisi dan pejabat yang sekarang memburunya, walau dengan berbagai rupa cara yang acapkali tak "prosedural".

Jika mengikuti prosedur yang baku, meraih gelar magister dan doktor tentulah tidak mudah. Bukan saja berhadapan dengan substansi keilmuan yang ingin diraih, tetapi juga berkaitan dengan teknis dan pembiayaan yang kadang tidak bisa diajak kompromi. Setiap orang pun punya cerita dan masalah sendiri-sendiri.

Senior saya, Dr. Edy Nurtjahya mengatakan tidak ada masalah ketika mengambil S2 di Inggris karena mendapatkan beasiswa, namun ketika S3 di IPB, ia menemui masalah. Masalahnya adalah beasiswa BPPS hanya tiga tahun, padahal ia belum selesai ketika beasiswa sudah berakhir. Cerita Pak Dedih Sapjah, S.T., M.Sc lain lagi. Selama studi di Belanda ia harus berpisah dengan sang istri dan anak-anaknya. Alhasil, ketika mendapatkan tawaran mengambil S3 di Inggris beberapa waktu lalu, sang istri tak membolehkan lagi.

Rektor saya di UBB punya kisah yang lebih unik. Selama 11 bulan menuntut ilmu di Filipina, ia meninggalkan istri yang sedang merawat anak yang masih kecil. Dalam sebuah kesempatan, istri pak rektor bertutur: "Wah dulu bapak itu waktu studi di Filipina sering sekali berkirim surat. Sebentar-sebentar kirim surat untuk memastikan kondisi anak-anak. Kadang surat satu belum sampai, terus bapak udah ngirim surat lagi. Bapak kan sayang banget sama anak-anaknya".

Kisah Pak Made, Dosen Polman juga unik, ketika studi di Belanda mengambil gelar master, dia meninggalkan juga anak istrinya. Ketika ada teman saya yang iseng bertanya bagaimana dengan urusan biologis, sambil tersenyum kecut Pak Made menjawab: "Yah, bisa-bisa kita mengendalikannya".

Kisah teman saya Zainudin lain lagi. Setelah tertatih-tatih menyelesaikan pendidikan sarjananya di Filsafat UGM, dia bingung harus bagaimana, namun tekadnya untuk melanjutkan ke pendidikan magister sangat menggebu. Setelah lulus, diapun bergegas pulang ke kampung halamannya di Bima. Setengah memaksa ia meminta orangtuanya menjual sebidang tanah yang mereka miliki. Hasilnya ia gunakan untuk mendaftar di S2 Politik UGM, sisanya ia membuka usaha rental komputer. Dari situ ia kemudian membiayai pendidikannya dan juga mampu membiayai kedua adiknya. Setelah lulus magister, ia melamar ke banyak tempat, dan lamarannya nyantol di Depdagri. Kini ia menjadi orang kepercayaan deputi di departemennya. Ini berkat kegigihannya untuk meraih tekad, meski dengan keras dan jalan terjal.

Teman saya, Norman Ary di Bioteknologi UGM kini mandek dalam studinya. Harusnya tahun ini ia sudah bisa merampungkan disertasinya dan akan menjadi lulusan ke-8 jurusan bioteknologi UGM, namun ketiadaan dana untuk membantunya membeli alat ukur eksperimen ikannya senilai 25 juta sebanyak 4 buah menyebabkan ia tak bisa mengalami kemajuan studi. Setiap bertemu saya, dari kejauhan ia sudah memukul keningnya dengan telapak tangan pertanda bahwa ia belum menemukan solusi.

Cerita Pak Tarmizi, guru saya, yang mengambil magister di UNY ketika saya akan menyelesaikan S1 lebih dramatis. Setelah nekat melepaskan jabatannya di sebuah sekolah bergengsi demi studi lanjut, ia masih harus berjuang dengan pembiayaan. Ia tidak mendapatkan sponsor darimanapun, dari institusinya pun tidak. Dengan gajinya yang terbatas, ia harus mampu membagi antara dirinya, anaknya, dan istrinya yang terpaksa ditinggalkan demi studi. Secara rutin kami bertemu, karena kos beliau yang ukuran 2,5 x 3 meter berada tepat di depan kos kami.

Masih tentang guru saya, Pak Paizal, ia mengambil program magister atas sponsor dari LPPM. Ketika ia bermaksud menghadap bupati menjelang penelitian untuk tesisnya, ia berhadapan dengan kalimat yang kurang menyenangkan: "Pada prinsipnya saya akan mengirimkan orang untuk studi berdasarkan kebutuhan, jadi saya tidak bisa bantu banyak". Bukannya berterima kasih karena salah satu stafnya dibantu oleh institusi lain, malah justru sang bupati terkesan kurang simpatik.

Saya sendiri, sejak awal sudah berprinsip bahwa saya tidak akan mungkin mampu mengambil doktor tanpa dukungan dari sponsor. Saya mengirimkan aplikasi beasiswa ke banyak negara tujuan. Respon yang bagus datang dari beberapa negara, seperti Prof. Knut di Norwegia, Prof Hans di Jerman, Profesor John Keane di Inggris, Prof. Gerald di Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Sambil itu, saya pun mengikuti seleksi di The Habibie Center yang setiap periode seleksinya memilih 5 orang seluruh Indonesia. Hasilnya, saya dinyatakan diterima di The Habibie Center dan memulai studi pada pertengahan tahun 2009 di UGM. Tentu saya harus cuti dari mengajar dan dikembalikan ke gaji pokok. Dengan mengandalkan tunjangan beasiswa dan gaji pokok, saya harus pintar-pintar memenej alokasi untuk studi, kebutuhan anak istri, dan kebutuhan tak terduga lainnya. Ini adalah konsekuensi dari pilihan yang harus dijalani dengan konsisten.

Kisah-kisah di atas adalah kisah orang-orang yang menghadapi masalah karena pilihan yang diputuskannya sendiri. Selain berhadapan dengan sulitnya mencari pendanaan, meninggalkan anak dan istri, mereka juga umumnya berjibaku dengan mekanisme pendidikan yang full dan tak kenal kompromi. Oleh tempat belajar, mereka ditempa secara maksimal untuk menguasai substansi keilmuan.

Tetapi di balik kisah-kisah itu, ada banyak kisah-kisah orang yang mendapatkan kemudahan ketika studi lanjut. Hanya dengan kuliah di hotel-hotel mewah tanpa meninggalkan jabatan dan anak istri. Atau dengan kuliah hanya akhir pekan saja. Atau kuliah sambil tetap mengajar dan menjabat. Atau dengan beramai-ramai naik pesawat ke kota tertentu untuk pertemuan secara berkala saja. Yah, begitulah dua sisi dunia. Yin dan Yang istilahnya jika dalam filosofi Cina.
 
*Dosen FISIP UBB Sedang Studi Doktoral di Ilmu Politik UGM

Friday, November 5, 2010

"Nge-blog wajib bagi para dosen, Gimana pak Rektor ?

