Latest News

Showing posts with label Kasus Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Kasus Pendidikan. Show all posts

Wednesday, November 17, 2010

Warisan Budaya Tak Benda


HARI ini, 18 November 2010, di Kenya,udara sejuk yang turun dari perkebunan kopi di tepi Kota Nairobi akan Anda rasakan di Indonesia. Hari inilah sidang di Kantor UNESCO akan mengambil putusan resmi bahwa angklung adalah budaya tak benda warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Ia disebut sebagai The intangibles cultural heritage of humanity. Kita perlu mengingatkan kembali para pemimpin bahwa kata intangibles sering tidak dipahami. Sekali lagi,pengakuan ini adalah soal intangibles,bukan tangibles-nya itu sendiri. Tangibles itubisaberupabenda, alat musik yang bernama angklung, atau baju dan kain bernama batik,atau sejenis senjata yang kita kenal dengan keris.Yang terlihat itu adalah yang mudah dipahami, sesuatu yang tangible.

Adapun intangibles adalah apa yang membawa atau mengantarkan sesuatu yang terlihat itu.Ini penting dipahami karena berawal dari paham atau tidaknya para pejabat terhadap makna intangibles akan terlihat ke mana anggaran dialirkan dan menentukan mati hidupnya suatu budaya.

Bukan Koleksi
Orang-orang kaya baru hanya akan mewariskan tangible asset pada anak cucunya. Sawah,tanah,gedung, mobil, perhiasan, dan sebagainya adalah tangible. Ia terlihat, berwujud, dan dapat diperdagangkan. Demikian juga dengan benda-benda koleksi seperti kain batik, keris,alat-alat musik,lukisan, dan barang-barang antik lainnya. Orang-orang yang menaruh perhatian pada hal-hal seperti itu biasanya hanya tertarik pada kekayaan fisik: harta.Harap maklum tak ada harta tangible yang dapat memberikan kemakmuran pada keturunan. Hanya orang bodoh saja yang menaruh perhatian pada warisan bendawi seperti ini.Orangorang yang mampu melihat jauh ke depan memberikan warisan yang jauh lebih bertenaga, yaitu pendidikan, keterampilan, kesenian, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan baik,reputasi,dan seterusnya. Warisan ini tak berbentuk benda. Ia tak dapat dilihat kasatmata karena melekat pada manusia dan tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap. Ia ada dalam memori otot (myelin), memori otak, dan dalam kesatuan hidup manusia. Mampu atau tidaknya ia menghasilkan kesejahteraan akan sangat tergantung pada para penerus untuk mengembangkannya.Maka, meski angklung dan musik dari bambu mengakar kuat dalam budaya Sunda,hanya sedikit orang yang mampu mengembangkannya. 

Angklung yang konon dulu dipakai untuk mengundang Dewi Sri menjaga kesuburan sawah di tanah Sunda juga pernah dikenal sebagai alat pemacu semangat dalam pertempuran. Di Bandung,kalau Anda sedang berlibur,mampirlah ke Saung Angklung Mang Ujo. Setelah keluar dari pintu tol Pasteur,Anda tinggal lurus menembus jembatan layang Pasopati, maka nanti Anda akan menemukan petunjuk jalan ke kiri di sekitar Cicaheum,itulah cara menuju saung yang dilengkapi penginapan dan pusat pertunjukan. Setiap sore ratusan seniman angklung menghibur tamu dengan musik yang pasti membuat Anda terasa berbeda. 

Seniman-seniman cilik, sudah ikut bermain sejak usia limaenam tahun.Angklung adalah alat pendidikan motorik yang merangsang keseimbangan otak manusia. Tetapi saya ingin kembali mengingatkan bahwa warisan intangibles adalah warisan yang sangat mahal. Sama seperti warisan budaya origami yang sampai sekarang terus dipakai di sekolah-sekolah di Jepang, yang tanpa disadari telah membentuk tangan orang-orang Jepang terampil dalam hal-hal kecil dan detail. Saya sangat percaya inilah yang membentuk keahlian para engineer Jepang dalam bidang automotif, bahkan seni merangkai bunga, membuat tanaman bonsai, sampai memotong ikan buntel yang beracun menjadi sashimi yang nikmat. 

Seorang teman yang masa kecilnya sempat mengikuti orang tuanya bertugas di Jepang dan mengecap pendidikan di sana berujar, �Saya tak bisa melihat selembar kertas menganggur. Ia (kertas itu) bisa berubah menjadi apa saja.� Sekarang dia menjadi dokter bedah kosmetik yang terkenal dan dia mengakui kedokterannya bukan semata-mata diperoleh dari jalur pengetahuan belaka (brain-memory), melainkan juga aliran seni dan detailyang tertanam di memori tangan (myelin) dan pikirannya.Inilah intangibles. 

