Latest News

Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts

Saturday, November 20, 2010

PILIHAN SULIT

Silahkan pilih orang yang terpenting dalam sepanjang hidupmu. Disaat menuju jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa dan mahasiswinya: �Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.�
 
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.
 
DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan tulis. Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh mahasiswi tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.
 
DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting ! Mahasiswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.
 
DOSEN: Silahkan coret satu lagi! Kemudian mahasiswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.
 
DOSEN: Silahkan coret satu lagi ! Mahasiswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.
 
Sampai pada akhirnya di atas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya. Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua
 
Mahasiswa dan mahasiswi tertuju memandang ke arah dosen, dalam pikiran mereka (para mahasiswa atau mahasiswi) mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh mahasiswi itu. Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata, �Silahkan coret satu lagi!�
 
Dengan pelahan-lahan mahasiswi itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.
 
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
 
Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. Lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu, terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.
 
Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya, �Orang terkasihmu bukannya Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk dipisahkan?
Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.
 
Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata, �Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.�

SEBENARNYA, KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI, JIKA DIKUPAS SESIUNG DEMI SESIUNG, ADA KALANYA KITA DAPAT DIBUAT MENANGIS

=================================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 285-287. ISBN 978-6028-686-938.

Wednesday, November 17, 2010

"Kebohongan Seorang Ibu"

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar"

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"

KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, aku tidak penat"

KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"

KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"

KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya ada duit"

KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : "Aku tak biasa tinggal negara orang"

KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan"

KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu..!" Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi... Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

KISAH TUKANG AIR DAN TEMPAYAN

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya.

Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang Dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, Karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sunggh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.""Kenapa?" Tanya si tukang air."Kenapa kamu merasa malu?""Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi." Kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya.

Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

SUMBER : REPUBLIKA

APA SALAHNYA MENANGIS ?

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.


Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.


Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis).

Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur�an, ketika sampai pada ayat: �Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam� (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. �Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur�an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: �Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur�an dan kenabian Muhammad)�. (QS. Al Maidah: 83).

Ja�far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, �Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka�. (QS. An Nisa�: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur�an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. �Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan�. (QS At Taubah: 82).

Jadi apa salahnya menangis?.

sumber : eramuslim

IKHLAS TAK HARUS BERALASAN

Terik siang Cikarang saat syaum  sangat menggoda kekhusuan bulan puasa, ditambah beberapa masalah yang hadir tanpa diundang, saat liburan kampus yang cukup lama membuatku tidak semangat, hanya sekedar menulis dan menulis, termasuk pekerjaan yang biasanya kusuka. Plus setelah hampir satu bulan Setelah bebas dari suatu posisi yang aku katakan musibah selama setahun. jadi pemimpin sebuah musibah, Walau diawali dengan bismillah, hati ini belum bisa tenang untuk memutuskan tidak melanjutkan posisi puncak seorang guru, penuh ujian dan fitnah.

AKU berangkat dengan setengah hati. Tak boleh memang, merenung  tapi itulah yang sedang kulakukan saat perjalanan cikrang-bekasi kota. Tiba-tiba lamunanku dipaksa berhenti, lampu merah Bulak kapal  itu telah mengundang seorang pengamen mendekati mobil yang kutumpangi. Setengah dongkol ku kibaskan tangan dan tampangku mungkin kusut sekali. Waria itu pergi bersungut-sungut, mungkin sambil memaki karena kulihat bibirnya bergerak tak bersahabat. Begitu juga aku "Uh, pemalas banget sih.. ga punya rasa syukur sama sekali, ngemis pula lagi!" Kata-kata itu mengalir dalam hati tanpa bisa ku rem sama sekali.

Di persimpangan berikutnya, kembali aku terhalang oleh lampu merah. Hatiku masih belum bisa kompromi walau telah banyak doa yang kulantunkan. Hingga akhirnya, ada seorang yang kembali mengamen dengan bau lem Aibon yang menyengat dan tubuhnya kurus,  Kembali aku dibuat gerah.

Dengan gerakan yang sama seperti kepada waria tadi, kuisyaratkan untuk tidak meneruskan, tapi dia tak peduli. "Ah, biar saja... toh aku ga nyuruh kok!" Hatiku membatin. Ketika dia minta aku untuk membayar atas jasanya, aku pura-pura tidak mendengar. "Toh, aku ga minta kok". Dia pergi tanpa ekpresi.

Lagi, di persimpangan berikutnya .. lampu merah lagi ! Kali ini, dari kejauhan aku melihat dua anak berusia sekitar dua belas tahun menggendong seorang bayi sedang mengemis.

Entah kenapa, hatiku sangat yakin anak dalam gendongan itu bukan bayi mereka atau adik-adik mereka. Betapa teganya orang memperdagangkan anak di bawah umur. Kaca mobil ku turunkan perlahan, ingin mengamati dengan seksama kedua anak tadi. Ada rasa kesian bercampur kesal. Ah, apakah memang sulit sekali untuk hidup? Tiba-tiba sebuah alunan harmonika membuatku tersentak dari lamunan, renungan .. dan semua bisikan hati.