"Salam Pak. Terima kasih mampir. Saya setuju utk melacak dosen2 yg menggunakan publikasi personal spt blog ini sbg educational tool"
 
Abdul ghaffar, dosen UGM

Sangat menarik Penulis mendapat balasan perlu adanya forum dosen sesuai dengan bidang profesinya salah satunya usulan dari Pak Abdul Ghafar, dosen UGM. Sarana komunikasi yang saya kira jauh lebih membumi dan karya intelektual anda sebagai dosen banyak dibaca publik dunia dan siapa tahu ada penerbit yang melirik dan menghargai seluruh karya intelektual anda, salah satunya melalui sarana webblog dan media yang sangat murah lagi gratis dan tidak perlu harus memposkan tulisan anda yang dikirimkan kemedia massa dan tentu saja usulan ini belum ada tanggapan serius dari beberapa dosen senior yang saya kira kalau kita lacak jumlahnya sangat banyak, apalagi bapak rektor seluruh indonesia, gimana pak Rektor ?

Apa perlu seorang dosen ngeblog kalau dilacak ternyata banyak juga dosen non- IT yang menjadikan blog sebagai sarana media publikasi tulisannya. banyak kendala yang sering terjadi dengan kegiatan blog ini seperti pemahaman terhadap dunia IT,  tidak semua dosen mengetahui ada media publikasi umum yang gratis dan independen bisa dikelola sendiri. seiring dengan perkembangan internet yang merambah fiture HP dengan adanya jejaring sosial seperti facebook ternyata sangat berperan cepatnya pengenalan dunia blog ini dikalangan masyarakat tanpa sekat dan tanpa ada pembatasan.

Penulis sendiri mulai belajar ngeblog meneganl blog ini sejak tahun 2007 secara otodidak melalui buku-buku dan tutorial blog yang bersamaan saat pertama kali disekolah dibuka jaringan internet, semuanya didasari rasa penasaran katanya ada sejenis web gratis yang bisa diutak-atik. Blog pertama yang dipelajari penulis adalah www.blogger.com dengan blogspot-nya. Salah satunya blogger kawakan saat itu A. Fatih Suhud dengan tutorial blog-nya yang pada waktu itu sangat terkenal sebagai suhunya dikalangan blogger Indonesia sampai blog-nya diblokir karena kepopulerannya yang menurutku saat itu sangat luar biasa yang kemudian beralih ke wordpress lagi-lagi dengan tutorailnya yang juga penulis mencobanya juga sampai sekarang dengan blog "The Managemen Lecture Resume", blog pertama di wordpress dengan beragam kategori ilmu manajemen.

Untuk dosen IT siapa yang tak kenal Romi Satrio Wahono dan  Yudi Sutarso, dosen STIE Perbanas Surabaya yang menggunakan blog sebagai sarana diskusi dan komunikasi khususnya untuk mata kuliah pemasaran (marketing).  Dari beliaulah aku punya ide untuk mendokumentasikan bahan pengayaan perkuliahan yang disunting kembali dari beberapa web dan blog untuk membantu kesulitanku sebagai dosen baru yang kurang sumber materi kuliah terutama untuk mata kuliah manajemen dan metodologi riset, sehingga lahirlah beberapa weblog : manajemen penelitian, manajemen komunikasi, manajemen organisasi, Informasi Dunia Pendidikan yang saat penulis coba kembangkan kembali dan mencoba merintis hasil tulisan dan curahan sendiri dan mengambil kutipan dan instisari dari tugas mahasiswa dalam bentuk resume perkuliahan. Selain tutorial bang Isnaeni dengan Isnaeni.com-nya yang juga ikut menyoroti dalam tulisannya "Dosen ngeblog?" Selain punya dream untuk menjadikan sebuah buku dan menerbitkannya. atau dikalangan blog khusus dunia pendidikan aku sangat salut dengan tulisan Ahmad Sudrajat, MPd yang bisa berbagi ilmu secara gratis.

Bagi penulis kegiatan ngeblog ini bukan hanya sekedar ephoria saja, atau sekedar iseng saja tapi benar-benar bisa bermanfaat bagi semua digunakan sebagai :
1). Media komunikasi dengan mahasiswa saat menyampaikan perkuliahan bisa menyimpan modul perkuliahan  di blog dan bisa digunakan membantu mahasiswa yang kebetulan tidak masuk kuliah dengan meng-copy paste catatan kuliah yang ditampilkan di blog, tentu nilai komersilnya hilang tapi nilai pembelajaran anda sebagai seorang tenaga pendidika punya value aded yang luar biasa, karena anda dianggap sebagai dosen yang capable dan selalu megikuti perkembangan IT.

2). Media dokumentasi keilmuan para dosen untuk materi perkuliahan, SAP, kisi-kisi perkuliahan, bank soal UAS/UTS, termasuk modul perkuliahan selama satu semester, daripada menyimpan data perkuliahan di flashdisk atau CD yang bisa rusak, blog bisa dijadikan alternatif anda untuk dokumentasi daftar nilai dan tugas mahaiswa atau bank ilmu khususnya resume buku-buku terbaru dari tugas mahasiswa.

3).Media publikasi pemikirannya dan anggap saja draft penulisan anda artinya di blog anda harus sudah memilahkan tulisan original anda berdasarkan kategori tulisan yang spesifik dengan sumber literatur yang dicantumkan dengan tulsian hasil suntingan dari weblog lainnya dan kemungkinan tulisan anda bisa dipublikasikan dalam sebuah buku, siapa tahu kalau tulisan anda menarik dan punya nilai jual bisa dilirik penerbit dan pemerintah akan kinerja sang dosen Indonesia yang katanya sangat malas meneliti dan menulis serta bisa saja ada konsorsium yang bisa memperhatikan dosen swasta sekali, karena belum dosen tetap dan diakui oleh kopertis bahkan untuk mendapat beasiswa-pun terhambat. he..he..curhat dosen.

4). Media promosi personal, siapa tahu jadi selebriti dunia maya he..he..seperti fenomena duo "keong racun" dan terakhir bisa dijadikan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen serta masyarakat akan pengetahuan perkulaiahn secara gratis, saya kira banayak pihak yang akan diuntungkan sebagai pencipta brach image bagi dosen yang untung juga publikasi gratis kampus kalau dosennya eksis dikenal masyarakat dan dunia maya yang begitu luas dan media yang sangat luar biasa jangkauan melebihi televisi dan media komunikasi lainnya.

5). Media berbagi kelimuan dengan siapa saja, walaupun awal pertama hanya untuk mahasiswa sebagai bahan perkuliahan tapi ternyata lebih luas bisa berbagai dengan masyarakat umum yang ingin belajar sebuah keilmuan, siapa tahu suatu waktu pembelajaran itu hanya cukup di dunia maya saja perkuliahannya sebagaimana yang telah dipraktikan di negara lain dengan e-learningnya.