Sekarang pikirkanlah apa jadinya bila para pejabat dan politisi kita tidak mengerti makna intangibles. Mereka hanya berkampanye untuk menikmati aspek tangibles dari intangibles itu. Mereka hanya memakai baju batik sepanjang hari, mengajak Anda menikmati musik angklung, terlibat dalam pameran-pameran benda-benda purbakala (keris) dan seterusnya. Intangibles jalur untuk membangunnya bukan semata-mata koleksi pameran dan konsumsi. Intangibles dibangun melalui jalur myelin,yaitu latihan.Penghargaan dan pengakuan dari lembaga dunia seperti UNESCO adalah sekadar fakta pemicu untuk menghidupkan kembali tradisi membatik, membuat angklung, dan membuat keris. Soal promosi dan pameran adalah soal pasar.Tetapi apalah artinya pasar bila pasokan di hulunya mati. Ibarat sungai yang dialiri air yang bening,ia butuh mata air yang terus mengalir. Intangibles itu tak kelihatan,ada pada mata air itu. 

Pembinaan di Hulu 
Jadi spirit pengakuan UNESCO adalah spirit menghidupkan kembali mata air. Ia harus terus mengalir karena habitatnya dipelihara. Bagaimana caranya? Kita tentu perlu menghidupkan simpul-simpul yang mengantar masyarakat terbiasa bermain angklung, membatik, atau membuat keris seperti anak-anak di Bali belajar musik dan tarian pada ribuan sanggar atau banjarbanjar di dekat rumah mereka. Angklung dan batik jelas harus kembali dihidupkan di kampungkampung di Jawa Barat dan dijadikan alat musik wajib di berbagai sekolah dasar di seluruh Indonesia.Bukankah di masa kecil Anda dulu juga bermain angklung di sekolah? 

Sekarang ini anak-anak kita telah lebih mengenal alat-alat musik modern bertenaga listrik yang melahirkan kemampuan berteriak dan berbahasa tubuh metal dengan wajah yang garang,mungkin karena itulah life skills anak-anak kita mulai kehilangan aura kehalusan dan budi bahasa yang membentuk karakter mereka. Bagi saya, angklung tetap memikat. Di Rumah Perubahan kami sudah biasa menggunakan angklung bersama putra-putri almarhum Mang Ujo untuk menghidupkan otak kanan para pemimpin. Setelah dianalisis oleh ahli syaraf kami, barulah para peserta menyadari pentingnya fondasi berpikir untuk membangun bangsa ini. 

Angklung mampu membuat Anda riang dan melahirkan wajah yang tulus. Jadi kalau mengerti mengapa negeri ini memperoleh pengakuan angklung sebagai warisan tak benda, anggarkanlah biaya-biaya pendidikan pada aspek intangibles itu sendiri. Dengan menghidupkannya, warisan budaya ini akan terus hidup, bahkan berkembang lebih baik lagi menyambut denyut nadi pasar. Mengapa saya perlu mengingatkan hal ini? Saya sudah sering berkeliling dan diingatkan oleh para pengusaha berbasiskan intangibles tentang hilangnya atau berkurangnya jumlah tenaga pembatik dan pembuat angklung. 

Sementara itu, mohon maaf,Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, serta para kepala dinas pemerintah provinsi dan kabupaten hanya punya program pameran atau promosi ke luar negeri. Berapa bujet untuk menghidupkan kembali intangibles rakyat? Kalau dibilang ada, bisa saja.Tetapi pengamatan saya proporsinya tidak proporsional. Jadi birokrasi kita hobinya jalanjalan saja.Kalau sudah begitu,apa artinya pengakuan UNESCO? Sekali lagi, intangibles tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap. Tetapi ia bisa hilang dalam sekejap kalau Anda asyik bicara dan jalanjalan saja.(*) 

*)  RHENALD KASALI , Ketua Program MM UI

Friday, October 22, 2010

Sekali Lagi, Sekularisme dalam Pendidikan Nasional

Kurikulum pendidikan nasional tak menganggap nilai keimanan sebagi suatu pendukung bagi peningkatan mutu pendidikan

Oleh: Rifqi Akbar*

BEBERAPA waktu yang lalu di pagi hari saya sedang menonton acara talkshow berita pada salah satu stasiun TV swasta. Pada saat itu sedang membahas wacana tentang tes keperawanan bagi siswi baru yang akan masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pada mulanya wacana itu tercetus dari salah satu anggota DPRD Jambi, menurut beliau hal tersebut penting karena fenomena pergaulan bebas yang terjadi pada anak sekolah saat ini sudah sangat meresahkan sehingga wacana tersebut diharapkan dapat meminimalisir jumlah pelaku dari pergaulan bebas pada anak sekolah.