Seorang laik-laki kurus, berbaju kumal sedang mengesekan suara biolanya. Tak sadar aku terhanyut.. masalahku seakan melayang bersama alunan biolanya. Walaupun gitu, sepeser uang yang diharapkannya tak kunjung ku beri .. karena dari tadi, aku masih mempersoalkan cara mereka mencari nafkah.

Penolakanku dan penumpang lainnya  dijawabnya dengan senyum sembari berkata "Semoga Allah memudahkan semua urusan Ibu dan bapak". Suara itu terdengar begitu tulus.. Ketika tanganku berusaha merogoh uang di kantong dia telah berlalu seiring lampu hijau yang menyala. Tetes air mata tiba-tiba meleleh .. Aku menyesal. "Haruskah keikhlasan dibatasi oleh banyak alasan ?" Uang itu masih ku genggam di tangan.Kita memang banyak pertimbangan kalau ingin sodaqoh, padahal justru uang tak seberapa itulah yang akan menyelamatkan kita dari azab neraka.

Andai aku bisa kembali dan memberikannya, tapi saat itu tidak mungkin karena jalan yang kulalui satu jalur. Senyum dan doa itu begitu tulus.. Hatiku perih, betapa egoisnya aku, hanya memikirkan masalah yang kuhadadapi. Bagaimana dia ? Mungkin bibirnya sudah penat dari tadi menggesekan biolanya ditambah rasa haus di terik siang, tapi bibir itu masih lentur digerakkan untuk tersenyum.

Mungkin putera-puterinya sedang menunggu uang yang dikumpulkannya untuk membayar SPP atau mungkin bayinya sedang haus kehabisan susu. Ah..... Sementara aku, masih bisa berleha-leha dan tertidur di elf. Betapa tidak bersyukurnya aku.

Doanya mungkin diijabah, masalahku seakan terselesaikan begitu saja. "Ya Rabb, ampuni hamba-Mu. Beri aku kesempatan untuk jadi seorang pecinta, seperti cinta yang Kau tebarkan pada seluruh makhluk-Mu."

"Ikhlas itu mencakup dua hal, yaitu menyertakan niat dan membebaskannya dari berbagai noda" (Dr. Yusuf Qhardawy)' ..Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." (Q.S Shad [38] : 82-83). Ikhlas tidak dibatasi oleh alasan, karena ikhlas hanya bertujuan untuk mencari keridhaan Allah semata. Semoga aku bisa.

MAAFKANLAH..!!!

Pada hakikatnya, manusia terlahir sebagai makhluk pribadi dan sosial. Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial, manusia harus berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi ini tentunya tidak selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan. Karena friksi tujuan dan harapan, seringkali menimbulkan riak-riak kecil yang kadangkala berubah menjadi ombak besar sehingga bisa memperkeruh suasana hati dan sulit dijernihkan lagi seperti sediakala.

"Aku memaafkanmu". Ini teramat mudah diucapkan di ujung bibir, namun sangat susah dikukuhkan dalam hati. Sulit sekali memaafkan orang yang telah menzalimi kita. Bahkan kadang-kadang kita malah ingin melihat orang itu merasakan hal yang sama. Astaghfirullah, apakah kita pernah seperti itu? Jika pernah, sekali-kali jangan pernah terulangi lagi dan jangan pula mendoakan hal yang buruk padanya. Goresan luka memang meninggalkan bekas, akan tetapi bukankah sakitnya cuma sebentar? Apa keuntungan yang kita peroleh dengan mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu?

Adalah Ali bin Abi Thalib r.a. yang gagah berani, sepupu Rasulullah SAW yang tangguh bagai singa dalam peperangan ini ternyata memiliki hati yang lembut dan sangat pemaaf. Ketika Abdurrahman bin Muljam -yang menyebabkan kepalanya luka parah dan akhirnya menghantarkannya ke ajal- berhasil ditangkap dan dihadapkan kepadanya, Ali melihat dendam dan kebencian di mata Hasan dan Husain r.a., kedua putranya serta karib kerabatnya. Tahukah kita apa yang diucapkannya saat itu,

"Perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya. Hormati martabatnya sebagai manusia. Kalau aku masih hidup, maka akulah yang lebih berhak atasnya. Apakah akan menuntut qishash atau memaafkannya. Dan kalau aku mati, maka biarkanlah ia menemaniku, untuk kuhadapi di hadapan pengadilan Rabbul 'Alamin. Janganlah kalian membunuh selainnya karena menuntut balas atas kematianku. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Sekarang marilah kita kenang hari pembebasan Makkah. Setelah kaum kafir Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah, tidak ada alasan lagi untuk menahan Rasulullah dan pasukan Muslimin menduduki Makkah. Penduduk Mekkah kala itu dirundung ketakutan yang teramat sangat mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah. Bukankah mereka yang selama ini menganggapnya orang gila dan telah menghasut orang-orang untuk memusuhinya? Bukankah mereka yang mengejeknya, melempari dengan batu dan kotoran unta? Bukankah mereka yang telah memboikot dia dan keluarganya, Bani Hasyim yang dianggap membangkang dari agama leluhur? Bukankah mereka pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya? Dan bukankah mereka juga yang telah mengusirnya dari kota kelahirannya ini? Mereka pernah menggempurnya habis-habisan dalam berbagai peperangan. Dan di antara mereka juga ada dalang pembunuhan dan penganiayaan keji atas pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Rasanya tak ada lagi alasan untuk membela diri. Sekarang, nyawa mereka terletak pada keputusan dan wewenang Muhammad SAW putra Abdullah atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap dan siap meluluhlantakkan Makkah. Mari kita dengar keputusan itu,