Tidak ada alasan dosen tidak ngeblog dengan melihat nilai lebih diatas dengan memiliki blog gratis dan sangat credible bagi publikasi dan meningkatkan kinerja dosen yang akhir-akhir ini disorot sedang menurun

Nah, kira-kira kenapa ya, kampus-kampus beserta para dosen di dalamnya wajib nge-blog dan mulai melirik blog sebagai media alternatif.  Alasannya yang diungkapkan Blog Fakultas Teknologi Informasi Satya Wacana Business Center yang dilansir oleh http://www.ayongeblog.com
  1. Punya blog itu GRATIS
  2. Punya blog itu MUDAH
  3. Blog COCOK untuk profesi dosen
  4. Blog memberikan ALTERNATIF dalam publikasi
  5. Blog melatih kita BERPIKIR
  6. Blog dapat dipakai untuk PENGELOLAAN pengetahuan
  7. Adanya KOMUNITAS blogger
  8. Memiliki blog dapat dikatakan MODERN
Jadi, Pak-Bu Dosen, jangan kalah ya, sama juga mahasiswanya jangan tinggal diam kita budayakan nge-blog dikampus-kampus, dan jangan mau kalah juga sama dosen lainnya yang udah jadi blogger..

Wednesday, October 20, 2010

Guru Inspiratif

by Rhenald Kasali

Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok kiri dan kanan. Kalau menjawab "ya" mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antar geng. Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga kepada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relaks terhadap guru dan teman- temannya serta sepakat saling memperbarui hubungan.

Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Tulisan mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers. Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film Freedom Writers yang dibintangi Hilary Swank. Keluar dari belenggu Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Namun, entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita kian mengisolasi diri dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu kurikulum. Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan, meski pembacanya belum tentu memadai, dan rajin mengisi daftar absensi.

Dengarlah protes Kazuo Murakami PhD, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke AS saat menyaksikan dominasi guru-guru kurikulum di Jepang membangun benteng hierarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Meski belum menonjol di masyarakat, peran guru-guru inspiratif ini amat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih terbatas dan lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal. Ada dua masalah yang harus direnungkan.

Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student's ability), hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, tetapi ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat "Aku ingin jadi seperti dia" atau "Aku bisa lebih hebat lagi".

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons aneka tekanan eksternal dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Tiap upaya yang dilakukan para guru kreatif untuk meremajakannya dianggap ancaman, bahkan sebagai perbuatan tidak bermoral. Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang saya kenal. Pada tahun 2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya di bidang pendidikan. Saat itu, penghargaan serupa dalam setiap bidang juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Akan tetapi, tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar "kurikulum". Kesalahannya adalah telah memperbarui metode pengajaran agar murid-murid menjadi lebih artikulatif. Murid senang, tidak berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya nama dia dicoret dari daftar pengajar. Karier guru besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N Sheth, mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu inertia, yang disebutnya destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak  dimiliki. Sudah saatnya benteng inertia seperti ini dihapus dengan "memanusiawikan" kurikulum dan memberi ruang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.
 
 
Sumber : http://migas-indonesia.net

Manusia Berjudul Dosen

 Oleh R.Priyoko Prayitnoadi - UPT Bahasa Universitas Negeri Bangka- Belitung
Berkatalah seorang bijak pada suatu RUANG dan WAKTU yang lalu : "Para guru adalah Arsitek Jiwa Manusia"
 
Makna yang terkandung didalam kalimat tersebut, jelas mahasiswa dan Alumni suatu perguruan tinggi akan selalu menjadi cermin yang menyatakan segala kegagalan, kesuksesan dan kekurangan dari para guru / dosennya, inilah yang dinamakan REFLEKTOR MORALITAS.

Seorang filsuf Inggris JOHN LOCKE menyatakan hati seorang anak (calon Siswa Baru) merupakan "TABULA RASA" mempunyai arti ; Kertas kosong yang putih) dan tergantung apa yang akan diberikan kepadanya dan apa yang akan dituliskan kepadanya.

jika pernyataan ini dibaca dan dipahami dengan cermat, akan terlihat jelas setiap siswa baru akan menjadi satu alat 'pembersih dan pencuci bathin' bagi jiwa gurunya atau dosennya,sebab apa...? Karena pada saat ketika mengajar mahasiswa baru dengan segala ilmu dan seni yang belum mereka ketahui, pada saat itu juga si siswa baru mengajarkan kepada dosen akan kepolosan, keikhlasan, kejujuran dan tanpa topeng kemunafikan. Hal ini penting untuk para pendidik, sebagai sarana pencucian mata hati jiwa, KARENA DOSEN ADALAH ARSITEK JIWA MANUSIA.

Mana yang akan anda pilih,sebuah buket kembang atau sebungkus benih? Mungkin kebanyakan diantara kita memilih buketnya. Tetapi jika anda seorang pendidik, anda menyadari keterbatasan keterbatasan dari bunga-bunga potongan, betapapun indahnya mereka, dan kemungkinan besar anda akan memilih meluangkan waktu untuk mengumpulkan, memilih dan menanam benih tersebut. Bisa saja seorang Abraham Lincoln

Pada kesempatan berdiskusi dan saling bertukar pengalaman, dan rangkuman pengalaman mengajar , dan kiat-kiat mengajar. Diperoleh hasil rumusan mengenai kriteria mental sosok seorang pengajar yang ideal diluar persyaratan gelar yang juga merupakan suatu keharusan , tetapi rumusan ini lebih condong pada kebutuhan pertimbangan etik .
disambut dengan guyuran bunga andaikata ia menyerah pada tuntutan para colonial, tetapi ia memilih menanam biji kemerdekaan bagi tiap orang dan dengan demikian ia menjadi pemimpin terbesar sepanjang zaman.
  1. DOSEN YANG PANDAI MENGAJAR
    adalah ; manusia yang mempunyai keyakinan mengajar dan percaya penuh kepada kemampuannya untuk mendidik, (bukan ditentukan pintar atau tidaknya otak pikiran seseorang, karena pintar adalah kalimat penyataan relatif didunia ini), sedangkan Dosen yang tidak baik akan terlalu banyak membuat larangan untuk anak - didiknya.
  2. DOSEN YANG BIJAK
    adalah manusia dosen yang harus dapat menemukan perbedaan setiap insan mahasiswanya, karena setiap orang berbeda, sehingga perlu bagi dosen untuk peka dan menemukan perbedaan-perbedaan dan keunikan setiap pribadi, lalu memimpin mereka untuk menggali keistimewaan dan keunggulan masing-masing keunikan mereka.
    Kenapa...? Karena dosen yang bijak bukan hendak membangun perumahan perumahan BTN yang seragam, dosen adalah ARSITEK setiap individu yang membangun dengan cara dan disain yang berbeda-beda.
  3. DOSEN YANG AGUNG
    adalah; manusia yang tidak bisa mengubah pembawaan dan kecenderungan temperamen seorang mahasiswa, namun dosen harus peka untuk melihat arah, dengan demikian dosen akan berjalan didepan mahasiswanya sebagai penuntun jalan. Pepatah mengatakan "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari"
  4. DOSEN YANG MULIA
    adalah; Manusia yang yang dapat menciptakan 'kehausan' pada diri mahasiswanya, karena sifat dasar manusia adalah keingintahuan yang besar. Dan kala 'Kehausan' ini ada didalam jiwa mahasiswanya maka timbul ambisi untuk belajar dan inilah KEKUATAN PENDIDIKAN.
  5. DOSEN YANG TERPERCAYA
    adalah; Manusia yang melakukan kontak pribadi dengan pribadi, janganlah dosen hanya mengontak mahasiswa/i dengan hanya berpegang pada peraturan kampus atau dengan pengajaran dan kurikulum kampus, hendaklah dilakukan kontak jiwa kejiwa, hati kehati, pikiran ke pikiran dan emosi ke emosi, maka dosen akan tampil dengan pribadi yang dihormati dan dikagumi oleh mahasiswanya. Otomatis aktivitas pendidikan akan menjadi hidup dan tidak merupakan aktivitas statis.
Seorang sahabat pernah berkata;
"Keanekaragaman manusia dengan berbagai jenis disiplin ilmu membuat sudut pandang lebih objektif, dan sketsa 'kehidupan' ilmu pendidikan semakin bisa dicerna oleh setiap insan manusia.