Tentu wacana tersebut sangat mengagetkan dan terdengar sangat ekstrim jika benar direalisasikan. Seperti yang telah terduga wacana tersebut mendapat berbagai kecaman dari berbagai pihak baik dari masyarakat yang ditanyakan mengenai hal ini maupun dari narasumber yang hadir saat itu, ada yang mengatakan cara tersebut tidak tepat karena masalah keperawanan adalah hak privasi dari seseorang, sekolah tidak berhak mencampurinya.

Lalu ada lagi yang memberikan pernyataan tidak setujunya dengan alasan hal itu merupakan sesuatu yang privat dan untuk zaman sekarang masalah itu (keperawanan) sudah tidak penting lagi, lebih baik kita mengurusi masalah narkoba yang dampaknya lebih luas.

Lebih jauh,  pendapat dari seorang pengamat pendidikan yang diundang dalam talkshow tersebut mengatakan tidak pas kalau kita menggunakan tes keperawanan itu sebagai syarat untuk masuk SMA karena hal itu (keperawanan) merupakan sesuatu yang privat. Menurutnya, mendapatkan pendidikan merupakan hak asasi sehingga kalau hal itu dilakukan sama saja sekolah melanggar hak asasi seseorang.

Masih pendapat beliau bahwa kalau kita menggunakan cara itu berarti sama saja kita membuka aib dari para birokrat pendidikan kalau mereka telah gagal dalam mendidik siswanya dan tes tersebut tidak ada pengaruhnya untuk  mutu pendidikan.

Kalau kita lihat, seperti inilah cara pola pikir dari masyarakat Indonesia saat ini. Tampaknya sudah tidak ada tempat lagi bagi agama dalam melihat suatu masalah. Banyak kalangan, saat ini lebih suka menggunakan bendera HAM demi untuk menafikan agama. Bahkan, untuk mementingkan segala hal, hanya menggunakan dalil HAM daripada menggunakan dalil agama dan al-Quran.

Pemikiran yang seperti ini lah yang menjadi buah hasil dari paham sekularisme yang dikampanyekan oleh Barat.

Sekularisme dalam UU Sisdiknas

Sudah banyak ditulis di media ini, istilah sekularisme tidak bisa dipisahkan dengan Hervey Cox, teolog dan juga sekaligus sosiolog dari Harvard University.

Mungkin karena dialah yang berhasil mencetuskan pengertian istilah ini melalui buku terkenalnya �The Secular City�, Harvey menjelaskan bahwa dunia ini tidak lebih rendah dari dunia agamis sehingga kita perlu penduniawian hal-hal yang bersifat duniawi, dengan demikian menurut Tiar Anwar Bachtiar hal ini merupakan sebgai proses kejatuhan dari agama.

Lebih parah lagi ternyata proses ini telah merasuk kedalam sistem pendidikan kita.

Dalam Undang-undang Sisdiknas yang diluncurkan pada tahun 2003 lalu dalam Bab prinsip penyelenggaraan pendidikan pasal 4 disebutkan bahwa:

Pertama, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

Kedua, pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna

Ketiga, pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat

Keempat, pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran

Kelima, pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat

Kelima, pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan

Jika kita telaah dengan seksama mengenai prinsip penyelenggaraan pendidikan ini, sungguh sangat terlihat bahwa undang-undang pendidikan kita memang telah dirasuki oleh paham ini, dari ayat pertama dalam bab ini, poin pertama yang harus dijunjung tinggi adalah hak asasi seseorang sehingga dalam pandangan pejabat negeri ini hak asasi itu lah yang paling utama diatas dari prinsip agama, nilai-nilai agama tidak boleh berbenturan dengan nilai-nilai hak asasi manusia.

Lebih lanjut lagi dalam bab tersebut dapat dilihat bahwa adanya ketidak seimbangan yang diajarkan dalam sistem pendidikan indonesia, kita lebih dicekoki dengan hal-hal yang sifatnya lebih kepada perkembangan tingkat intelektualitas dan mengesampingkan tingkat keimanan, nilai keagamaan yang hanya muncul dalam satu kata dari sekian poin itu seperti hanya menjadi korban dari sebuah kompromi politik.