"Pergilah kamu sekalian! Kamu sekarang sudah bebas!"

Dibebaskan? Bukan itu saja! Rasulullah juga melarang keras pasukannya berbuat semena-mena terhadap penduduk Makkah walaupun di antara mereka ada yang menyimpan rasa sakit hati terhadap perlakuan orang Makkah dahulu.

Subhanallah! Betapa mudahnya orang-orang ini membuka pintu maaf. Ali bukanlah malaikat. Rasulullah, walaupun diberi beberapa keistimewaan oleh Allah SWT pada dasarnya tetap manusia biasa. Seperti kita, mereka juga punya amarah. Betapa mudah sebetulnya Ali menyuruh Hasan atau Husain r.a. untuk mendera Ibnu Muljam dengan derita. Toh, Ibnu Muljam juga mengaku ingin menghabisinya. Melihat kebencian yang membara di mata anak-anak dan teman-temannya, suami Fathimah r.a. ini sudah membayangkan bagaimana nasib Ibnu Muljam seandainya dia meninggal nanti. Maka timbullah keinginan untuk melindungi pembunuhnya itu dari qishash yang bisa saja berlebihan dan menyimpang dari ajaran agama Islam.

Dan renungkanlah, ahli sejarah mencatat, hari pembebasan Makkah adalah kemenangan besar yang diraih kaum muslimin yang sedikit sekali menelan korban jiwa dan kerugian. Kenapa bisa demikian padahal kita tahu bahwa orang-orang Mekkah itu yang paling bersemangat memusuhinya? Bahkan Hindun binti 'Uthbah, istri Abu Sufyan yang menjadi arsitek pembunuhan Hamzah juga dibiarkan hidup begitu saja. Peristiwa pada Hari Pembebasan Makkah hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti pemaafnya. Beliau memang tidak mengenal permusuhan dan selalu bersikap sabar atas perlakuan musuh. Tapi itu tidak berarti lari dan berdiam diri jika diserang oleh kaum kafir. Allah memperbolehkan perang asalkan di jalan Allah dan tidak melampaui batas. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah memulai peperangan dan tidak pernah menyerang musuh sebelum diserang terlebih dahulu. Beliau juga tidak pernah membunuh orang yang sudah menyerah kalah.

Kita tentu pernah membaca cerita tentang guru sekolah yang menyuruh murid-muridnya membawa kentang sebanyak orang yang mereka benci. Selama seminggu, kentang-kentang itu harus dibawa ke manapun mereka pergi, bahkan juga ke toilet. Hari berganti hari kentang-kentang pun mulai membusuk. Murid-murid mulai mengeluh, selain berat, baunya juga tidak sedap. Pada hari ke-7, murid-murid tersebut merasa lega karena penderitaan mereka bisa berakhir.

Suasana hati kita bisa dianalogikan dengan cerita kentang di atas. Jika hati tidak dibersihkan dari kebencian, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan tentram dan selalu merasa ada beban yang menghimpit. Air susu memang tidak boleh dibalas dengan air tuba. Air tuba pun jangan sampai dibalas dengan air tuba, akan lebih baik dibalas dengan air susu. Betapa indahnya hidup ini tanpa ada perasaan dendam dan benci yang menyelinap di dalam hati.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari satu kesalahan pun. Jika kita disakiti, anggaplah itu sebagai ujian kesabaran dari Allah yang akan mengangkat kita ke derajat yang lebih tinggi. Terimalah permintaan maaf itu dengan keikhlasan yang bermuara pada Allah semata. Allah Maha Adil pada ciptaan-Nya dan tentu membalas semua perbuatan baik kita dengan balasan yang setimpal. Bukankah kita menginginkan ridha-Nya sebagai balasan itu? Adakah yang lebih membahagiakan dibandingkan memperoleh ridha Allah?

"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40)

Teman, apakah kita masih membawa 'kentang busuk' hari ini? Lebih baik dibuang saja.

Maafkanlah...

Allahu a'lam bish-showab.

Sunday, October 24, 2010

IMPIAN SEORANG MAHASISWI

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.

Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. "Maukah kamu memelukku?" Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!".

Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat. "Mengapa kamu ada di kampuspada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. "Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya." "Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."

"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.(Doa Inggris Kuno)