Sumber : UBB

Sunday, September 19, 2010

Ketika Dosen Harus Berperan

Mahasiswa adalah icon-icon perubahan zaman yang sangat berperan dalam menentukan perubahan itu sendiri. Dengan segala kelebihan yang mereka miliki, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan kontribusi yang nyata di negeri ini. Mereka adalah aset masa depan yang sangat berharga. Bahkan bisa dikatakan sebagai investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya.Tidak semua mahasiswa bisa dikatakan demikian. Hanya mereka yang secara terpilihlah yang bisa meyandang predikat itu. 

Saya katakan demikian karena memang kenyataannya seperti itu. Ada beribu mahasiswa di negeri ini. Dari ujung barat kepulauan Indonesia hingga ujung timur. Dari Perguruan Tinggi yang ada di Aceh hingga yang ada di Papua sana. Apakah semuanya bisa diandalkan untuk merubah kondisi negeri yang semrawut ini menjadi negeri yang aman, damai, nan sentosa? Yang jelas jangan hanya tersenyum simpul menyaksikan fenomena ini. Ada banyak hal yang bisa kita kaji dari sini.

Salah satunya, kondisi kampus. Ini berperan banyak dalam pembentukan pola pikir mahasiswa. Kondisi pengajar, staf dan karyawan, fasilitas kampus yang ada, dan tata aturan yang berlaku di kampus tersebut akan mendorong  bagaimana mahasiswa akan bertidak mensikapi fenomena masyarakat yang terjadi saat itu. Contoh saja, mahasiswa yang menapaki bangku kuliah pada kampus yang sudah maju, memiliki akreditasi yang tinggi, para pengajar yang profesional dan aktif memberikan motivasi pada didikannya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memadai dan saling berkompetensi, juga fasilitas lain yang benar-benar mendukung keberlangsungan segala aktifitas di kampus  tentunya akan mempermudah mahasiswa dalam berpikir kritis karena disamping sudah berakar dari keinginan diri juga mendapat semacam amunisi dari lingkungan pendidikannya. Berbeda sekali dengan mahasiswa yang menapaki bangku kuliah pada kampus yang memiliki akreditasi rendah, staf pengajar yang biasa-biasa saja, UKM yang hanya memiliki struktur kepengurusan namun nihil akan kegiatan nyata, juga fasilitas yang tidak memadai, maka mahasiswa tersebut akan sangat kurang peduli dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Bisa jadi ia tidak sadar bahwa negerinya kini tengah dilanda berbagai bencana, kondisi ekonomi yang mengecam rakyat, juga fenomena-fenomena lain yang sejatinya menjadi tugas dan kewajibannya untuk merubah kondisi tersebut. Memang, semuanya akan tergantung pada diri masing-masing. Tetapi sungguh ini akan memberikan pengaruh yang besar bagi mahasiswa.

Saya pikir, motivasi dari para dosen lah yang sangat berperan di lingkungan kampus. Mereka yang secara langsung maupun tidak langsung  bisa memberikan sumbangsih mereka dalam mengembangkan idealisme yang tertanam. Kalaupun idealisme itu belum tertanam, maka bisa menjadi suatu kemungkinan yang besar bahwa merekalah yang akan menanamkannya. Saya sebenarnya sangat mendambakan para dosen yang selalu mau memberikan motivasi pada mahasiswa untuk terus maju, meningkatkan kualitas diri, dan serta merta memberikan kontribusi nyata di negeri ini. Minimal mereka bisa meluangkan beberapa menit mereka sebelum atau sesudah mengajar untuk memberikan motivasi itu. Akan lebih baik jika saat mereka melakukan transfer ilmu kepada para mahasiswa, semua pengaplikasiannya merujuk pada sebuah relita bahwa saat ini bangsa kita Indonesia membutuhkan para pemimpin yang benar-benar bisa memimpin bangsa ini, bukan membutuhkan para pemimpi. Para pemimpi disini maksud saya adalah seorang yang larut pada keinginan- keinginan semata tanpa sebuah kerja nyata, juga sebuah mimpi yang nantinya hanya memberikan kepuasan diri semata, meninggikan egoisme pribadi tanpa memikirkan bagaimana nasib seluruh masyarakat di negeri ini.

Saya rasa ini tidak sulit bagi dosen. Setidaknya, disamping kewajiban mereka sebagai staf pengajar telah selesai akan ada poin tersendiri layaknya sebuah bonus sebagai ladang amal untuk membantu membangun bangsa ini. Ketika input-input motivasi yang rutin diberikan itu, bisa dikatakan sebagai fase awal yang kontinyu. Tapi mungkin agaknya saya harus kecewa. Jangankan memberikan motivasi, kadang saya menemui dosen yang seolah tidak sepenuhnya memberikan mata kuliah. Pembahasannya terlalu mepet dan sebatas berlalu-lala berputar kesana-kemari. Mungkin beberapa dosen bertujuan mengajarkan mahasiswa agar mereka berkembang mencari segala yang kurang dijelaskannya. Tapi bukan itu maksud saya. Saya justru sangat mendukung jika mereka berlaku demikian. Yang saya sayangkan kadang tidak ada komunukasi yang inten mengenai cara yang mereka lakukan padahal dalam komunikasi tersebutlah ada celah-celah yang bisa dimasuki untuk menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mengarungi perjalanan perkuliahannya yang akan memberi dampak yang besar. Kemudian mungkin yang menjadi kendala yang lain, para dosen sering korupsi waktu. Sering mereka keenakan melihat mayoritas mahasiswa yang kegirangan saat perkuliahan dituntaskan lebih awal. Dan, itu berarti mereka tidak memperhatikan minoritas mahasiswa yang ada?