Mereka menganggap nilai keimanan bukanlah suatu pendukung bagi peningkatan mutu pendidikan, biarlah semakin meluasnya pergaulan bebas asal intelektualitas mereka tetap terjaga dengan demikian mutu pendidikan yang tolak ukurnya dengan angka-angka diatas secarik kertas tetap terpelihara.

Dari fenomena yang terjadi saat ini, negara ini sepertinya sudah memasuki suatu proses kehancuran iman yang merupakan suatu kehancuran paling terbesar bagi umat manusia seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW � Apabila perzinahan dan sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka� (HR Thabrani dan al-hakim).

Dengan demikian, mari kita sama-sama untuk menanamkan prinsip-prinsip agama dalam diri kita dan berlindunglah dalam Islam dari setiap permasalahan dunia karena Islam merupakan agama yang sempurna dan komprehensif bagi seluruh tantangan zaman. Sesuai janji Allah SWT bahwa �Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu� (QS Al-Maidah:3). Wallahu A�lam.

*)  Penulis adalah master candidate in Islamic Banking and Finance, Kulliyah of Economics, University College of Bahrain

Kriminalitas Facebook, Salah Siapa?

Oleh: Arzil Muhammad*
 

Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orangtuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi Lagi-lagi jejaring sosial Facebook bikin ulah, sebut saja namanya DV, anak umu 13 tahun ini siswi kelas delapan SMPN  Jawa Barat hilang entah kemana. DV yang hilang sejak 05 oktober lalu sampai saat ini belum pulang, dan berdasarkan info yang disampaikan temannya dV pergi karena ada janjian dengan teman yang ia kenal lewat jejaring social Facebook.

Isak tangis kedua orangtua DV dan harapan mereka agar dV segera kembali pulang. Selain itu, pihak SMPN juga mengadakan doa setiap harinya, agar dv selamat dan segera pulang kerumah orangtuanya.(liputan6.com)

Kisah kehilangan DV, bukan baru pertama kali terjadi di tanah air kita. Akhir-akhir ini tidak sedikit kita melihat di media-media masa, berita tentang kriminalitas yang terjadi karena dampak Facebook.

Dampak dari pertumbuhan teknologi yang tak bisa dibendung lagi, sehingga menyebabkan berbagai lapisan masyarakat mengenali berbagai media jejearing sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Friendster dan lain-lain.

Sebut saja Facebook, jejaring sosial satu ini sering kali dianggap mudah dimanfaatkan untuk kriminalitas. Mulai dari pencurian anak-anak hingga sampai kasus pemerkosaan yang disebabkan oleh perkenalan dunia maya.

Gaya hidup online rupanya sudah menjadi bagian remaja. Bahkan tak jarang di jam sekolahpun banyak anak-anak masih online. Kalau begini ceritanya, di mana peran orangtua dalam kehidupan anak? Apakah peran orangtua masih diperlukan?
Karena itu, jangan kaget jika ada berita orangtua kehilangan anak gadisnya, hilangnya keperawanan atau hubungan bebas akibat mudahnya seseorang mengenal lawan jenis.

Nasi telah menjadi bubur, kalau sudah begini siapa yang akan disalahkan? Kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan siapa yang disalahkan? Anak kah? atau kedua orangtuanya? Atau kita menyalahkan teknologinya, sepeti Facebook?

Madrasah

�Rumah adalah madrasah (sekolah) utama bagi anak,� demikian ulama mengatakan.  Justru kedua orangtuanya adalah guru pertama bagi anak-anak mereka. Apa yang mereka peroleh di rumah, maka itu yang akan tercermin di kehidupan anak ketika bergaul di luar rumah.

Jauh-jauh Nabi Muhammad telah menjelaskan, �Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orangtuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menggambarkan, bahwa dalam keadaan anak belum mengenal sosok teman atau lingkungan sekitarnya, pertama ia kenal orangtuanya, mau jadi apa anaknya kelak, orangtualah dasar dari pembentukan karakter itu.

Ada beberapa penyebab terpuruknya akhlak anak-anak muda jaman sekarang:

Pertama, sifat control yang minim dari orangtua.
Membiarkan anak menikmati masa-masa muda nya.Karena kesibukan urusan kantor atau kesibukan lainnya, sehingga anak dimanja dengan memberikan semua fasilitas dunia tanpa adanya kontrol dari orangtua.