Mungkin itulah yang masih perlu kita bangun bersama. Sebuah niatan yang suci menuju sisi moralitas yang handal. Ketika mahasiswa dengan segala idealismenya untuk menghantarkan negeri ini menuju kesejahteraan yang hakiki namun terbentur dengan realita segi moralitas yang kian merosot, maka tidak menutup kemungkinan idealisme yang terbangun itu akan sedikit  demi sedikit melemah, merosot, berhamburan seperti buih di lautan yang tida berguna. Tentunya jika mahasiswa tidak mengimbanginya dengan aktifitas lain yang mampu mnguatkannya idealismenya itu.

Bagi saya, dosen bisa dijadikan sebagai cerminan. Ketika saya melakukan sesuatu yang menurut saya benar, kemudian saya melihat dosen saya juga berlaku demikian, maka hal tersebut biasanya akan semakin memperkuat intuisi yang ada di jiwa saya. Saya akan lebih meningkatkan apa yang saya lakukan karena seolah mendapatkan "teman" dalam jengkal langkah ini. Ketika ada sesuatu yang saya lakukan namun di saat yang bersamaan saya menyaksikan sebuah pemandangan yang bertolak belakang dengan apa yang saya lakukan, dan itu dilakukan oleh dosen saya maka akan mengajak otak saya untuk berpikir ulang apakah yang saya lakukan itu sudah betul atau belum. Jika memang terbukti saya benar, maka saya akan bertahan dan jika terbukti saya salah maka saya akan berusaha memperbaiki hal tersebut. Itu hanya contoh kecil dari saya, dan saya percaya banyak mahasiswa yang menganggap dosen sebagai sebuah cerminan. Itulah salah satu alasan mengapa penting sekali peran dosen dalam membangun idealisme mahasiswa.

Ada sebuah kondisi yang memaksa diri mahasiswa tidak berkembang. Mahasiswa ditutut untuk stagnan dengan situasi yang terjadi. Selain kondisi kampus, juga kaitannya dengan aktifitas lain yang digeluti mahasiswa di luar jam pekuliahan. Apa yang mereka lakukan saat waktu luang, bagaimana mereka memanfaatkannya agar waktu yang ada tidak berpredikat sebagai sebuah kesia-siaan. Mungkin, untuk mereka yang sudah terbiasa bekerja di luar jam kuliah itu sudah menjadi agenda rutin yang tak bisa diganggu. Namun bagi mareka yang hanya terobsesi pada kuliah? Saya rasa ini juga terjadi banyak perbedaan. Sekarang kita bandingkan mahasiswa yang aktif, baik di kampus maupun di luar kampus, dengan mahasiswa yang "study oriented". Mahasiswa yang memiliki aktifitas lain selain kuliah, akan mendapatkan pelajaran tambahan berupa softskill yang secara langsung mereka aplikasikan dan tidak mereka dapatkan pada bangku kuliah. Kita tahu sendiri bukan, bahwa tidak ada materi-materi lain yang diajarkan selain materi kuliah yang kadang sebagian besar mahasiswa menganggapnya sebagai hal yang amat membosankan. Di sinilah perannya. Bukan sekedar pengisi waktu luang saja, akan tetapi lebih menuju kepada peningkatan kualitas diri menggapai sebuah cita-cita dan arahan hidup yang jelas. Kita tengok mereka yang hanya diam. Berangakt kuliah, pulang ke tempat kos atau ke rumah mereka, atau mungkin berbelok arah dulu sebelum pulang untuk nongkrong di mall-mall atau di kafe-kafe. Mereka seolah-olah tidak merasakan perjuangan hidup yang nyata. Sungguh hedonis!

Berbahagialah mahasiswa yang sangat mengerti urgensi waktu dalam kehidupan ini. Ia tahu betul apa yang bisa ia lakukan untuk memberi manfaat kapada masyarakat. Dan kembali lagi saya ingin menegaskan bahwa peran dosenpun dalam hal ini amatlah diperlukan.

Kepada para dosen, saya sangat berharap beliau-beliau itu bisa memberikan kontribusi dalam membangun idealisme  mahasiswa, agar investasi-investasi masa depan itu tidak punah dari kemiskinan berpikir, agar perkembangan di negeri ini benar-benar dinamis, bukan sebuah kestatisan yang dipelihara berlama-lama, dan yang tak kalah penting yaitu mereka sekaligus bisa menjadi teladan bagi mahasiswa yang mereka ajar.

Wahai pak dosen, bu dosen, dengarkanlah suara hati dari seorang mahasiswa yang ingin maju ini. Percayalah! Seandainya kalian bersedia berperan, maka tidak ada lagi kesia-siaan. Sekali lagi, meski semuanya akan kembali kepada diri mahasiswa, peran kalian sungguh amat diperlukan. Selamat berjuang! 

Sumber :
Isnaeni Dwikurniawati

Saturday, September 18, 2010

Rendah, Budaya Menulis Dosen di Indonesia

Budaya menulis sebenarnya bukan dominasi penulis saiapapun bahkan orang yang tidak sekolahpun memiliki kemampuan untuk itu. Tapi dosen adalah makhluk yang punya kapasitas untuk mengembangkan semua pemikirannya melalui tulisan selain mentransfer ilmunya pada mahasiswa.
Budaya menulis kalangan dosen di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan dosen di luar negeri. Dari 1.200 dosen yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya sekitar 400 orang atau 30% yang mempunyai kemampuan menulis. Hal itu diungkapkan Kepala ITB Press, Prof. Ir. Amrinsyah Nasution, M.S.C.E., Ph.D. dalam seminar pembukaan �Academic Book Fair� di Aula Barat ITB, Jln. Ganesha Bandung, Selasa (6/1).
Dikatakan Amrinsyah, salah satu kelemahan budaya menulis kalangan dosen di Indonesia, yakni para dosen Indonesia kurang memiliki kemampuan dalam menuangkan buah pikiran melalui sarana pendidikan. �Hingga saat ini, budaya itu masih melekat di kalangan dosen kita,� ujarnya.
Hambatan lain yang menyebabkan kalangan dosen enggan menulis, tambahnya, karena tidak punya banyak waktu dan imbalan menulis yang masih relatif kecil. Karena itu, lanjutnya, pihaknya akan meminta kepada pemerintah untuk menyediakan dana bagi para penulis dari kalangan dosen. �Padahal, kalangan dosen dengan kemampuan dan dasar keilmuan yang dimiliki bisa menulis buku berkualitas bagi masyarakat maupun siswa dan mahasiswa,� ujarnya.
Amrinsyah menyayangkan, kegiatan atau kebiasaan menulis tidak menjadi bagian kegiatan dosen di perguruan tinggi. Sementara di luar negeri, katanya, kegiatan menulis sudah menjadi bagian dosen dalam kegiatannya sehari-hari. �Kebanyakan buku ajar atau buku teks untuk para mahasiswa merupakan karya tulis para dosen,� katanya.
Oleh karena itu, ungkap Amrinsyah, para dosen di Indonesia tidak bisa atau tidak mampu menulis. �Padahal banyak yang bisa ditulis untuk menunjang kariernya ketika menjadi dosen,� tambahnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jabar, Anwaruddin, kepada wartawan meminta pemerintah untuk meninjau kembali keputusan membeli hak ciptapenerbitan buku pelajaran. Menurutnya, apa yang telah dilakukan pemerintah itu telah merugikan kalangan penerbit. �Kami sudah meminta kepada pemerintah berkali-kali agar keputusan itu ditinjau kembali. Namun, hingga kini belum mendapat tanggapan,� ujarnya.
Selain itu, sekalipun sudah menjadi kebijakan, Anwaruddin meminta kepada pemerintah untuk melakukan kompromi dengan kalangan penerbit. Pasalnya, tambahnya, para penerbit selain mencari keuntungan, juga mempunyai tanggung jawab terhadap isi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. �Namun, apa yang dilakukan pemerintah bukannya melindungi para penerbit yang telah turut serta mencerdaskan bangsa, tetapi malah menindas dengan kebijakannya, � paparnya.
Dampak dari kebijakan pemerintah itu, ujarnya, banyak penerbit yang mengalihkan penerbitannya pada buku agama. Diprediksi pada tahun 2009, prospek buku agama akan jauh lebih berkembang dari buku-buku lainnya. �Mereka (penerbit) banyak banting setir ke buku agama, namun ada pula yang mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari 180 penerbit di Jabar, baru satu penerbit melakukan PHK terhadap 500 karyawannya Januari ini,� ungkap Anwarddin. (B.81)** (9 Januari 2009)
Sumber tulisan:
http://aa-dosen.blogspot.com/

Tahun 2012 semua dosen yang belum S-2 akan dihabisi

Saat rapat dosen terdengar tahun 2012 semua dosen yang belum S-2 akan dihabisi. Kata-kata yang keras sempat mendapat kritikan keras juga dari rekan kerja lainnya. Artinya tak seorangpun dosen yang masih pendidikan S-1 lagi setelah tahun 2014. 

Tapi itulah keniscayaan dengan berasumsi guru SD saja harus sarjana (S-1). Berdasarkan Undang-Undang No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, sejak 2006 sekitar 1,75 juta guru yang belum memperoleh S1/D4 harus meraih derajat tersebut dalam waktu sepuluh tahun. Kemudian, kata Mendiknas, sekitar 150.000 dosen yang belum S2 atau S3 harus meraihnya dalam waktu sepuluh tahun.

Tapi masalahnya lain, bukan masalah kuliah S-2 itu sulit tapi pendidikan pasca sarjana ini terasa berat bagi dosen swasta yang non-PNS tanpa ada beasiswa, oleh karena   perhatian khusus dari pemerintah terhadap dosen swasta ini masih minim bahkan kopertis mensyaratkan harus dosen tetap, tetapi betapa sulitnya untuk "Dosen Tetap" atau celoteh rekan-rekan sejawat "Masih tetap dosen" sudah lumayan. Bahkan masih banyak institusi pendidikan tinggi yang belum berani mengangkat sebagai dsoen tetap walau pengabdian puluhan tahun, boro-boro sertifikasi, boro-boro penelitian, upah minimum saja masih kalah dengan SDIT.

Ada beberapa faktor mengapa kemudian masih ada dosen yang berpendidikan S1 antara lain ada dosen yang sudah lanjut usianya yang kalaupun kuliah kembali sebentar lagi akan pensiun. Ada juga dosen  prodi�prodi yang sangat jarang staff pengajarnya yang berpendidikan hingga S2, dan ketiga ada beberapa dosen yang malas kembali untuk kuliah karena belum ada biaya. 

Peluang beasiswa.
Ada beberapa info beasiswa tahun 2011 bagi dosen persiapkan diri anda untuk pengembangan potensi dan diri anda. Karena tahun depan ada banyak peluang untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah� asyiiik kan.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) pada tahun 2011 menyiapkan dana sebesar Rp2 triliun yang dialokasikan untuk beasiswa dosen jenjang S3 dalam dan luar negeri.

Kemdiknas berharap dengan uang triliunan itu, maka akan ada5.000 dosen yang menempuh pendidikan S3 melalui beasiswa dalam danluar negeri, ujar Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas JokoSantoso, usai menandatangani nota kesepahaman dengan Korean International Cooperation Agency (Koica) tentang kerjasama penanganan limbah industri pengolahan kelapa sawit dan produksi bio energy dan bio fertilizer di Gedung Kemdiknas Jakarta, Selasa(31/8).

Menurut Joko, pada 2010 ini sudah ada sekitar 4.000 dosen yangdisekolahkan. Dengan rincian 2.500 belajar di perguruan tinggidalam negeri dan 1.500 dosen menempuh pendidikan di luar negeri.Kami akan meningkatkan beasiswa dosen ke luar negeri pada tahundepan, ujarnya.

Selain itu pemberian beasiswa S3 bagi para dosen, kementerianjuga akan memberikan dana untuk membuat penelitian senilai Rp 400 miliar lebih.

Walaupun jumlah penerima beasiswa ke luar negeri sedang digenjot, ada kendala bahasa dimana banyak calon yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Padahal, ini adalah syarat mutlak, sebab calon penerima beasiswa harus melalui tes kualifikasi akademik.

Terkait negara penempatan, Joko mengatakan akan dipilih yang sudah lebih maju dari pada Indonesia, seperti Australia danSingapura. Kemdiknas sudah menjalin kerjasama dengan lembaga dan perguruan tinggi, sehingga para calon penerima beasiswa tinggal datang saja ke Kemdiknas jika sudah ada lampu hijau dari universitas yang dipilih sang calon. (Berbagai sumber)


Friday, September 17, 2010

Mengapa harus meneliti?

Menilik dari kegiatan itu sendiri yang bertemakan penelitian, maka penelitian dalam artian yang sebenarnya adalah suatu hal yang sangat penting, terutama dengan status kita sebagai dosen. Dengan kata lain, penelitian merupakan salah satu sendi atau ruh dalam suatu institusi bernama perguruan tinggi. Dapat kita bayangkan jika tubuh tanpa ruh, maka dengan sendirinya tubuh kita akan mati.

Penelitian, dari kata dasar teliti dan meneliti sebagai kata kerjanya, diartikan sebagai proses penelitian yang dilandasi oleh pemikiran ilmiah (didasari konsep ilmiah, teori, ataupun paradigma ilmiah) untuk menemukan kebenaran ilmiah (menemukan konsep maupun teori baru) (Prof. DR. Daniel Saputra). Atau mungkin lebih sederhananya, penelitian merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk menemukan, mencari dan mengeksplorasi suatu fenomena secara ilmiah. Namun, yang pasti bahwa obejek penelitian apapun itu adalah menarik dan memang pantas untuk diteliti.

Setiap orang bisa saja meneliti. Namun tidak semua orang mampu meneliti dengan baik dan benar (valid and reliable). Bahkan, bagi seseorang yang telah memiliki pengalaman penelitian yang banyak masih sering mengalami kesalahan. Bisa dibayangkan bagi kita yang masih kurang atau bahkan tidak memiliki pengalaman penelitian sama sekali. Tentunya kesalahan-kesalahan dalam membuat kerangka berpikir ilmiah untuk ditorehkan dalam penelitian merupakan hal yang wajar.