Terkadang rasa sayang kepada anak menyebabkan  orangtua memanjakan  anak sehingga takut menegur apa yang dilakukan sang anak, dan membiarkan kehendaknya tanpa membatasi. Walau terkadang, perbuatan si anak telah melanggar norma-norma agama.

 �Biarlah, kan udah dewasa,� kalimat ini sering diucapkan kedua orangtua, seolah member legitimasi bolehnya mereka melakukan sesuatu meski melanggak agama.

Kedua, minimnya pengetahuan agama
Agama adalah petunjuk bagi umat untuk menuju kehidupan yang abadi, dengan agama maka prilaku dan gaya kehidupan sehari-hari seorang insan berjalan diatas rambu-rambu yang telah ditentukan.

Solusi tangguh yang harus dilakukan kedua orangtua adalah menghidupkan suasana agamis di dalam rumah, mulai dari ibadah, terutama  mengajarkan shalat kepada anak sejak dini.

Rasulullah saw bersabdam, �Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka.�

Memberikan pendidikan agama kepada anak sejak dini --terutama memasukkan anak kesekolah-sekolah agama�adalah bagian dari cara orangtua menyelematkan anak-anak mereka.

Jika orangtua tak mengingkan anaknya sekolah di pesantren atau sekolah agama, mereka harus bisa meyakinkan  akan mampu mendidik anak-anak mereka tentang dasar-dasar agama yang kuat agar kelak di kemudian hari ia tak menyesali yang akan terjadi.

Sebab mengajarkan agama merupakan kewajiban kedua orangtua, sehingga anak tumbuh besar dalam lingkungan keluarga dan akhlak islami.

Ketiga, teman bergaul yang tak mendukung
�Berteman dengan tukang minyak wangi, maka sedikit banyaknya akan terbau wanginya. Dan berteman dengan tukang besi, sedikit banyaknya akan kena percikan-percikan apinya.�

Orangtua sering tak bertanya, dengan siapa anaknya bergaul.  Bagi anak, teman adalah tokoh terbesar yang bisa mempengaruhi akhlaknya, bahkan peran seorang teman bisa menggeser posisi kedua orangtuanya.

Dalam Islam sangat dianjurkan untuk mencari teman yang berkepribadian baik. Tak salah lah penyanyi Opick menganjurkan untuk berteman dengan orang-orang sholeh untuk mengobati hati dalam lagunya  �Tombo Ati�. Ia mengatakan, berkumpul dengan orng sholeh bagian dari obat hati sehingga terbentuk lah anak yang berkarakter muhsiniin (orang baik).

Dengan dipanjatkan doa kepada Allah, semoga anak tercinta menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada agama, orangtua, nusa dan bangsa, sehingga menjadi qurrotu a`yun bagi masyarakat sekelilingnya. Waallahua`lam bishowab.
 
*)Penulis adalah Mahasiswa tingkat II Universitas Al Azhar Mesir

Sunday, September 19, 2010

Pendidikan Perempuan Kurangi Kematian Anak

PENINGKATAN pendidikan formal untuk perempuan usia subur membantu jutaan anak bertahan hidup setiap tahunnya. Menurut penelitian terbaru, antara tahun 1970 sampai 2009, rata-rata waktu yang dihabiskan perempuan berusia di atas 25 tahun untuk mengenyam pendidikan formal naik hingga dua kali lipat.

Di negara berkembang, pendidikan perempuan bahkan naik hingga tiga kali lipat. Dalam periode yang sama, tingkat kematian balita turun dari 16 juta menjadi 7,8 juta per tahun. Menurut para peneliti, angka itu berkurang jauh 51% karena pendidikan perempuan.

"Penelitian ini menunjukkan, dengan memfokuskan pada pendidikan, kita juga bisa meningkatkan perbaikan kesehatan," tulis peneliti, Emmanuela Gakidou dari Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington, dalam siaran persnya.

Hasil analisis data berbagai negara menunjukkan waktu yang dihabiskan seorang pria berusia di atas 25 tahun untuk bersekolah naik dari 4,7 tahun menjadi 8,3 tahun. Adapun untuk perempuan, naik dari 3,5 tahun menjadi 7,1 tahun. Di negara berkembang, perempuan usia subur (15-44 tahun), lama waktu bersekolah naik dari 2,2 tahun menjadi 7,2 tahun.

Penelitian itu dipublikasikan di edisi spesial The Lancet minggu ini. (*/HealthDay News/Yahoo/X-4)).

Sumber : http://www.mediaindonesia.com