Penelitian bukan sekedar menuliskan kalimat positif tentang apa yang menjadi masalah dan menarik untuk diteliti. Kemudian membuat kerangka teoritik yang banyak dan menjabarkannya dalam suatu metode tertentu. Namun lebih penting dari suatu penelitian adalah bagaimana kita mampu merangkai penelitian dalam suatu logika yang berkesinambungan, mulai dari perencanaan, pembahasan topik, penguasaan masalah hingga ketepatan dalam menentukan metode apa yang digunakan. Ini merupakan langkah awal untuk kemudian menjadikan penelitian kita nantinya mampu dipertanggungjawabkan dan bermanfaat.

Problematika besar yang dihadapi peneliti-peneliti muda kita saat ini adalah kesulitan dalam mengkerangkai logika penelitian dengan benar. Seringkali permasalahan yang diteliti, dikaji dengan teori dan metodologi yang tidak tepat. Belum lagi mengenai penguasaannya terhadap masalah yang hendak diteliti. Sehingga, yang timbul kemudian adalah kecenderungan untuk membuat rencana penelitian seadanya.

Kecenderungan ini ditambah lagi dengan dengan kurangnya ketertarikan pada bidang penelitian maka, praktis penelitian tidak menjadi prioritas. Padahal, bagi seorang akademisi, penelitian adalah fardhu áin (kewajiban yang harus dilakukan). Tanpa pernah melakukan penelitian, bukan hanya jenjang akademiknya yang tidak akan bergerak naik, namun dalam keadaan yang buruk, kompetensinya dalam dunia akademik bisa diragukan kompetensinya. Jika demikian, apakah seorang dosen layak dikatakan seorang dosen jika suatu fenomena yang menarik tidak membuatnya tertarik untuk mengkaji lebih lanjut.


Penelitian Sebagai Momentum Refleksi

Coba bayangkan anda sedang berdiri di depan cermin, maka anda akan melihat bayangan anda apa adanya. Penelitian sebetulnya merupakan sebuah momentum untuk mengetahui seberapa besarkah kompetensi kita dalam suatu displin ilmu tertentu dan seberapa besar penguasaaan kita pada ilmu tersebut. Dengan melakukan penelitian, maka kita akan tahu dimana letak kelebihan dan kekurangan kita.

Seorang peneliti yang sedang meneliti berarti dirinya sedang merefleksikan dan mengekspresikan keingintahuannya terhadap sesuatu. Timbul kepuasaan ketika seorang peneliti dapat menyelesaikan penelitiannya dengan baik. Terlebih penelitiannya tersebut dapat langsung bermanfaat bagi orang banyak. Selain itu, ketika sedang meneliti, berarti seorang peneliti sedang merefleksikan hasratnya dan segenap pengetahuan yang dimilikinya agar masalah yang ditelitinya dapat dterpecahkan.

Karena itu, seorang peneliti yang baik, cara berpikirnya selalu skeptis" artinya selalu menanyakan dan memikirkan bukti ilmiah yang ada, analitis" selalu berpikir runut dan sistematis serta terstruktur, dan kritis. Ketika ada fenomena dan menunjukkan terdapat permasalahan yang mesti dicari pemecahannya, maka seorang peneliti dituntut untuk mengembangkan logika berpikirnya secara holistik dan ilmiah.

Ketentuan lain yang mesti dimiliki oleh seorang peneliti adalah fokusnya terhadap pemecahan masalah. Artinya, seorang peneliti betul-betul menguasai apa yang menjadi permasalahan dan apa yang perlu untuk dilakukan guna mencari pemecahannya (kompeten). Selain itu, sifat yang perlu dimiliki oleh seorang peneliti adalah kejujurannya dalam mengungkapkan fakta-fakta yang ada dan dalam mengkaji masalah yang sedang ditelitinya.

Lebih jauh, seorang peneliti juga harus objektif dalam melaksanakan penelitian. Suatu kebenaran yang dicari dari sebuah penelitian akan didapat dari seberapa objektifkah kita dalam melakukan penelitian. Berpikir terbuka terhadap segala kemungkinan yang muncul dalam penelitian merupakan ketentuan lain yang mesti ada dalam diri peneliti. Dengan demikian, peneliti nantinya mampu menelaah dan memberikan penyelesaian jawaban terbaik.

Seorang peneliti juga adalah seorang pembelajar. Artinya, dirinya tidak hanya puas dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga tidak ada keinginan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan. Dinamika penelitian selalu berkembang. Karena itu, seorang peneliti harus selalu belajar dan belajar agar pengetahuan dan komptensinya tetap terjaga.
 
SUMBER: UBB

Thursday, September 9, 2010

Beginilah Akal Bulus Malaysia "Merayu" Dosen-Dosen Terbaik Kita

Keharusan menginduk pada dosen Malaysia membuat peneliti Indonesia hanya menjadi orang nomor dua atau peneliti pendamping.
-- Leonardo Gunawan

Dengan berbagai cara yang dilakukannya, Malaysia terus mengincar para dosen dan peneliti Indonesia yang menguasai ilmu-ilmu dasar dan rekayasa untuk mau bekerja di Malaysia. Selain menawari dosen-dosen di program studi di perguruan tinggi Indonesia untuk mengajar dan meneliti di Malaysia, model tawaran lain yang kerap digunakan Malaysia untuk mendapatkan dosen-dosen Indonesia adalah dengan dengan menawarkan kerja sama riset.

Keharusan menginduk pada dosen Malaysia membuat peneliti Indonesia hanya menjadi orang nomor dua atau peneliti pendamping.
-- Leonardo Gunawan

Kepala Pusat Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Syahril mengatakan, Malaysia sangat aktif dalam menawarkan kerja sama riset dalam multidisiplin ilmu. Para peneliti Batan juga banyak yang menjadi pembimbing mahasiswa atau dosen Malaysia yang ingin memperdalam seputar nuklir.

�Malaysia memang menyiapkan basis kapasitas iptek dosen dan mahasiswanya cukup tinggi. Indonesia memang lebih dulu membangun infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia iptek, tetapi kini terbatas dananya,� katanya.

Karena itulah, dosen-dosen ilmu-ilmu dasar dan rekayasa banyak diminati, seperti Matematika, Fisika, Kimia, Teknik Nuklir, Aeronautika dan Astronautika, Teknik Mesin, dan Teknik Material. Dengan ilmu-ilmu itu, Syahril yakin Malaysia memiliki rencana yang jelas untuk mengembangkan industri strategis mereka.

Malaysia saat ini sudah berencana mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada tahun 2021. Mereka banyak belajar dari ahli-ahli nuklir Indonesia walaupun tidak pernah menyebutkan secara pasti bahwa tujuan mereka belajar ke Batan untuk mendirikan PLTN.

Menurut Leonardo yang menolak tawaran bekerja ke Malaysia, gaji dan fasilitas yang diberikan Malaysia memang lebih baik dibandingkan dengan di Indonesia. Namun, dalam apresiasi keilmuan, para peneliti dan dosen Indonesia harus menginduk pada dosen Malaysia. Kondisi tersebut membuat peneliti Indonesia hanya bisa menjadi �orang nomor dua� atau peneliti pendamping.

�Kalau di Indonesia, peneliti bisa bebas walau harus berebut dana penelitian yang peluangnya terbatas. Menjadi dosen dan peneliti di Indonesia dituntut memiliki kemampuan survival tinggi,� katanya.Kini, peluang untuk bekerja dan meneliti di Indonesia juga sudah terbuka. Lulusan Aeronautika tidak semata-mata bekerja di PT Dirgantara Indonesia, tetapi banyak juga yang bekerja di sejumlah maskapai penerbangan.

Walaupun dengan gaji dan fasilitas memadai, Hakim yang pernah bekerja meneliti di Jepang menilai bahwa apa yang diberikan Malaysia tidak terlalu istimewa. Negara-negara lain, seperti Jepang, juga memberikan gaji dan fasilitas yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan Malaysia.

Sumber : Kompas.com


Prof Firmanzah PhD, Dekan FE UI, Guru Besar UI termuda

Prof Firmanzah,SE,MM, PhD, agaknya beliau sangat layak dijadikan contoh bagi kita semua. Di usianya yang masih belia (beliau lahir 7 Juli 1976), beliau kini menjadi Dekan FE UI dan kini menjadi Guru Besar UI termuda sepanjang sejarah berdirinya UI hingga kini.

Meski terbilang muda, pria ini sudah mendulang banyak pujian dari kalangan intelektual atas prestasinya. Ia adalah Prof Firmanzah PhD, dekan termuda yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar termuda UI.

Pada pengukuhannya sebagai guru besar tetap dalam bidang ilmu manajemen strategis, Rabu (18/8) kemarin, di Balai Sidang Universitas Indonesia, Kampus UI-Depok, Firmanzah menyampaikan pidato berjudul �Coordination-Capability dan Daya Saing Nasional: Peran Boundary-Spanner dalam Perspektif Struktural-Interaksionisme.�

Dalam pidatonya, Ia menekankan pentingnya penataan hubungan kelembagaan, baik di lembaga tingkat nasional, daerah, maupun industri. Menurut Firmanzah, pekerjaan ini merupakan tugas kolektif dari setiap elemen bangsa Indonesia. Karena pengalaman sejumlah negara seperti Finlandia, Singapura, China, Jepang, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa pembangunan daya saing nasional selalu dimulai dari perbaikan dan intesifikasi koordinasi kelembagaan.

�Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berperan sebagai boundary-spanner untuk berinteraksi dengan yang lain dalam membangun keterkaitan, komunikasi, dan kerja sama kelembagaan. Hanya dengan ini, daya saing Indonesia dapat ditingkatkan melalui penggabungan semua sumber daya dan keunggulan nasional,� kata pria kelahiran 7 Juli 1976 tersebut.

Firmanzah adalah Dekan FEUI sejak 2009 dan merupakan dekan termuda dalam sejarah UI. Saat lulus SMA, Ia memilih Fakultas Ekonomi UI dan lulus dalam waktu 3,5 tahun. Ia pun sempat menjajal dunia asuransi sebagai analis pasar, sebelum memutuskan kembali ke bangku kuliah, setahun kemudian. Pria yang akrab dipanggil Fiz tersebut mengambil program S-2 di bidang yang sama dan menyelesaikannya dalam tempo dua tahun.

Melanjutkan studi di Universitas Lille di Prancis, merupakan momen titik balik Fiz mengenal dunia yang lebih luas. Ia mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari universtas tersebut. �Ketika mendapatkan beasiswa ke Prancis, itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri dan kali pertama pula naik pesawat,� kenangnya.

Fiz juga sekaligus menjalani studinya pada tingkat doktoral dalam bidang manajemen internasional dan strategis di Universitas Pau and Pays De l�Adour, dan selesai pada 2005. Karena lulus tercepat di angkatannya, Fiz lantas mendapatkan beasiswa program doktoral dalam bidang manajemen strategis internasional dari University of Pau et Pays de l� Adour dan meraih PhD pada 2005.

Ia pun sempat mengajar setahun di almamaternya, sebelum dipanggil pulang oleh dekan FE UI saat itu, Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro untuk mengajar di UI. �Padahal, tiga hari sebelumnya, saya baru saja mendapat tawaran menjadi dosen tetap dengan gaji tinggi dan fasilitas lengkap,� ujarnya.

Fiz menilai, menetap di Prancis akan menjadikannya dosen terbang di berbagai negara di dunia, antara lain Maroko dan Inggris. Fasilitas perpustakaan yang lengkap merupakan surga baginya.

Mendapati bahwa kehidupan di Prancis akan terlalu mudah baginya, Ia pun memilih kembali ke Indonesia. �Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini dan itu akan lebih berarti, karena hidup ternyata tidak hanya mencari kenyamanan,� ujar suami Ratna Indraswari ini sambil tersenyum.

Tiga tahun berikutnya, yakni ketika berusia 32 tahun, Fiz terpilih sebagai Dekan ke-14 FE UI periode 2009-2013 yang tercatat sebagai dekan termuda dalam sejarah UI. Pria pelahap buku-buku filsafat yang mengidolakan filsuf dari Jerman, Schopenhauer itu, mengalahkan sejumlah kandidat kuat, seperti Prof Sidharta Utama PhD CFA dan Arindra A Zainal Ph.D.

Bahkan sebelum masuk tiga besar kandidat, ia harus bersaing dengan calon yang jam terbangnya sudah tinggi, seperti Dr Nining Soesilo (kakak kandung mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati), Dr Chaerul Djakman dan Dr Syaiful Choeryanto.

Firmanzah menghabiskan masa kecil hingga SMA di Surabaya. Ibunya, Kusweni, adalah seorang buta huruf yang bercerai ketika usianya dua tahun. Namun, Fiz kecil yang saat itu bercita-cita menjadi astronot, tidak lantas minder.

Anak ke-8 dari 9 bersaudara ini justru mempelajari semangat juang tinggi dari sang ibu. Selain intisari hidup terkait dengan kesetiaan, persahabatan dan kasih sayang.

Hal inilah yang membuat pengagum teori Tsun Zu ini memiliki falsafah hidup, bahwa rasa kemanusiaan adalah naluri yang paling kuat untuk memenangkan pertarungan dalam hidup. Baginya, pertarungan itu bisa terjadi di mana saja, dan yang membedakan antara yang menang dan yang kalah adalah strategi.

Dalam mendidik anak-anaknya, ibunya pun tak menerapkan manajemen belajar yang ketat dan disiplin. Ia diajarkan untuk lebih management by output, bukan management by process.

�Ibu bilang, mau belajar kayak apa, terserah. Yang penting, nilainya bagus,� ujarnya. Itulah yang membuatnya bisa membaca buku di sela-sela main gundu. Sedari belia pun, Fiz mengaku sudah mengetahui visinya, yakni menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. [mdr]

Sumber: Inilah.com